Kirito duduk di kursinya sambil menatap ke arah gadis Sylph, Lyfa, yang duduk beberapa menit yang lalu dengan ekspresi sedikit bingung.
“Apa yang terjadi padanya?”
Setelah mendengar ini, Yui, yang masih duduk di bahunya, memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung dan berkata:
“Mana tahu, aku yang sekarang nggak punya kemampuan memonitor mental.”
“Hmm. Tapi aku menghargai tawarannya untuk menjadi pemandu.”
“Aku tahu petanya. Memang benar kalau potensial bertarung kita akan meningkat dengan lebih banyak orang, namun......”
Yui berdiri, meletakkan wajahnya di telingaku, dan berkata.
“Papa, kamu tidak boleh selingkuh.”
“Nggak akan, nggak akan.”
Melihatku menggeleng kepalaku oleh peringatan itu, Yui terbang dan mendarat di meja sambil tertawa, dan mengambil biskuit yang sudah setengah dimakan dengan kedua tangannya.
“Huh, sebenarnya kamu hanya menggodaku kan?”
Kirito mengambil wine rempahnya dan meminumnya dari botol.
Namun, aku harus waspada. Aku bukannya selingkuh, dia—Lyfa hanyalah karakter dalam Game, dia mungkin punya kepribadian berbeda di dunia nyata.
Untuk waktu yang lama, dunia virtual menjadi dunia nyataku. Namun, ide tentang pembagian karakter itu sama sekali tiada berarti, kejahatan dan kebaikan itu nyata. Aku takkan bisa bertahan hidup kalau tak memikirkan tentang hal itu.
Namun masalahnya berbeda disini. Para pemain itu, dalam satu hal, agak berbeda. Mereka datang kemari dan memainkan peran berbeda beda dengan nilai berbeda beda. Para pencuri menyerang, merampok, dan membunuh namun kebalikannya, mereka tidak dihukum, namun justru dihormati.
“Susah juga, VRMMO itu.”
Kirito tanpa sadar mendesah oleh kata kata yang ia ucapkan dengan senyum pahit. Setelah meletakkan botol kosong, ia mengambil Yui yang sedang makan biskuit yang seukuran dengannya, dan meletakkannya di bahunya. Ia meninggalkan meja dan memutuskan untuk kembali ke dunia nyata.
Dalam MMORPG, terdapat konflik antara ‘kemudahan’ dan ‘keadilan’ mengenai Log Out.
Dengan kata lain, harus dirancang agar orang orang yang memiliki urusan darurat seperti janji atau harus mengurus tubuh fisiknya di dunia nyata bisa dengan cepat meninggalkan Game. Namun, di sisi lain, hal itu harus di-set up agar tak bisa digunakan untuk kabur dari situasi pertarungan atau mencegah pencurian. Untuk alasan ini, kebanyakan MMO memasang pembatasan dan syarat tertentu untuk log out. ALO bukan perkecualian, para pemain bisa Log Out dari mana saja hanya di wilayah ras mereka. Diluar itu, karakter mereka akan tetap dalam kondisi ‘tak bernyawa’ selama beberapa menit dan akan rentan oleh serangan dan pencurian.
Diluar wilayah rasmu, kalau kau menginginkan log out instan, kau harus memakai item seperti perangkat kemah atau menyewa kamar. Aku memutuskan mengikuti saran Lyfa untuk memakai lantai kedua dari “Lily of the Valley Pavillion” untuk log out.
Setelah mengecek di counter, aku memanjat anak tangga ke lantai kedua. Aku membuka pintu ruang tertentu, dan menampakkan ruangan sederhana dengan hanya satu ranjang dan sebuah meja. Itu adalah pemandangan yang memberiku rasa deja vu kuat. Sebelum aku membeli rumah di Aincrad, aku sering memakai kamar semacam ini.
Aku membuka jendela untuk merasakan udara segar. Pada poin ini aku akan mampu log out tanpa khawatir, namun pada akhirnya memilih memakai metode ‘sleep off’ untuk keluar. Jadi aku melepas senjataku dan berbaring di ranjang.
Masalah kecil terjadi saat memainkan VR Game memakai FullDive. Saat kau bermain Game FullDive, inderamu dibawa ke dunia virtual, sehingga saat kau log out inderamu dikembalikan ke tubuh aslimu. Jadi, kalau kau tiba tiba mengubah dari berdiri ke berbaring, maka akan terjadi rasa vertigo yang kuat. Pernah terjadi sebelum aku bermain SAO saat aku memakai simulator penerbangan dengan FullDive, aku berputar dengan cepat dalam nose dive, dan saat aku menekan tombol log out dan kembali ke dunia nyata, aku diserang oleh rasa vertigo yang sangat kuat dan mataku berputar dengan kencang.
Untuk mencegah gejala semacam itu lebih baik sign out dengan cara ‘sleep off’, dengan kata lain, tertidur lelap. Saat kau tertidur lelap di dunia virtual kau akan secara otomatis ter-log out dan dikirim kembali ke dunia nyata.
Aku berbaring di ranjang saat Yui selesai memakan biskuitnya dan mendarat di lantai dengan suara kepakan lembut. Usai mendarat, Yui kembali ke wujud aslinya dengan rambut hitam panjang, gaun putih salju, dan aroma menawan yang beterbangan di udara.
Yui, dengan kedua tangan disembunyikan dibalik punggungnya, menoleh padaku dan berkata.
“....Aku takkan melihatmu sampai besok kan? Papa.”
“....Maaf....padahal kita akhirnya bertemu lagi. Aku akan segera kembali....kembali menemui Yui.”
“Itu.....”
Yui berkedip kedip, dengan wajah memerah.
“Papa, sampai kamu log out bisakah kita tidur bersama?”
“Eh.”
Aku memasang senyum sadar-diri di wajahku. Aku adalah Papa bagi Yui. Sebagai AI, dia akan terus mengembangkan pengalamannya dengan terekspos pada data data baru. Jadi permintaan semacam itu tak membuatku marah, namun, sikap dan kata katanya sudah cukup untuk membuatku gugup. Tapi tetap saja, kupikir dia adalah gadis yang cantik.
“Aku paham, kamu boleh melakukannya.”
Aku mengesampingkan rasa maluku dan bergerak ke dinding untuk memberi tempat berbaring baginya. Yui, yang memasang senyum bahagia, melompat ke ranjang.
Dengan wajahnya merapat ke dadaku, aku perlahan membelai lembut rambutnya dan berbisik:
“Aku akan secepatnya menolong Asuna dan setelah itu mari membeli rumah di dunia ini juga. Apa ada rumah bagi pemain di dunia ini?”
Yui menolehkan kepalanya ke sisi dan mulai mengangguk perlahan dan berkata:
“Harganya cukup mahal, tapi memang tersedia. Serasa bagai mimpi, bagi kita bertiga, aku dan papa dan mama akan bisa tinggal bersama lagi.”
Mengingat hari hari itu, hatiku terasa seperti dijungkir balik lagi dan lagi. Jelas jelas beberapa bulan yang lalu kami masih bersama, namun sekarang aku tak punya cara apa apa untuk berkomunikasi dengannya. Seperti ini saja, memori yang jauh itu perlahan semakin bergerak menjauh—
Aku memeluk Yui erat erat, mataku perlahan menutup, dan berbisik:
“Itu bukan hanya mimpi, aku akan segera menjadikannya kenyataan.”
Karena aku terus memainkan Game begitu lama, biarpun itu hanya pengalaman virtual, otakku merasa lelah dan kelelahan menyerangku seperti martil.
“Selamat malam, Papa.”
Seiring kesadaranku perlahan memudar kedalam kegelapan hangat, suara manis Yui di sisiku terus membuatku nyaman.
Sumber : http://www.baka-tsuki.org/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar