Minggu, 23 November 2014

Bagian 4 LN SAO Volume 2 Chapter 2 Kehangatan Hati (Moblie Version)

Hari ini dinginnya lebih menusuk dari biasanya,
Aku masuk ruang kerjaku sambil menggosok-gosokkan kedua tanganku. Menarik tuas di dinding, kuhangatkan tanganku di atas tungku perapian yang langsung menyala, terbakar merah panas. Setidaknya bunyi menggebuk kincir air masih tetap sama, tapi awal musim dingin sekarang sudah sedingin ini, kalau pertengahan musim dingin tiba dan sungai kecil di belakang membeku, aku khawatir entah apa yang akan terjadi padaku.
Aku berpikir keras selama sejenak sebelum kembali sadar dengan kaget, dan berunding dengan jadwalku. Masih ada delapan item yang menumpuk di daftar pesanan hari ini. Hari akan segera berakhir jika aku tidak bergegas dan menyelesaikannya.
Pesanan pertama adalah pedang lurus satu tangan tipe ringan. Kutelusuri daftar bongkahanku, kupilih satu yang merupakan kompromi bagus antara performa dan biaya sebentar kemudian, lalu melemparkannya ke tungku perapian.
Di waktu sekarang ini, penguasaan paluku sudah bertambah, dan bahkan aku memperoleh beberapa logam baru, jadi aku sudah bisa menempa senjata tingkat tinggi terus menerus. Memilih waktu di saat apinya telah panas mencapai suhu yang sesuai, kuletakkan bongkahan itu di alas tempa. Menyiapkan palunya, kuayunkan ia turun dengan tenaga tinggi.
Tapi, berbicara mengenai pedang lurus satu tangan— Tidak satu pedang pun yang mampu melampaui pedang satu itu yang kutempa musim panas lalu tahun ini. Fakta itu membuatku frustasi, namun melegakan.
Pedang yang telah mengubur pecahan hatiku itu mungkin masih terus mengamuk dengan bersemangat di garis depan yang jauh lagi hari ini. Meski aku memang merawatnya di batu asah di depan mataku ini sekali-sekali, berbeda dengan senjata biasa, transparansi bilahnya tampak bertambah setiap digunakan. Untuk beberapa alasan, sepertinya ia berbeda dengan barang konsumsi numerik yang akan habis cepat atau lambat; rasanya lebih seperti ia akan hancur berkeping-keping begitu ugasnya selesai— itu prediksiku.
Ah tapi, hal itu mungkin masih berupa masa depan yang tak akan terwujud beberapa saat lagi. Garis depan sekarang di lantai tujuh puluh lima. Pedang itu masih harus bertugas lebih lama lagi. Di tangan kanan orang itu— Kirito.
Waktu kusadari, tampaknya aku sudah selesai memukulnya sebanyak jumlah yang diperlukan; bongkahan itu mulai berubah bentuk seraya bersinar dengan cahaya merah. Kuamati perubahan gaib seketika ini dengan nafas tertahan, dan mengambil pedang yang segera muncul untuk memeriksanya.
"...Biasa, sepertinya."
Membisikkan ucapan itu, kuletakkan pedang ini di atas meja kerja. Tanpa jeda, aku mulai memilih-milih bongkahan berikutnya. Kali ini adalah kapak dua tangan, dengan fokus pada jangkauannya...
Lama setelah siang dimulai, aku entah bagaimana berhasil menyelesaikan semua pesanan, dan berdiri. Menggerakkan kepalaku berputar melingkar, kurenggangkan badanku kuat-kuat. Selagi aku mengambil nafas lega, sebuah foto kecil yang tergantung di dinding memasuki penglihatanku.
Membuat tanda damai sambil berpelukan, Asuna dan aku. Di samping Asuna, berdiri setengah langkah ke bawah, Kirito dengan senyum masam. Diambil di depan bangunan ini. Sekitar setengah bulan lalu— saat berita pernikahan mereka berdua datang.
Siapapun yang mungkin kalian tanya, mereka berdua pastinya serasi satu sama lain, tapi mencapai tujuan itu akhirnya memakan waktu setengah tahun penuh. Aku menjadi tidak sabar, dan mencoba ikut campur dalam hubungan mereka dengan berbagai cara, dan ketika aku pada akhirnya diberitahu berita pernikahan mereka, aku benar-benar senang buat mereka. Tapi tetap— terasa sedikit, sakit yang mengoyak hati.
Aku masih menyaksikan yang terjadi malam itu dalam mimpi-mimpiku. Mengingat satu malam bagai mimpi yang berinar bak permata sederhana selama dua tahun yang hanya ada sedikit naik-turun. Sampai saat ini pun, setelah tiga bulan berlalu, ia masih menghangati hatiku layaknya bara api yang menyala.
"...Walaupun begitu..."
Saat itu memang mengagumkan, bisikku dalam hati, dan jariku menelusuri foto itu dengan lembut. Walau aku menilai diriku sebagai realis yang rasional, aku memiliki watak seterus terang itu benar-benar tidak kusangka dan tidak kusadari sama sekali.
"Aku selalu mencintaimu, sampai akhir."
Usai mengetuk kuat suatu titik tertentu di foto itu, kupalingkan pikiranku. Bertanya-tanya apa aku memasak makanan sederhana untuk makan siangku yang telat, atau mungkin makan di luar untuk pertama kalinya sejak beberapa waktu ini, kuinjakkan kakiku keluar dari ruang kerja— Lalu hal itu terjadi.
Sebuah efek suara yang belum pernah kudengar sampai sekarang bergema keras dari atas. Ding, ding, suara yang menyerupai alarm lonceng... Seketika kutatap langit-langit, namun tampaknya suara itu berasal dari tempat yang lebih tinggi lagi, berkumandang dari arah lantai atas.
Aku baru saja akan buru-buru keluar, saat sesuatu yang membuatku bahkan terkejut lebih jauh lagi terjadi. Meski alasan di baliknya jelas, NPC penjaga toko, yang berdiri di konter, tak membutuhkan seharipun istirahat sejak toko ini dibuka, mendadak lenyap tanpa suara sedikitpun.
"...!?"
Kukedipkan mataku, dan menatap tempat gadis itu berdiri hingga tadi, tetapi tidak ada tanda ia kembali. Situasinya menjadi makin dan makin kusut.
Buatku, yang tersandung saat menuju keluar, pengalaman yang bahkan lebih mengherankan lagi menjadikanku berdiri kaku.
Di bawah lantai atas yang membentang, seratus meter di atas, tepat sebelum atap abu-abu polos itu- tergantung huruf-huruf merah raksasa, terletak rapat-rapat. Aku terhanyut menatapnya; dua kalimat berbahasa Inggris, "Warning", and, "System Announcement", tertata dalam pola papan catur.
"System... Announcement..."
Kejadian ini pernah kusaksikan sebelumnya. Tidak mungkin aku akan pernah melupakannya. Dua tahun lalu, di hari game kematian ini dimulai, tontonan yang sama persis muncul di balik avatar hampa yang mengumumkan perubahan peraturan pada sepuluh ribu pemain.
Akhirnya melihat sekeliling setelah membeku melihatnya selama beberapa detik penuh, kutemukan banyak pemain lain, yang melihat ke atas sambil berdiri tegak, sama sepertiku. Aku berkerut saat merasa ada sesuatu yang aneh mengenai pemandangan ini, alasannya terpikir seketika olehku.
Biasanya, selagi berjalan menyusuri jalan, ada NPC-NPC menjajakan dagangan mereka; tak seorang pun ada di sekitarku. Aku yakin mereka kemungkinan menghilang di waktu yang sama dengan menghilangnya perawat tokoku, tapi... kenapa sih—
Tiba-tiba sekali, bunyi dering alarm itu berhenti. Setelah beberapa saat yang sunyi, kali ini, yang terdengar adalah suara halus wanita, dalam volume yang sama kerasnya.
[Kami sekarang akan mengumumkan pemberitahuan penting ke semua pemain.]
Sama sekali berbeda dengan suara sang Game Master, Kayaba Akihiko, dari dua tahun lalu, merupakan suara sintetis buatan bercampur dengan bunyi gaduh elektronik. Jelas ini merupakan pengumuman yang dibuat melalu sistem game, tapi dengan hampir tidak adanya kehadiran manajemen di SAO, ini adalah pertama kalinya aku mendengar pengumuman disampaikan seperti ini. Kutegangkan telingaku untuk mendengar sambil menahan nafas.
[Game sekarang akan memasuki mode administrasi paksa. Semua monster dan item akan ditangguhkan. Semua NPC akan diberhentikan. Darah semua pemain akan disesuaikan menjadi jumlah maksimal masing-masing.]
Sistemnya error? Apa ada bug fatal yang muncul...?
Itu yang ada di pikiranku dalam sekejap. Hatiku dicengkram rasa tidak tenang. Tapi di saat berikutnya—
[Waktu Standar Aincrad, tujuh November, empat belas-lima puluh lima, game telah diselesaikan.]
—Demikianlah yang dilaporkan suara sistem.
Gamenya, sudah diselesaikan.
Aku tak mengerti arti dari perkataan itu untuk beberapa detik. Pemain-pemain lain di sekitarku juga, masih terdiam dengan ekspresi mereka membeku. Akan tetapi, mendengar kalimat yang mengikutinya, mereka semua melonjak gembira.
[Semua pemain akan log out secara berurutan. Cukup menunggu di posisi anda sekarang. Kami ulangi...]
Tiba-tiba, "Wooah!", dan sorak-sorai gembira seperti itu meletus. Tanahnya, bukan, seluruh Kastil Melayang Aincrad bergetar. Semua orang saling berpelukan satu sama lain, bergulingan di lantai, berteriak keras-keras dengan tangan mereka terangkat menuju langit.
Aku tidak bergerak, tidak berkata apapun, hanya berdiri diam di depan toko milikku. Entah bagaimana aku berhasil mengangkat kedua tanganku, menutupi mulutku.
Jadi dia berhasil. Dia— Kirito berhasil. Dengan kenekatannya yang biasa...
Itulah yang kupercaya. Bagaimanapun, garis depan yang paling depan masih di lantai tujuh puluh lima, tapi dengan selesainya permainan ini seperti ini, konyol, ceroboh, tindakan nekat ini pastinya ulah Kirito.
Aku merasa aku mendengar bisikan lembut di dekat telingaku.
—Aku, menjaga kata-kataku...
"Iya... Iya... Akhirnya, kamu berhasil..."
Dengan itu, air mata yang panas menetes dari mataku. Tak menghiraukan untuk menyekanya, kulontarkan tangan kananku dengan seluruh kekuatan, melompat naik dan turun tanpa henti.
"O— oh!!"
Kututupkan kedua tangan ke mulutku, untuk menggapainya, yang berada jauh di lantai atas, aku berteriak sekeras mungkin.
"Kita pasti akan bertemu lagi, Kirito—!! ...Aku mencintaimu!!"
(Selesai)


Sumber : http://www.baka-tsuki.org/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar