Suguha berbaring di ranjangnya, sebelum bergulung untuk mengubur wajahnya kedalam bantal, dan menendang nendang ranjangnya selama beberapa menit.
Saat ini tengah hari, namun dia masih mengenakan piyama. Hari ini Senin, tanggal 20 januari, dan liburan musim dingin akhirnya selesai, namun Suguha, di semester ketiganya di tahun ketiga SMP-nya bisa berangkat sesuka hatinya. Untuk alasan itu, dia berangkat hanya untuk menunjukkan wajahnya di klub kendo.
Saat ini pikirannya tengah mengulang memori itu lagi dan lagi, dan dia sudah kehabisan menghitung entah berapa kali hal itu terulang.
Tadi malam – untuk menghangatkan tubuh beku Kazuto, dia mengubur diri ke dalam selimut bersamanya, dan tubuh mereka lekat satu sama lain sebelum akhirnya tertidur. Mungkin itu hanya terjadi sepuluh detik sebelum mereka benar benar tertidur, dan tindakannya itu saat ini membuatnya sangat menyesal.
“....Aku sungguh bodoh! Bodoh! Bodoh!” dia berteriak sejadi jadinya dengan memukul mukul bantal dengan tinjunya.
Setidaknya aku bisa bangun sebelum dia menyelinap keluar, tapi dia malah bangun lebih dulu, bagaimana bisa aku melihatnya sekarang?
Perasaan malu dan tak nyaman bercampur dengan perasaan cinta tersembunyinya, dan rasa sakit menusuk di dadanya menolak untuk membiarkannya bernafas. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, dan tiba tiba menyadari kalau piyamanya masih membawa aroma kakaknya, membuat desir aneh muncul di hatinya.
Yang jelas, mengayunkan shinai akan membantunya membuang semua pikiran itu, pikirnya, sambil mengangkat kakinya. Dalam kegugupannya, ia tak yakin apakah lebih baik mengenakankendogi nya, atau baju biasa, namun ia dengan cepat berganti baju dan keluar ke halaman rumah untuk berlatih.
Kazuto pergi entah kemana hari ini – dia tak tahu dimana tepatnya, dan Ibunya, Midori, selalu pergi untuk bekerja sebelum tengah hari. Ayahnya, Minetaka, telah kembali ke Amerika tepat setelah tahun baru, meninggalkan Suguha sendiri di rumah. Dari tempat meja sarapan di lantai pertama, ia menggenggam muffin keju, menjejalkannya ke dalam mulutnya dengan cara yang sangat tak feminin, dimana tangan lainnya mengambil sekantong jus jeruk, sebelum duduk sejenak di teras.
Tepat saat dia mengambil gigitan besar, Kazuto muncul di gerbang pintu masuk, sambil mendorong sepedanya dan menangkap tatapan Suguha.
“Guu!!”
Sepotong muffin tersangkut di tenggorokannya, dan ia dengan mati matian mengibaskan tangannya untuk meminum jusnya – hanya untuk menyadari kalau sedotannya tidak ada.
“Uaah, guu---!”
“Oi oi!”
Kazuto berlari ke sisi Suguha, memegang jus dan dengan cepat memasukkan sedotan sebelum memegangnya ke mulutnya. Mati matian mengisap cairan dingin, ia akhirnya bisa menelan potongan makanan yang tersangkut.
“Uah! Mati.......kali ini kukira aku akan mati!”
“Dasar gadis tak sabaran! Bukankah kamu tahu kalau kamu harus makan pelan pelan?”
“Mmm----“
Dengan malu, dia menundukkan kepalanya dan melihat kakinya. Kazuto duduk di sampingnya, membungkuk dan mulai melepas tali sepatunya. Dalam lingkup pandangan Suguha, ia tengah menyaksikan profil Kazuto, sambil sekali lagi menggigit muffinnya. Pada saat itu, Kazuto tiba tiba berbicara,
“Oh iya, Sugu, soal tadi malam.....”
Suguha mendadak tersedak, dan buru buru meneguk jusnya.
“Y-Ya?”
“Jadi um, anu.....Terima kasih.”
“Eh....?”
Mendengar kata kata tak terduga ini, Suguha hanya bisa menatap Kazuto.
“Berkat kamu, semangatku sudah pulih kembali. Aku, aku takkan menyerah. Aku pasti akan menolongnya, dan membawanya untuk menemuimu.”
Suguha, sambil menahan sakit di hatinya, tersenyum dan menjawab. “Mm. Ganbatte! Aku juga, ingin menemui Asuna-san.”
“Kalian berdua pasti akan cepat akrab.”
Kazuha menepuk nepuk kepala Suguha kemudian berdiri.
“Kalau begitu, sampai nanti.”
Dengan itu, Kirito mulai berlari ke lantai kedua, dan melihatnya pergi berlalu, Suguha menelan potongan muffin terakhir ke mulutnya.
“--------Berjuanglah......untuk aku juga.....?”
Mencapai kolam di halaman rumah, Suguha memulai suburi. Memegang shinainya, dia mulai bergerak dengan jurus yang nampak bagai tarian, dan perlahan mulai menghangatkan tubuhnya.
Di masa lalu, mengayunkan shinainya adalah semua yang ia perlukan untuk menjernihkan pikirannya, namun hari ini entah kenapa berbeda. Yang berada dalam pikirannya terasa mustahil untuk dihapus, dan saat ini terpaku kuat di tempatnya.
“---------Aku menyukai Onii-chan.....tak apa apakah?”
Tadi malam, karena pemikiran semacam itu, dia sudah memutuskan untuk menyerah. Jauh di dalam hati Onii-chan hanya ada orang itu; hal ini sangat dia pahami, namun itu semakin membuat hatinya sakit.
“-----------Tapi.....mungkin lebih baik begini.”
Dia merasa bimbang, seperti konflik dalam dirinya, tak paham kenapa dia begitu memikirkan Kazuto. Namun ia, sangat paham “kapan” hal itu dimulai.
Dua bulan sebelumnya, Ibunya dihubungi oleh pihak rumah sakit, dan dia terbang ke rumah sakit tanpa sedikitpun keraguan, untuk berada di sisi Kazuto, mata yang basah oleh air mata dan senyum cerah kebahagiaan. Kazuto mencapai tangannya, merespon dengan nada nostalgia. Mulai dari saat itu, sebuah perasaan aneh mulai bersemi di hati Suguha. Aku ingin lebih dekat dengannya, aku ingin lebih banyak berbicara dengannya, aku ingin memeluknya dengan erat, tapi ini, tentu saja, tak bisa kulakukan.
Hanya berada di sisinya dan melihatnya dari kejauhan juga tak masalah, Suguha menenangkan dirinya, sambil ia mengayunkan shinainya sekali lagi. Dia membenamkan diri dalam latihannya sampai tak sadar berapa lama waktu sudah berlalu sampai dia berhenti untuk melihat jam, hanya untuk mendapati kalau hari telah petang.
“Ah, aku tak boleh terus begini. Ada seseorang yang harus kutemui.”
Menghentikan ayunannya, ia meletakkan shinainya di sisi pohon pinus terdekat, dan memungut handuk untuk mengelap keringatnya. Sambil ia mengangkat kepalanya untuk menatap langit, langit biru nampak tipis sepanjang awan.
Sumber : http://www.baka-tsuki.org/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar