“Onii-chan, kamar mandinya sudah kosong!”
Suguha berteriak ke kamar Kazuto, yang terletak di lantai kedua, namun tak ada respon.
Sore itu, setelah kembali dari rumah sakit, Kazuto terus mengunci dirinya di dalam kamar, tak mau turun bahkan untuk makan malam.
Suguha menempatkan tangannya di kenop pintu, namun ragu ragu. Kalau dia belum tertidur maka mungkin dia terkena demam, pikir Suguha, memperkuat keyakinannya sambil memutar gagang pintu.
Kacha--. Pintu terbuka dan menampakkan ruangan gelap.
Dia pasti sedang tertidur, pikir Suguha, dan saat dia hendak berbalik meninggalkan ruangan, embusan udara angin terasa sedikit bertiup, membuatnya menggigil. Jendela nampaknya terbuka. Sepertinya tak ada cara lain, pikirnya, sambil menggeleng kepalanya.
Dia berjalan berjingkat jingkat sepanjang ruangan, menuju ke arah jendela......hanya untuk mendapati kakaknya tengah meringkuk di atas ranjang, dengan kondisi masih bangun.
“Ah, Onii-chan, maaf. Kukira kamu sudah tidur.” Adalah respon gugup Suguha.
Setelah beberapa momen kesunyian, Kazuto membalas dalam suara tanpa emosi, “Maaf, tapi bisa tolong biarkan aku sendiri?”
“Tapi, tapi, ruangan ini terasa dingin.....”
Suguha mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Kazuto. Tangannya terasa dingin bagai es.
“Ini nggak bagus. Tanganmu membeku; kamu akan demam kalau begini. Lekaslah mandi.”
Sejumlah cahaya menembus masuk melalui korden dari lampu jalanan, menyinari wajah Kazuto. Pada momen ini, Suguha menyadari sesuatu yang telah terjadi pada kakaknya.
“Apa yang terjadi?”
“Bukan apa apa.”
Balasannya seperti bisikan yang tercekik.
“Tapi.....”
Tanpa menunggu Suguha selesai bicara, Kazuto mengubur wajahnya di kedua tangannya. Menyembunyikan dirinya dari Suguha, dan dengan tanda penistaan diri, dia berkata, “Aku sungguh tak berguna. Belum begitu lama saat aku bersumpah untuk tak lagi mengatakan kata kata kekalahan semacam itu.......”
Di tengah kata katanya, Suguha sudah menyadari apa yang telah terjadi. Berbicara dengan suara pelan dan bergetar, dia bertanya “Orang itu.......Asuna-san.....apa yang terjadi padanya?”
Tubuh Kazuto mengejang. Dalam suara pelan, terisi rasa sakit, dia menjawab, “Asuna.....telah pergi entah kemana......tempat yang jauh. Tempat.....dimana tanganku tak bisa menjangkaunya......”
Kali ini Suguha merasa jelas. Melihat Kazuto, yang menangis seperti anak anak di depannya, hati Suguha tersentuh.
Ia menutup jendela, menutup korden, dan menyalakan pemanas ruangan, kemudian duduk di sisinya. Ia ragu ragu untuk sesaat, sebelum menggenggam tangan dingin Kazuto lagi. Tubuh meringkuk Kazuto nampak rileks dalam sekejap.
Suguha berbisik di telinganya.
“Jangan sedih. Kalau dia memang sangat kamu cintai, kamu tak boleh menyerah semudah itu.”
Kata kata itu tak datang dengan mudah, dan mengucapkannya, hatinya seolah telah teriris oleh pedang. Perasaan dari jauh di dalam hatinya melahirkan rasa sakit ini. Aku menyukai Kazuto Onii-chan, adalah perasaan yang datang menerpa Suguha kali ini.
“---------Aku juga. Aku tak bisa membohongi diriku lagi.”
Suguha menopang kakaknya, dengan lembut menurunkannya ke ranjangnya. Mengambil selimut ranjangnya, ia dengan lembut menaruhnya di atas tubuh Kazuto.
Berapa lama dia memeganginya, dia sendiri tak tahu, namun tangisan kesedihan Kazuto mulai menjadi suara tidur penuh damai. Suguha menutup matanya, hatinya perlahan berbisik pada dirinya.
“—Satu satunya pilihanku adalah menyerah. Yang bisa kulakukan hanyalah mengubur perasaan ini jauh, jauh di dalam hatiku.”
Karena di dalam hati Kazuto, dia sudah ada disana.
Air mata perlahan mengalir di pipi Suguha, kemudian jatuh ke seprai ranjang, sebelum akhirnya lenyap dengan cepat.
Sumber : http://www.baka-tsuki.org/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar