Selasa, 25 November 2014

Bab 1 LN Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 3 part1

Katon, katon.
Kursi kayu sederhana yang bergoyang membuat suara lembut sambil mengayun ke depan dan belakang di beranda.
Cahaya matahari lembut di akhir musim gugur bersinar melalui puncak pohon cemara. Hembusan angin ringan dengan lembut bertiup sepanjang permukaan danau yang jauh.
Pipinya berbaring di atas dadaku sembari ia bernafas dengan lembut dan tertidur pulas.
Waktu itu, yang terisi oleh ketenangan emas, terus mengalir dengan mantap.
Katon, katon.
Aku menggoyangkan kursi dan dengan lembut membelai rambut warna kastanye gadis ini. Meski dia sudah tertidur, senyum tipis muncul di bibirnya.
Sekelompok Sprite tengah bermain di halaman depan. Kukusan daging di dapur tengah mendidih dengan suara rebusan yang terdengar jelas. Aku berharap dunia lembut ini, di rumah kecil yang jauh di dalam hutan, akan berlanjut untuk selama lamanya. Namun aku sadar kalau ini adalah harapan mustahil.
Katon, katon.
Seiring kaki kursi terus membuat suara, jam pasir terus berjatuhan satu butir pada satu waktu.
Aku mencoba menarik si gadis lebih dekat ke dadaku seolah aku melawan takdir.
Namun, lenganku hanya bisa memeluk udara tipis.
Aku dengan cepat membelalakkan mata kebingunganku. Tubuhnya, yang bersandar padaku beberapa saat lalu, mendadak lenyap sama sekali. Aku berdiri dari kursi dan melihat ke sekeliling area.
Seperti jatuhnya tirai dari sebuah pentas, warna matahari senja perlahan menjadi gelap. Kegelapan menakutkan mulai mewarnai seluruh hutan menjadi gelap gulita.
Aku berdiri tegak di angin musim dingin dan memanggil namanya.
Namun tak ada balasan. Tak ada di taman depan dimana para Sprite tengah bermain, atau di dapur – sosoknya tak bisa ditemukan dimana mana.
Sebelum aku menyadarinya, seluruh rumah mulai dikelilingi oleh kegelapan. Perabot rumah dan dinding mulai runtuh dan lenyap seolah mereka semua terbuat dari kertas. Hanya kursi yang bergoyang dan aku sendiri yang masih tersisa dibalik kegelapan ini. Biarpun tak ada siapapun yang duduk di atas kursi, ia terus mengayun ke depan dan belakang tanpa berubah.
Katon, katon.
Katon, katon.
Aku menutup mataku, menajamkan telingaku, dan mengumpulkan seluruh kekuatanku untuk memanggil namanya.


Mataku dengan cepat terbuka oleh suara yang cerah dan keras. Aku tak lagu tahu apakah aku berteriak hanya di dalam mimpi atau aku benar benar melakukan itu di dunia nyata.
Berbaring diatas ranjang, aku menutup mataku dan mencoba kembali ke permulaan mimpiku. Namun aku segera menyerah, dan setelah beberapa saat aku perlahan membuka mataku sekali lagi.
Papan kayu tipis memasuki bidang pandanganku bukannya panel putih di dinding rumah sakit. Aku tengah terbaring di atas kasur lembut di atas seprai katun bukannya material dari gel.
Ini adalah – kamar Kirigaya Kazuto di dunia nyata.
Aku mengangkat tubuh bagian atasku dan melihat ke sekelilingku. Kamar 6 lantai memiliki lantai tak biasa yang terbuat dari kayu alami. Hanya tiga potong perabot bisa ditemukan di dalam ruangan; sebuah hard drive komputer, sebuah router, dan ranjang tempatku duduk.
Sebuah headgear yang nampak usang terletak di tengah tengah Router yang diangkat secara vertikal.
Namanya adalah «Nerve Gear», sebuah model interface model full dive yang telah memenjaraku dalam virtual reality selama dua tahun. Setelah pertarungan panjang dan sulit, aku akhirnya lepas dari mesin itu, dan akhirnya bisa melihat, merasakan, dan menyentuh dunia nyata.
Ya, aku telah kembali.
Namun, si gadis yang mengayunkan pedangnya dan menyatukan hatinya denganku..........
Rasa sakit mendadak menyerang dadaku, dan aku mengalihkan pandanganku dari Nerve Gear dan perlahan berdiri. Aku menatap cermin yang menggantung di dinding. Panel EL yang terpasang di dinding dengan jelas menampilkan tanggal dan waktu saat ini.
Senin, 19 Januari, 2025, 7:15 am.
Sua bulan telah berlalu sejak aku kembali ke dunia nyata, namun aku masih tak bisa terbiasa dengan penampilanku. Meski pendekar pedang Kirito dan Kirigaya Kazuto saat ini seharusnya memiliki penampilan sama, kehilangan bobot tubuhku masih belum pulih, jadi tubuh yang hanya tinggal tulang di bawah T-Shirt ku sangatlah rapuh.
Aku mendadak menyadari dua garis air mata bersinar di wajahku di cermin dan menyekanya dengan tangan kananku.
“Aku sudah kembali jadi orang cengeng...........Asuna.”
Aku bergumam dan berjalan ke jendela besar di sisi selatan kamarku. Aku membuka korden dengan kedua tanganku, dan cahaya matahari menyilaukan di pagi musim dingin mewarnai seluruh kamarku dalam kuning pucat.


Sumber : http://www.baka-tsuki.org/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar