Bagian 4
Sudah lebih dari satu tahun smenjak aku mulai bermain SAO, tetapi ini adalah pertama kalinya HP bar-ku memasuki zona merah.
Setelah poligon dari target yang terkalahkan itu pecah, dia hanya meninggalkan sebuah kantong. Tidak ada satupun restoration crystal yang tersisa dalam inventory-ku, aku tidak pernah berada sedekat ini dengan kematian sebelumnya. Walaupun aku selamat, tidak ada kegembiraan ataupun ketenangan di dalam hatiku. Sebaliknya, aku merasakan sebuah emosi yang lebih dekat dengan kekecewaan. Mengapa aku selamat?
Sementara aku menyarungkan pedangku kembali, kantong itu bercahaya dan kemudian menghilang. Semua item yang dijatuhkan oleh target seharusnya masuk ke dalam inventory-ku. Menarik napas dalam, aku menaikkan tanganku yang gemetaran dan memanggil inventory window.
Inventory window itu memiliki banyak tabel yang akan membuat jengkel kebanyakan pemain. Senjata dan pelindung, Perhiasan/Ore, Kristal, dan bahkan Bahan makanan, aku mencari di dalam window yang dipenuhi dengan tabel item untuk mencari sebuah item.
Beberapa detik kemudian, item yang aku cari memasuki lapangan pandangku.
Item itu dinamakan «Divine Stone of Returning Soul».
Jantungku mulai berdetak sangat kencang, hal ini terasa seakan-akan darah baru mulai mengalir ke dalam bagian dari hatiku yang telah mati rasa selama beberapa hari terakhir - beberapa bulan terakhir.
Da... Dapatkah aku menghidupkan Sachi kembali? Bila hal ini dapat dilakukan, tidakkah ini berarti bahwa, Keita, Tetsuo, dan jiwa dari setiap pemain yang telah kehilangan nyawa mereka di dalam SAO semenjak permulaan belum di hancurkan...?
Ini mungkin adalah satu-satunya kesempatanku untuk bertemu Sachi kembali. Hanya memikirkan hal itu membuat jantungku berhenti berdetak sesaat. Tidak peduli kutukan atau sumpah serapah macam apa yang mungkin dilemparkan kepadaku atau konsekuensi apapun yang mungkin terjadi karena semua kebohonganku, kali ini aku akan memeluknya dengan erat dengan kedua lenganku dan melihat kepada sepasang mata berwarna kehitaman itu dan mengatakan kata-kata yang ada di lubuk hatiku. Aku sebenarnya tidak berkata bahwa kamu tidak akan pernah mati, tetapi mengenai akulah yang akan melindungimu. Untuk memenuhi janji itu, aku akan bekerja jeras untuk membuat diriku menjadi lebih kuat.
Setelah beberapa usaha gagal untuk memilih batu yang ada di window itu karena tanganku yang gemetaran, aku akhirnya berhasil mematerialisasikan «Divine Stone of Returning Soul» itu. Mengambang di atas inventory window adalah sebuah batu permata seukuran telur yang begitu indahnya sehingga tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
"Sachi.......Sachi....."
Memanggil namanya, aku menyentuh batu permata itu, lalu memilih help menu yang ada pada window, penjelasan singkat muncul di atas panel dengan model cetakan huruf yang kukenal.
[Item ini dapat digunakan melalui shortcut menu dari pemain atau memegang item yang telah dimaterialisasikan dan berteriak «Revive .. (Nama Pemain)», efeknya hanya bekerja dan menghidupkan kembali pemain dalam kerangka waktu antara kematian dari pemain hingga menghilangnya efek cahaya item. (kurang lebih 10 detik)]
Kurang lebih 10 detik.
Ucapan ini yang sepertinya ditambahkan secara sengaja, dengan jelas dan kejam mengumumkan bahwa Sachi tidak akan pernah dapat dihidupkan kembali.
Kurang lebih 10 detik. Ini adalah waktu antara ketika HP seorang pemain jatuh menjadi nol, dan tubuhnya terpecah menjadi berbagai poligon, hingga Nerve Gear mengirimkan sinyal elektronik untuk memanggang otak pemainnya di dunia nyata. Aku tidak dapat menahan diriku untuk membayangkan apa yang pasti dirasakan oleh Sachi selama jeda waktu 10 detik yang pendek itu, dari tubuhnya yang menghilang hingga Nerve Gear memanggang otak dari pemiliknya. Hal itu pasti sangat menyakitkan baginya. DI dalam jeda waktu 10 detik ini, apa yang dia pikirkan? Aku berulang-ulang mengutuk diriku sendiri.....
"Ugg..Ahhhhhh. Ahhhhhhhhhhhhhhhh..."
Aku mengeluarkan sebuah teriakan yang seperti binatang.
Menggenggam Divine Stone of Returning Soul yang mengambang di atas inventory tab itu, aku melemparkannya dengan sekuat tenagaku ke tanah yang bersalju itu.
"Ahh... Ahhhhhhhhhhhhhhhhhh!"
Aku menginjak-injak kristal itu dengan penuh kemarahan dengan sepatuku sementara berteriak. Akan tetapi, kristal itu terus bersinar dengan mantap tanpa terpengaruh oleh penginjakan ini, bahkan tidak ada satu goresan pun, terlebih lagi retakan apapun pada kristal itu. Aku berteriak dengan sekuat tenagaku, menyekopkan kedua tanganku ke tanah dan menggunakan jemariku aku menggenggam salju yang terkumpul itu, pada akhirnya aku terus meneruskan teriakkanku sementara aku berguling di salju.
Tidak ada artinya, semuanya tidak ada artinya. Tidak peduli bila Sachi meninggal sementara dia sedang ketakutan dan kesakitan, atau diriku menantang target spesial pada masa Natal, TIDAK, hidup di dunia ini atau fakta bahwa 10,000 pemain terperangkap disini benar-benar tidak mempunyai arti. Aku akhirnya menyadarinya sekarang, ini adalah satu-satunya kebenaran yang ada disini.
Aku tidak tahu berapa lama aku melakukan hal ini, tidak peduli bagaimana aku berteriak, bagaimana aku berseru, aku tidak memiliki keinginan apapun untuk menangis. Itu karena tubuh buatanku ini tidak memiliki fungsi itu? AKhirnya, dengan lelah aku berdiri, mengambil holy crystal yang terkubur di dalam salju itu dan bergerak menuju portal yang mengarahkanku ke area sebelumnya dari dungeon ini.
Hanya ada Klein dan anggota dari «Fuurinkazan» yang tersisa di hutan. Para anggota dari «Divine Dragon Alliance» tidak dapat terlihat dimanapun. Sementara aku berjalan ke arah pengguna katana yang sedang duduk di tanah, aku memeriksa untuk mengetahui bahwa jumlah mereka tidak berkurang.
Jelas bahwa Klein adalah satu-satunya yang kelelahan, tetapi tidak selelah aku. Aku hanya dapat menebak bahwa dia bernegoisasi dengan para anggota Divine Dragon Alliance dan bertarung dalam sebuah duel. Akan tetapi, hatiku tidak merasa bersyukur.
Pengguna katana itu melihatku datang mendekat, dan ekspresi wajahnya menunjukkan sebuah kelegaaan. Akan tetapi, bibirnya menjadi kaku setelah melihat ekspresi wajahku.
"...........Kirito............"
Aku menjatuhkan holy crystal itu di lutut Klein yang memanggil namaku dengan suara yang rendah dan kasar.
"Ini adalah revival item itu, tetapi ini tidak dapat digunakan kepada orang yang telah lama mati. Ambillah dan selamatkan orang berikutnya yang mati di depanmu."
Sementara aku bersiap untuk mengarah ke pintu keluar setelah mengatakan hal itu, Klein menggenggam mantelku.
"Kirito... Kirito......"
Hal ini mengejutkanku untuk melihatnya dengan air mata yang mengalir turun ke pipinya yang berjanggut.
"Kirito... Kamu... Kamu harus selamat.... Bahkan bila semua orang yang lain menghilang... Kamu harus selamat hingga akhir....."
Aku menarik lengan mantelku dari tangan Klein, yang terus menangis sementara dia mengulang kata-katanya untukku agar terus hidup.
Selamat tinggal.
Setelah mengatakan hal itu, aku berjalan keluar dari hutan seperti orang yang tersesat.
Pada saat aku sadar mengenai sekelilingku, aku telah kembali berada di ruanganku di dalam sebuah penginapan di lantai ke- 49 tanpa ingatan apapun mengenai bagaimana aku dapat kembali kesini.
Waktunya sekarang adalah sekitar jam 3 pagi.
Aku mulai berpikir mengenai apa yang harus aku lakukan mulai saat ini hingga ke depan. Selama satu bulan terakhir, revival item itu adalah motivasi untukku untuk terus hidup. Walaupun item itu benar ada, itu bukanlah item yang aku inginkan.
Setelah berpikir untuk beberapa lama, aku memutuskan untuk pergi keluar dan bertarung dengan bos dari lantai ini ketika fajar sudah menyingsing. Bila aku mengalahkan bos itu, aku akan meneruskannya denngan mengalahkan bos dari lantai ke-50, lalu kemudian aku akan meneruskannya ke bos lantai ke-51.
Aku tidak dapat memikirkan akhir lainnya untuk pelawak bodoh ini. Setelah membuat keputusan ini, perasaanku mulai tenang, dan aku hanya duduk di kursi seperti itu. Tidak melihat apapun, tidak memikirkan mengenai apapun, tetapi menunggu untuk datangnya pagi.
Cahaya bulan yang bersinar turun melalui jendela mulai berubah posisi sedikit demi sedikit, dan akhirnya, cahaya itu digantikan oleh cahaya kelabu dari fajar. Aku tidak tahu berapa jam aku tidak tidur, tetapi terasa enak untuk pagi terakhir setelah malam terburuk.
Sementara jam di dinding berdetik menuju jam 7 pagi, aku bersiap untuk banghit dari kursi, dan sebuah alarm yang aneh berbunyi di telingaku.
Melihat sekeliling, aku tidak dapat menemukan sesuatu yang dapat menjadi sumber dari suaranya. Akhirnya, di sudut penglihatanku, aku menemukan sebuah sinyal ungu penunjuk dari main window yang berkedip, dan aku menggerakkan jemariku.
Apa yang bercahaya adalah item window bersama antara Sachi dan aku. Disana terdapat sebuah item dengan penggunaan terbatas. Aku menggulung turun halamannya dalam keadaan bingung, dan menemukan pesan dalam record crystal yang diaktivasikan dengan timer.
Aku mengeluarkan kristalnya, menutup windownya dan meletakkan kristal itu di meja.
Setelah memilih kristal yang bersinar itu, aku mendengar suara Sachi yang kurindukan.
Kirito, Selamat Natal.
Pada saat kamu mendengar pesan ini, aku mungkin sudah mati. Hal itu karena bila aku masih hidup, aku telah memutuskan untuk mengambil kristal ini dari inventory bersama pada malam Natal dan membiarkanmu mendengar apa yang ingin aku katakan secara langsung.
Bahwa... Biarkan aku menjelaskan alasan mengapa aku merekam pesan ini.
Aku, mungkin, tidak akan dapat bertahan hidup untuk waktu yang lama. Tentu saja, ini bukan karena aku meragukan kemampuan dari Kirito dan guild «Black Cats of the Full Moon». Karena Kirito sangat kuat dan anggota lainnya juga menjadi semakin kuat setiap harinya.
Bagaimana aku menjelaskannya..... Teman perempuan yang sangat dekat denganku dari guild yang lain kehilangan nyawanya. Karena dia adalah seorang yang penakut sepertiku, dia hanya berburu di area aman tetapi karena nasib buruknya, dia terbunu oleh para mob pada jalan kembali ke kota. Setelah itu aku memikirkan mengenai berbagai hal dan aku akhirnya mencapai sebuah kesimpulan. Untuk terus hidup di dunia ini, tidak peduli sekuat apa teman seperjalananmu, bila kau tidak mempunyai semangat untuk hidup atau tekad untuk selamat tidak peduli apa yang terjadi, kematian jelas menunggu.
Untukku... Sejujurnya, mulai saat aku melangkah ke tempat latihan pemula aku telah dan masih tetap sangat takut. Sebenarnya, aku tidak pernah berniat untuk meninggalkan Starting City. Walaupun aku sangat dekat dengan para anggota dari Black Cats of the Full Moon di dunia nyata dan aku menikmati waktu yang kami habiskan bersama, tetapi aku benci pergi ke dalam pertarungan. AKu mungkin akan mati pada akhirnya bila aku terus memiliki sikap seperti ini di dalam pertarungan. Ini tidak disebabkan oleh siapapun, masalahnya ada pada diriku sendiri.
Sejak malam itu, kamu terus memberitahukanku bahwa itu tidak apa-apa setiap malam dan bahwa aku tidak akan mati. Itulah mengapa bila aku entah mengapa mati, kamu pasti akan menyalahkan dirimu sendiri untuk itu dan tidak akan memaafkan dirimu sendiri. Ini juga adalah alasan mengapa aku berpikir untuk merekam pesan ini. Aku ingin mengatakannya kepada Kirito, ini bukanlah salahmu. Bila ada masalah, itu adalah karena diriku. Tanggal dari pesan ini diatur untuk hari Natal berikutnya, karena aku aku akan setidaknya berusaha untuk tetap hidup hingga saat itu, berharap untuk berjalan di jalanan yang bersalju bersamamu.
Sebenarnya.... Aku tahu seberapa kuat Kirito sebenarnya. Suatu hari, ketika aku bangun dari tempat tidur Kirito, aku tanpa sengaja melihat levelmu dari status window-mu yang terbuka dari belakangmu.
Bahkan setelah berpikir panjang dan keras, aku masih tidak dapat menemukan alasan apapun mengenai kenapa Kirito-kun menyembunyikan level-nya yang sebenarnya dan membentuk kelompok dengan kami. Tetapi aku tidak mengatakan hal ini keapda anggota kelompok yang lain, karena aku percaya bahwa suatu hari kamu akan mengatakan langsung kepada kami alasannya.... Aku gembira ketika aku mengetahui bahwa kamu sangat kuat. Setelah mengetahui hal itu, aku mulai dapat tidur dengan tenang selama aku berada di sisimu. Mungkin untukmu, bersama denganku mungkin memiliki suatu arti bagimu, hal ini juga membuatku sangat senang. Bila ini memang benar, disana benar-benar ada artinya bagiku untuk datang ke lantai yang lebih tinggi bahkan bagi orang yang penakut sepertiku.
Itu... Sebenarnya, apa yang ingin aku katakan adalah, bahkan bila aku mati, kamu harus terus berusaha untuk bertahan hidup. Teruslah hidup, lihatlah dunia ini hingga akhirnya, tolong bantu aku menemukan alasan mengapa dunia ini dibuat, arti dari orang yang penakut sepertiku di dunia ini, pentingnya pertemuan kita. Itu adalah harapanku.
Ah... Kelihatannya masih ada beberapa waktu yang tersisa. Kristal ini dapat merekam banyak hal. Hmmm, lalu, karena Natal adalah suatu saat yang spesial, aku akan menyanyikan sebuah nyanyian Natal. Aku memang lumayan percaya diri dengan suaraku. Aku rasa aku akan menyanyikan Rudolph, sang rusa berhidung merah[51]. Sebenarnya aku lebih memilih menyanyikan lagu lain seperti Winter Wonderland[52], dan White Christmas[53] yang lebih banyak diketahui, tetapi sayangnya aku hanya dapat menyanyikan lirik dari lagu ini.
Mengapa aku hanya mengingat lirik dari Rudolph, sang rusa berhidung merah? Malam sebelumnya, Kirito berkata sesuatu kepadaku, "Tidak peduli siapa dirimu, kamu pasti akan membuat sebuah perubahan di dalam kehidupan seseorang." Mengatakan kepadaku bahwa bahkan bila itu aku, masih ada tempat untukku berada. Setelah aku mendengar kata-kata itu, aku menjadi amat sangat senang dan mengingat lagu ini. Aku tidak tahu mengapa tetapi mungkin itu karena aku menganggap diriku sendiri sebagai Rudolph dan kamu sebagai Sinterklas.... bila aku harus mengatakannya, kamu terasa seperti seorang ayah. Ayahku meninggalkanku ketika aku masih sangat muda, karena itulah setiap malam ketika aku tidur disampingmu, aku terus bertanya-tanya bila itu adalah perasaan yang akan diberikan oleh seorang ayah. Ah, baiklah, aku akan mulai menyanyi.
-
- Rudolph, sang rusa berhidung-merah
-
- mempunyai sebuah hidung yang sangat terang.
-
- Semua rusa yang lainnya
-
- dahulu tertawa dan memanggilnya dengan berbagai nama.
-
- Lalu pada suatu malam Natal
-
- Santa datang berkata:
-
- "Rudolph dengan hidungmu yang begitu terang, maukah kamu memandu kereta luncurku malam ini? "
-
- Rudolph yang selalu menangis, mulai tersenyum malam itu.
...... Untukku, kamu akan selalu seperti sebuah bintang terang yang bersinar dan membimbingku dari ujung lain dari sebuah lorong yang gelap. Selamat-tinggal, Kirito. Aku sangat beruntung untuk dapat bertemu denganmu dan berada bersamamu.
Terima kasih.
Selamat tinggal.
(Selesai)
Sumber : http://www.baka-tsuki.org/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar