Tidurku yang manis dan nyaman terganggu oleh rasa hangat yang tiba tiba.
Aku masih belum benar benar bangun, namun ada kehangatan aneh mengalir padaku, seperti cahaya matahari yang menembus cabang pohon, membelai pipiku.
Mataku tertutup, dan aku memeluk sosok tidurnya. Kami berada sangat dekat sampai aku bisa merasakan nafasnya, jadi aku membuka sedikit mata—
“Uwwahh!?”
Aku segera berteriak, dan melompat sekitar lima puluh senti. Tubuhku terlempar dalam posisi duduk, dan dengan cepat melihat ke sekeliling.
Inilah yang selalu kulihat dalam mimpiku. Aincrad, lantai kedua puluh dua dari hutan rumahku – mustahil.
Bagian dari realita ada disini, kamarku dan ranjangku. Namun, selain aku, ada orang lain disini.
Aku dibuat membisu. Usai bangun secara penuh, aku dengan cepat bangun dan meletakkan selimut kembali di tempatnya. Dengan rambut hitam pendeknya, alis tebalnya, Suguha berbaring dalam piyamanya, tertidur di atas bantalku.
“Kenapa.....kenapa ini......”
Setelah berpikir baik baik, aku akhirnya ingat apa yang terjadi tadi malam. Benar sekali, tadi malam setelah kembali dari rumah sakit, nampaknya aku sempat berbicara sedikit dengan Suguha. Diantara keputusasaan dan rasa sakit yang membuatku menangis, dia menghiburku, dan akhirnya, aku tertidur.
“Astaga, seperti anak kecil saja.”
Setelah merasa sedikit malu, aku menatap Suguha, yang masih tertidur pulas. Dia tak seharusnya melakukan ini.
Aku tiba tiba ingat kalau hal yang sama dengan ini pernah terjadi di dunia “itu”. Suguha sangat mirip dengan gadis penjinak hewan yang kutemui di sekitar lantai ke empatpuluh. Dia, juga, menyelinap ke ranjangku, yang membuatku sama kelimpungannya.
Aku tersenyum sambil mengingat itu. pertemuanku dengan Asuna dan Sogou Nobuyuki terus membuatku kepikiran, namun rasa sakit menusuk nusuk di hatiku perlahan lenyap sejak tadi malam.
Memoriku di dunia itu – kota terapung Aincrad – adalah harta karun penting bagiku. Memori bahagia, memori sedih – terlalu banyak untuk dihitung – namun semua memori itu nyata, dan tak akan kuanggap selain itu, termasuk kesepakatan diantara Asuna dan aku untuk bertemu bersama di dunia ini sekali lagi. pasti ada sesuatu yang bisa aku lakukan.
Saat aku tengah memikirkan itu, dari depanku, gumaman ngelindur Suguha mencapai telingaku.
“Menyerah.......itu nggak boleh.....”
“Yang kamu katakan itu sangat betul.” Aku berbisik balik.
Kemudian, sambil duduk, aku menyentil wajah Suguha dengan jariku.
“Hei, bangun, ini sudah pagi.”
“Hmmph.”
Dia mengeluarkan erangan tidak senang. Aku menyibak selimutnya dan mencubit pipinya.
“Ayo bangun, ini sudah siang.”
Suguha akhirnya membuka matanya.
“Ah. Selamat pagi, Onii-chan,” Dia bergumam, sambil dengan malas memanjat naik dari selimut.
Kemudian, dia menatapku dengan terkejut dan dengan cepat melirik sekitar ruangan. Matanya yang nampak ngantuk dan setengah terbuka, mendadak terbuka lebar dan pipinya tersipu merah.
“Ah! Um, aku.....”
Telinganya memerah, tubuhnya menjadi kaku, dan ia mendadak melompat dan lari dari ruangan secepat mungkin.
“Ya ampun.”
Aku menggeleng kepalaku dan berdiri untuk membuka jendela, menghirup dalam dalam udara dingin untuk membuang semua rasa lelahku.
«Berita» sampai saat aku mengambil baju ganti untuk mandi.
Terdapat nada bersuara elektronik dan aku bisa melihat peringatan e-mail berkilat, jadi aku duduk dan bermain dengan EL Terminal.
Sejak dua tahun aku tertidur, struktur komputer telah mengalami banyak perubahan. HDD (Hard Disk Drive) tua yang kusukai, lenyap tanpa jejak dan digantikan dengan SSD (Solid Storage Drive) modern, yang sudah menjadi standar baru dan tak menghasilkan MRAM ultra tinggi. Tak ada time lag sepanjang transfer; hal itu terjadi secara spontan. E-mail yang terkirim telah di-update, dan nama si ‘pengirim’ adalah «Egil».
Di lantai ke-50 dari blok utama Aincrad tinggallah Egil, pemilik dari toko kelontong di ‘Algade’. Kami bertemu untuk pertamakalinya tanggal 20 di Tokyo dan bertukar alamat e-mail, namun ini akan jadi pertama kalinya kami saling menjalin kontak. Judul pesannya tertulis, “LIHAT INI”. Saat aku membukanya, tak ada teks sama sekali, namun hanya satu gambar.
Aku menggulir ke bawah dan membuka gambar pada monitor, kemudian menatap lekat lekat pada gambar yang ditampilkan.
Komposisinya luar biasa. Kalian bisa melihat dari karakteristik warna dan cahaya yang jelas jelas bukan di dunia nyata namun dunia ilusi, rekayasa komputer. Dalam latar belakang gambar berdiri sangkar emas dengan meja putih dan kursi putih. Seorang gadis, berdandan dalam gaun putih duduk di dalamnya. Melihat lebih dekat pada wajahnya melalui sangkar—
“Asuna!?”
Gambarnya nampak kasar, namun gadis itu, dengan rambut panjang kastanye tanpa ragu adalah Asuna, wajahnya muram dan tangannya terlipat di atas meja. Melihat lebih dekat ada sayap transparan yang merentang di belakangnya.
Aku menggenggam telepon di meja, dan segera menghubungi nomor yang kutemukan dalam buku telepon. Nada deringnya mungkin hanya beberapa detik, namun terasa bagai berjam jam. Akhirnya, sambungan terhubung dan sebuah suara berat menjawab panggilanku.
“Hallo-“
“Hei! Apa yang terjadi dalam gambar itu!?”
“Lihat, Kirito, setidaknya kenalkan dirimu dulu.”
“Aku tak ada waktu! Lekas dan beritahu aku!”
“Ceritanya panjang. Bisakah kau datang kemari?”
“Baiklah. Aku akan disana secepatnya.”
Tanpa mau menunggu balasan, aku menutup telepon dan mengambil pakaian ganti. Aku belum pernah mandi, mengeringkan rambut, dan mengenakan sepatuku begitu cepat dalam hidupku, dan dalam sekejap aku sudah meninggalkan rumah di atas sepedaku. Entah kenapa jalan ini terasa sangat panjang, meski aku sudah melintasinya berkali kali.
Kafe Egil dan bar bisnis terletak di Taito Okachimachi. Aku segera melihat dashboard hitam dan tanda logam yang dihiasi oleh dua dadu, sehingga memiliki nama, «Kafe Berdadu».
Aku membuka pintu dan bertemu dengan suara gemerincing lonceng di pintu masuk. Pria botak di counter menatapku dan tertawa. Tak ada pelanggan kelihatan disini.
“Oh, kau cepat juga.”
“Bisnismu payah seperti biasanya. Bagaimana bisa bertahan selama dua tahun ini?”
“Saat ini memang lamban, tapi cukup ramai sepanjang malam hari.”
Percakapan santai ini membuat hatiku terasa tenang, seolah aku kembali di dunia itu.
Pertemuan kami adalah sesuatu yang terjadi di akhir bulan lalu. Pada saat itu, aku menerima nama asli dan alamat dari para pemain tertentu dari anggota Kementrian Dalam Negeri, Cline, Nishida, Scilica, dan Lizbet, diantara nama nama lain. Biarpun ada banyak pemain yang ingin kutemui lagi, namun mereka semua sudah kembali ke dunia nyata, dan tetap menjalin kontak adalah perkara sulit. Tempat pertama yang akan kukunjungi pastilah toko ini.
“Jadi, apa yang kau ingin aku beritahukan padamu?”
Si pemilik toko kelihatan sedikit tak senang.
Nama aslinya adalah Andrew Gilbert Mills. Aku merasa kagum karena dia ternyata juga membuka toko di dunia nyata.
Meski secara etnis dia adalah Afrika-Amerika, orang tuanya sudah lama menyukai Jepang, dan dia membuka bar-toko kopinya disini, di Okachimachi di usia 25 tahun. Lebih jauh lagi, dari antara para pelanggannya, dia telah menemukan istri yang cantik dan baik hati. Setelah itu, dia juga, telah terjebak dalam dunia SAO selama dua tahun. Usai kembali, toko yang dia duga telah tutup sejak lama ternyata berhasil bertahan berkat usaha keras istrinya. Sungguh cerita yang menyentuh.
Jujur saja, terasa aneh karena tak ada satupun pelanggan disini. Toko ini memiliki tata letak sempit, namun dengan empat kursi dan counter, tempat yang cerah dan berwarna warni ini terasa menarik dan merilekskan.
Aku duduk di bangku kulit, memesan secangkir kopi dan mulai mempertanyakan Egil tentang gambar itu.
“Jadi, ada apa dengan gambar itu?”
Si manajer toko tak segera menjawabnya. Justru, aku melihat dia mengeluarkan sebuah bungkusan persegi panjang dari bawah counter, dan mengulurkannya padaku.
Bungkusan itu jelas adalah software Game. Aku segera menyadari itu setelah melihat cetakan jelas «Amusphere» di sudut kanan atasnya.
“Aku belum pernah dengar tentang tipe hardware ini sebelumnya.”
“«Amusphere», Ia diluncurkan saat kita masih berada di dunia itu. itu adalah teknologi FullDive generasi berikutnya, penerus dari Nerve Gear.”
Sambil aku melihat logo dengan perasaan keheranan, Egil memberikan penjelasan simpel.
Setelah insiden itu, Nerve Gear dianggap sebagai “mesin setan”, sehingga tak ada pabrik bernyali melibatkan diri mereka dalam genre teknologi Game FullDive lagi. Namun, 6 bulan setelah insiden SAO, sebuah perusahaan baru didirikan, dengan slogan “keamanan absolut”. Ia meluncurkan model penerus Nerve Gear, dan karena kami terjebak di Aincrad pada saat itu, kami tak tahu apa apa soal ini.
Itu sedikit membantuku memahami situasi, namun karena aku tak terlalu memperhatikan Game Game setelah insiden itu, aku masih tak terlalu memahami benda ini.
“Jadi, apa ini juga VRMMO?”
Aku memegangnya di tanganku dan melihatnya dengan seksama. Gambarnya menunjukkan hutan lebat dengan bulan purnama menggantung tinggi, di depannya terdapat gadis dalam busana fantasi. Pedang di tangannya, dia terbang ke langit dengan sepasang sayap transparan. Dibawah ilustrasinya, terdapat judul -- «ALfheim Online».
“ALfheim.....Online? Apa maksudnya ini?”
“Sesuai dengan namanya, itu artinya “Rumah Elf”[6]”
“Elf? Aku masih tak paham. Game ini tak terlalu serius, kan?”
“Itu, yah, mungkin saja. Kudengar itu cukup sulit dimainkan, sih.”
Egil meletakkan secangkir kopi yang mengepulkan uap di depanku, sambil tertawa. Aku mengangkat cangkir, menikmati aromanya, sambil terus bertanya padanya.
“Seperti apa kesulitannya?”
“SKILL sistem di dalamnya sangat EXTREME, dan Game berfokus pada skill pemain. PK juga dianjurkan.”
“Extreme....?”
“«Level» Tak lagi berlaku dalam Game ini. Semua skill hanya akan meningkatkan level melalui pengulangan. Sistem Battle bergantung pada kemampuan atletik si pemain, bukan teknik pedang seperti dalam SAO. Namun tak peduli pada perbedaan minor ini, teknologinya tak jauh beda dari SAO.”
“Ah. Itu terdengar cukup mengesankan.”
Aku mengeluarkan siulan kekaguman. Penciptaan Kota terapung Aincrad telah melibatkan usaha keras dari si jenius sinting Akihiko Kayaba. Kalau ada orang lain yang bisa menciptakan dunia VR dengan derajat sama adalah hal yang agak sulit dipercaya.
“PK juga dianjurkan?”
“Saat membuat, pemain bisa memilih dari beragam ras fairy, dan hanya diantara ras yang berlawanan yang membuat hal ini bisa dilakukan.”
“Itu sangat menyulitkan. Tak peduli seberapa tinggi teknologinya, rasanya itu lebih dibuat untuk para Gamer fanatik. Aku ragu benda ini bisa populer.” Ujarku sambil mengernyitkan alis.
Usai Egil mendengar keluhanku, dia membuang wajah seriusnya dan tersenyum.
“Aku juga pernah berpikir seperti itu, namun kurasa itu akan jadi populer dengan para Gamer saat ini, alasan utamanya adalah di dalam Game ini, kau punya kemampuan untuk «Terbang».”
“Terbang....?”
“Dengan sayap peri. Tak seperti game Game sebelumnya, controller dilengkapi dengan mesin penerbangan, memungkinkan pemain untuk terbang dengan bebas.”
Aku belum pernah memikirkan kemungkinan tentang terbang sebelumnya. Setelah Nerve Gear dikembangkan, banyak VR Game terbang dikembangkan, namun itu semua dikendalikan dengan kendali seperti kendaraan. Terbang dengan cara manusia tak diperkenalkan karena pemain tak punya pengalaman terbang dan sehingga takkan mampu mengendalikan kekuatan saat terbang.
Dalam dunia imajinasi ini, hal hal yang pemain bisa lakukan sama seperti yang kalian bisa lakukan di dunia nyata. Kebalikannya, hal hal yang manusia dunia nyata tak bisa lakukan disini, mereka tak bisa melakukannya disana juga. membentangkan sayap bukanlah tugas sulit, namun pergerakan otot yang berkaitan dengan menggerakkan sayap tidaklah sederhana.
Dalam SAO, Asuna dan aku memiliki kemampuan lompatan yang luar biasa, sampai kami hampir seperti terbang, namun ini dan terbang bebas adalah dua hal yang sangat berbeda.
“Semua konsep tentang terbang dan semacamnya ini memang hebat, tapi bagaimana dia tepatnya bisa bekerja?”
“Mana tahu, namun itu kurasa akan merepotkan. Untuk pemula, kau harus mengoperasikannya dengan controller joystick satu tangan.”
“....”
Tiba tiba, aku mendapat hasrat untuk menantang Game ini, tapi hal itu segera kubuang jauh jauh, dan aku kembali meneguk kopiku.
“Oke. Aku sudah agak paham Game macam apa ini. Kembali ke topik utama, apa hubungannya ini dengan gambar itu?”
Egil membawa sepotong kertas dari bawah counter, dan meletakkannya di depanku. Itu adalah kertas foto.
“Apa yang kau lihat?”
Setelah mendengar pertanyaannya, aku menatap gambar itu untuk sejenak, sebelum akhirnya menjawab.
“Sangat mirip.......dengan Asuna......”
“Figur yang akan kau anggap sama. Itu adalah screenshot, meski resolusinya agak jelek.”
“Lekas dan jelaskan padaku!”
“Itu Screenshot dari Game ini, ALfheim Online.”
Egil menyerahkan Game dan gambar padaku. Terdapat screenshot dari Game, dengan tampilan dari peta dunia serta semua wilayahnya, dan di area pusatnya terdapat sebuah pohon raksasa.
“Ini adalah Pohon Dunia, atau Yggdrasil.”
Egil menunjuk ke arah pohon.
“Tujuan para pemain adalah siapa yang paling cepat mencapai puncak dari pohon ini.”
“Lantas apa kau tidak diperbolehkan untuk terbang ke atas begitu saja?”
“Tak peduli berapa besar stamina dan daya tahan yang mereka punya untuk terbang, tetap saja ada batasnya. Untuk mencapai cabang terendah dari pohon itu dengan terbang saja sudah mustahil. Namun, masih ada orang orang yang memunculkan ide ide edan, seperti membentuk kelompok lima orang dan terbang seperti roket multi-stage yang melontarkan mereka ke atas.”
“Hahaha, apa memang begitu? Biarpun kau menyebutnya ide edan, tetap saja itu sangat kreatif.”
“Ah, sebenarnya mereka berhasil. Namun, cabang pohon itu sangat lemah, sehingga pencapaian mereka hanya sampai disitu saja. Untuk membuktikan kalau mereka berhasil melakukan ini, mereka mengambil banyak foto sebagai bukti. Salah satu dari foto itu adalah sangkar yang menggantung di sebuah cabang pohon besar.”
“Sangkar burung........”
Kata kataku mengalir dengan perasaan yang sulit dideskripsikan, yang membuat alisku terangkat. Terjebak.......pemikiran ini segera masuk dalam pikiranku.
“Foto ini diambil saat mereka berhasil mencapai cabang itu.”
“Tapi kenapa Asuna ada disana?”
Aku mengambil Game lagi, dan menatap bungkusnya.
Aku berfokus pada tulisan yang tercetak di bagian bawah kotak. «RECTO Progress».
“Ada apa, Kirito? Wajahmu kelihatan pucat.”
“Bukan apa apa......tak ada gambar lain? Misalnya, «orang lain dari SAO», selain Asuna, yang belum kembali?”
Oleh pertanyaanku, si manajer hanya mengernyitkan alisnya dan menggeleng kepalanya.
“Tidak, meski aku sudah dengar tentang hal itu. namun gambar gambar dari «ALfheim Online» tak bisa digunakan untuk menjelaskan apa apa. Jangan lekas membuat kesimpulan hanya karena ini.”
“Ya, aku tahu.”
Aku menundukkan kepalaku, memikirkan apa yang pria itu – Sugou Nobuyuki – telah katakan padaku.
Manajer dari server SAO sekarang adalah dia, ia mengatakan itu sendiri. Ngomong ngomong, dia juga berkata kalau server itu seperti black box, dan tak bisa dimanipulasi selamanya. Pada saat ini, semuanya menjadi masuk akal buatku.
Namun, kalau Asuna terus tertidur, ini akan menguntungkan baginya. Lebih jauh lagi, seorang gadis yang nampak seperti Asuna terjebak dalam VRMMO didesain oleh tiada lain selain antek antek RECTO, tak mungkin itu semua hanya kebetulan.
Aku berpikir untuk menghubungi Kementrian Dalam Negeri, namun aku segera mengubah pikiranku. Kesimpulanku masih terlalu dangkal, dan aku tak punya bukti nyata.
Aku melihat ke atas, menatap pada Egil.
“Egil, boleh aku memiliki ini?”
“Tak masalah.....kau mau mencobanya?”
“Ya, aku ingin mengkonfirmasi ini sendiri.”
Untuk pertama kalinya, Egil menunjukkan ekspresi keraguan. Kami berdua memahami betapa bahayanya VR.
Aku mengangkat bahuku, dan tertawa.
“Kurasa kalau aku ingin mencoba ini maka aku harus membeli konsol baru.”
“Nerve Gear juga bisa menjalankannya. Amusphere hanyalah versi dengan performa lebih maju.”
“Baguslah kalau begitu.”
Aku mengangkat bahu. Egil memasang senyum tipis.
“Yah, ini bukan pertamakalinya kau menyelamatkan seseorang yang terjebak dalam kesadarannya sendiri.”
“Tak masalah berapa kalipun dia terjebak atau terpenjara atau berapa kali aku harus melakukan ini.”
Dan seperti itulah. Asuna dan aku belum menjalin kontak apapun selain melalui internet via Nerve Gear. Tiada suara atau surat yang sudah kuterima.
Namun hari hari penantian itu berakhir sudah. Menyelesaikan kopiku dalam satu tegukan, aku berdiri. Counter Egil nampak jadul, mirip dengan tokonya di SAO, sama sekali tak dilengkapi mesin kasir elektronik dan semacamnya. Aku mengeluarkan beberapa uang receh dan meletakkannya di counter.
“Kalau begitu aku kembali dulu. Terima kasih sudah mengundangku, dan untuk informasinya.”
“Kau bisa membayar informasiku dengan cara lain. Pokoknya kau harus selamatkan Asuna, maka kita akhirnya bisa mengakhiri semua ini.”
“Itu benar. Suatu hari, ini semua akan berakhir.”
Aku memukul telapak tanganku dengan tinjuku. Kemudian aku membuka pintu, dan pergi.
Sumber : http://www.baka-tsuki.org/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar