Bagian 3
"Semuanya, masing – masing ambillah satu potong roti!"
"Hei, itu akan tumpah jika kamu tak memperhatikan!"
"Aah, sensei! Gin mengambil telur goreng matahari milikku!"
"Aku telah memberikan wortelku sebagai gantinya kan!"
"Ini... sungguh mengagumkan..."
"Ya, sungguh..."
Baik Asuna dan Kirito menatap adegan sarapan yang tampak seperti medan perang di depan mereka, dan berguman satu sama lain dalam kebingungan.
Pada Starting City, tepatnya di ruang tamu dalam gereja pada distrik timur ketujuh. Piring besar penuh telur, sosis, salad sayur dan sejenisnya berbaris di sepanjang meja makan yang besar, meja tersebut hamper terpenuhi oleh dua puluh anak – anak atau lebih dalam keributan.
"Tetapi, tampaknya mereka menikmatinya."
Pada meja lingkaran yang sedikit jauh, Asuna duduk bersama Kirito, Yui, dan Sasha yang tersenyum setelah meminum secangkir teh.
"Seperti inilah setiap harinya. Keadaan ini tak akan tenang tak peduli berapa kali kamu menyuruh mereka diam."
Setelah berkata seperti itu, Sasha menyipitkan matanya yang terisi kasih sayang dari dalam lubuk hatinya ketika ia menatap anak – anak.
"Kamu sungguh menyayangi anak – anak kan?"
Asuna berkata dan Sasha hanya tersenyum malu.
"Dengan kata lain, aku telah berlatih untuk menjadi seorang guru di universitas. Kamu mengerti kan, kekacauan dalam kelas selalu menimbulkan masalah. Kemampuan untuk bisa mengarahkan anak - anak; aku selalu terpancing akan hal tersebut. Namun ketika aku tiba di sini, ketika aku memulai hidup bersama anak – anak tersebut, semuanya tampak berbeda dari apa yang aku yakini... rasanya aku menjadi yang bergantung pada mereka; bahwa mereka telah mendukung aku lebih banyak. Namun, yah hal itu mungkin baik – baik saja... aku mulai mempecayai bahwa hal tersebut hanyalah hasil alami."
"Yah, aku menjadi mengerti entah bagaimana."
Asuna mengangguk, sambil mengusap kepala Yui yang telah memasukkan sendok kemulutnya dengan lembut. Kehangatan yang dibawa oleh kehadiran Yui mengejutkan Asuna. Kehangatan tersebut berbeda dari kehangatan cinta yang ia rasakan di dadanya ketika bersentuhan dengan Kirito; kehangatan seperti dimasukkan kedalam bulu yang tak bisa dilihat, sebelum tersadar sekali lagi; sebuah ketenangan terasa.
Kemarin, setelah pingsan secara tiba - tiba, Yui secara beruntung bangun setelah beberapa menit. Bagaimanapun juga, karenaAsuna tidak ingin membuat perjalanan panjang ataupun menggunakan gerbang teleport lagi, dan juga karena undangan Sasha, Kirito dan Asuna akhirnya meminjam salah satu kamar yang tersedia di gereja untuk menginap.
Kondisi Yui tampaknya semakin membaik sejak pagi hari, jadiAsuna serta Kirito menjadi senang karena hal tersebut, tetapi asal usul asli Yui belum diketahui. Berdasarkan ingatan samar – samar yang telah Yui dapatkan, ia tampaknya tak pernah datang ke Starting City, dan lebih parahnya lagi, ia tidak tinggal bersama seorang pengasuh. Dalam hal ini, penyebab rusaknya ingatan milik Yui, atau gejala kemunduran otaknya benar – benar tak di ketahui dan mereka berdua bingung apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Namun Asuna telah bersabar dari perasaan yang ada di dalam hatinya.
Juga hingga sekarang, ia akan melanjutkan hidupnya bersama Yui hingga ingatannya kembali. Bahkan jika cutinya akan berakhir, dan ia harus kembali ke garis depan, pasti ada suatu cara untuk—
Karena Asuna terdiam karena kecemasannya ketika membelai rambutYui, Kirito meletakkan cangkirnya dan mulai berbicara.
"Sasha-san..."
"Ya?"
"...Well, ini tentang the Army. Sejauh pengetahuanku, meskipun kekejaman dari meraka sungguh luar biasa, mereka masih bertekad untuk menjaga ketertipan umum. Melihat kembali tindakan orang – orang kemarin, tampaknya mereka bertindak seperti seorang kriminal... sejak kapan hal seperti itu terjadi?"
Sasha menjawab dengan tegang.
"Waktu ketika aku merasakan ada perubahan dalam tujuan mereka telah terjadi setengah tahun yang lalu... ada beberapa orang yang melakukan tindakan pemerasan dengan dalih pemungutan pajak, begitu juga di sisi lain, yang ingin menumpas tindakan pemerasan tersebut.
Aku juga pernah melihat sesama anggota the Army saling berhadapan satu sama lain beberapa kali. Berdasarkan rumor, tampaknya ada perebutan kekuasaan diantara para petingginya atau hal semacam itulah..."
"Yeaa... Well, mereka masih sebuah organisasi besar yang memiliki anggota lebih dari seribu sekarang ini. Tak ada pikiran yang terlintas ketika mereka akan memonopoli... Akan tetapi, jika apa yang terjadi kemarin adalah kegiatan harian mereka, mereka tidak seharusnya dibiarkan... Asuna."
"Apa?"
"Apakah pria itu tahu akan situasi ini?"
Menebak siapa orang yang dimaksud dengan kata – kata enggan, orang itu,Asuna berbicara sambil menahan senyum.
"Well, aku kira ia akan tahu... Ketua Heathcliff itu orang yang serba tahu, bahkan tentang gerekan the Army. Berbicara tentangnya, bagaimana caranya aku mengatakan ini ya, ia tampaknya tak tertarik pada apapun selain pemain level atas... ia pernah menanyai berbagai macam hal tentang Kirito-kun ketika sebelumnya, tetapi pada saat penaklukan guild pembunuh, «Laughing Coffin», berlangsung, ia hanya meninggalkan kita dengan satu pasukan untuk pergi, Aku akan menyerahkannya padamu. Bagaimanapun, aku percaya ketua mungkin tak akan mengerahkan grup penyelesai demi memperngaruhi the Army."
"Well, tampaknya hal itu mungkin juga jika kamu menganggap seperti itu... Tetapi dalam kasus ini, kita tak bisa bertindak banyak jika hanya kita berdua."
Mengerutkan alisnya ketika ia menghisap teh, Kirito tiba – tiba mengangkat wajahnya dan menatap pintu masuk gereja.
"Seseorang disini. Satu orang..."
"Eh... Mungkinkah tamu lain..."
Menegaskan kata – kata Sasha, sebuah ketukan terdengar di dalam bangunan gereja.
Seseorang yang memasuki ruang tamu bersama Sasha yang membawa sebuah belati tergantung di pinggangnya, dan Kirito, yang juga mengikuti Sasha untuk memastikan, adalah seorang pemain wanita berpostur tinggi. Rambut keperakan yang diikat ekor kuda memberikan kesan sosok yang berwawasan, serta mata berwarna biru langitnya terisi penuh semangat, wajah yang cantik.
Gaya rambut, warna rambut, dan bahkan warna pupil mata bisa di atur sesuka hati dalam SAO, tetapi karena kebanyakan sistem yang bekerja adalah buatan Jepang, pemain dengan corak warna kuat seperti ini bisa dikatakan cukup jarang. Asuna juga pernah sekali mencoba sekuat tenaga untuk mewarnai rambutnya menjadi merah muda; kejadian itu adalah sebuah masa lalu yang tak boleh dikatakan dimana ia akhirnya mengembalikan warnanya menjadi coklat karena kecewa.
Ia adalah wanita yang cantik, dan setelah mendapat kesan pertama juga termasuk bahwa ia adalah wanita dewasa, Asuna menjatuhkan pandangannya sekali lagi menuju equipment yang dikenakan si wanita tersebut, lalu ia terkejut secara reflek.
Meskipun equipment tersebut tersembunyi oleh jubah abu - abu, pada tubuh si pemain wanita ini, ia mengenakan sebuah mantel hijau kehitaman dengan bawahan berwarna sama hingga pahanya; armor metal dengan warna pudar ini tak salah lagi adalah seragam dari the «Army». Di sisi kanan pinggangnya ada sebuah pedang pendek, dan sebuah cambuk menggulung di sisi kirinya.
Anak – anak yang menyadari kehadiran si wanita langsung terdiam secara bersamaan dan berhenti bergerak sementara mata mereka terisi penuh kewaspadaan. Akan tetapi, Sasha tersenyum kepada mereka dan berbicara seolah ia menghapus rasa ketidak percayaan mereka.
"Semuanya, tenanglah, jangan khawatir atas kehadiran wanita ini. Lanjutkan sarapan kalian."
Anak – anak memandang penuh tanya, tetapi dengan kata – kata Sasha yang mereka percayai, semuanya melepaskan ketegangan yang ada di pundak mereka dengan perasaan senang, lalu keributan kembali hadir di ruang tamu tersebut. Si pemain wanita yang telah berjalan menuju meja bundar di tengah – tengah semuanya dan mengambil tempat duduk yang telah di sediakan oleh Sasha, ia akhirnya duduk dengan sedikit membungkuk.
Tidak memaham situasi ini, ia menatap Kirito dengan penuh tanya, dan Kirito yang juga telah duduk di kursi menundukkan kepalanya kesamping hingga ia menghadap Asuna lalu berbicara.
"Er, well, orang ini bernama Yuriel-san. Tampaknya ia memiliki suatu hal untuk dibicarakan dengan kita." Pemain berambut silver pengguna cambuk yang telah diperkenalkan sebagai Yuriel menatap lurus ke arah Asuna untuk sesaat, sebelum akhirnya ia menundukkan kepalanya dan membuka mulutnya.
"Senang bertemu denganmu, Namaku Yuriel. Aku masuk dalam sebuah Guild, namanya ALF."
"ALF?"
Asuna bertanya akan nama guild tersebut yang ia dengar untuk pertama kalinya, dengan cepat si wanita menundukkan kepalanya.
"Ah, maafkan saya. Nama itu adalah sebuah singkatan untuk the Aincrad Liberation Force. Aku tak begitu suka nama resminya, jadi..." Suara si wanita terdengar begitu elegant. Perasaan iri tumbuh semakin besar dalam hati Asuna yang selalu berpikir bahwa suaranya kekanak – kanakan, jadi ia kembali memperkenalkan dirinya.
"Senang berkenalan denganmu. Aku dari guild Knights of the Blood's— ah, tidak, aku sedang pensiun untuk sementara waktu, kamu bisa memanggilku Asuna. Lalu anak ini bernama Yui."
Setelah menghabiskan sup dan sedang menikmati jus buahnya, Yui mengangkat wajahnya tiba - tiba, memperhatikan Yuriel lebih dekat. Ia sedikit mencondongkan kepalanya, lalu ia segera memberikan sebuah senyum manis, lalu memundurkan tatapannya.
Pada saat nama Knights of the Blood sampai di telingan Yuriel, ia membuka mata biru langitnya lebih lebar.
"KoB... aku mengerti, tak heran jika orang – orang itu dikalahkan dengan mudah."
Asuna yang menyadari siapa orang yang dimaksud, meningkatkan kewaspadaannya sambil berbicara.
"...Dengan kata lain, kamu kesini untuk menanyakan kejadian kemarin, benar begitu kan?"
"Bukan, bukan, bukan untuk itu aku kemari. Malah kebalikannya; aku ingin mengungkapkan rasa terima kasihku karena kalian melakukan hal seperti itu."
"..."
Menatap Kirito dan Asuna yang terdiam karena tidak memahami maksudnya,Yuriel berterus terang akan maksud tujuannya kemari.
"Hari ini, aku datang ke sini karena aku ingin meminta bantuan kalian berdua."
"S-sebuah permintaan...?"
Rambut silvernya bergoyang karena mengangguk, si swordswoman dari the Army melanjutkan perkataannya.
"Iya. Aku akan memulai penjelasanku dari sangat awal. Apa yang kita kenal sebagai the Army, bukanlah nama yang terkenal jika dulu... alasan mengapa ALF menjadi nama Army saat ini dikarenakan fakta bahwa si wakil ketua yang mendirikan guild ini, seorang pria yang bernama Kibaou, sekarang ia menjadi peminpin yang menguasai guild ini. Pada awalnya, ia memilih nama guild, MTD... pernahkan kamu mendengarnya?"
Asuna tidak mengingat jika pernah mendengar nama itu sebelumnya, namun Kirito memberikan balasan tiba – tiba.
"Nama itu mungkin sebuah singkatan dari «MMO Today». Pada waktu ketika SAO dimulai, nama tersebut adalah situs perkumpulan informasi game terbesar di jepang. Orang yang membentuk guild seharusnya menjadi seorang administrator dari sana. Jika aku tak salah, namanya adalah..."
"Sinker."
Pada saat nama tersebut diucapkan, wajah Yuriel sedikit berubah.
"Dia... dulunya tidak ingin membuat organisasi sok kuasa seperti sekarang ini. Apa yang ia inginkan hanyalah kesetaraan pembagian informasi serta sumber makanan diantara pemain sebanyak mungkin..."
Bahkan setelah Asuna mengetahui keinginan serta gagalnya the «Army» ketika waktu itu melalui desas – desus. Keinginan untuk memburu monster dengan banyak orang, mengurangi tingkat bahaya sebanyak mungkin, melalui itu semua mereka bisa mendapatkan pemasukan tetap dan pengeluaran yang seimbang, tindakan seperti itu bukanlah suatu aib. Tatapi inti dari MMORPGs adalah perebutan sumber daya oleh pemain untuk mereka sendiri, dan hal tersebt tidaklah berubah bahkan bagi orang yang tak dikenal, tidak hanya kondisi extreme yang ada di permainan seperti SAO. Tidak, sebenarnya, bisa dikatakan bahwa kondisi seperti itu malahan semakin menguatkan.
Terlebih lagi, rencana serta kepemimpinan yang kuat bagi sebuah organisasi sangat penting untuk mewujudkan keinginan organisasi, untuk tambahan juga, the Army terlalu besar. Persembunyian dari item yang diperoleh semakin merajalela, pemberontakan secara tiba – tiba terjadi satu persatu, lalu pemimpin guild secara perlahan kehilangan kendali atas guildnya.
"Dan seseorang yang datang untuk memperkuatnya adalah laki – laki bernama Kibaou."
Yuriel berbicara dalam nada yang tidak senang.
"Dia mendukung konsep individualise dari Sinker, lalu memulai memperkuat struktur organisasi dengan pemain – pemain berlevel tinggi yang memiliki pandangan yang sama, dan mengubah nama guild menjadi Aincrad Liberation Force. Untuk tambahan saja, dia mendukung perburuan kriminal dan memonopoli field dengan keefektifan diatas rata - rata, melalui penggunaan kebijakan resmi. Dia setidaknya mempertimbangkan hubungan dengan guild lain dengan cara mempertahankan etika berburu pada area – area setelahnya, dia tetap memonopoli dalam periode waktu lama melalui berbagai cara kekerasan, meningkatkan keuntungan guild dengan tajam, serta menyebabkan pendukung Kibaou memperoleh kekuasaan politik secara cepat. Akhirnya, Sinker secara cepat menjadi tak lebih dari pemimpin palsu... sedangkan pemain – pemain dari kelompok Kibaou telah memulai tindakan pemerasan dibalik dalih «penagihan pajak» bahkan di dalam batas kota. Kemarin, orang yang menyebabkan kalian menemui keadaan berbahaya adalah bagian dari kelompok tersebut."
Yuriel mengmbil nafas, meminum teh yang Sasha buat lalu melanjutkan.
"Bagaimanapun juga, meskipun kelompok Kibaou memiliki kelemahan. Mereka tak mencari apapun selain pengumpulan kekayaan, mereka juga hampir tidak melanjutkan penyelesaian permainan ini. Kepercayaan pada mereka menyebabkan suatu akhir, dan menjadi pembicaraan populer diantara para pemain yang mengikuti Kibaou... Untuk mengendalikan ketidakpuasan tersebut, Kibaou akhirnya memilih bertaruh. Bersama bawahannya, dia membentuk sebuah party yang terdiri dari sepuluh pemain yang memiliki level paling atas, lalu mengirim mereka untuk mengalahkan boss paling atas."
Asuna secara sengaja bertukar pandang dengan Kirito. Pemain dari the Army yang bernama Colbert menantang boss lantai tujuh puluh empat «The Gleameyes», tanpa persiapan yang tepat dan akhirnya tewas secara tragis, sungguh kenangan yang buruk bagi Asuna.
"Bagaimanapun juga betapa tingginya levelmu sejak awal, ketika dibandingkan dengan grup penyelesai, kita tak bisa menolak kurangnya kecapakan yang dimiliki ... hingga akhirnya, party tersebut dihancurkan, ddan yang terburuk adalah si pemimpin party tersebut tewas. Kibaou menyalahkan hasil tersebut. Kita sedikit lagi hampir bisa untuk mengeluarkannya dari guild, tetapi..."
Kerutan terbentuk di batang hidung Yuriel, lalu ia menggigit bibirnya.
"Tiga hari lalu, Kibaou mengambil tindakan berlebih karena ia diburu lalu memasang sebuah perangkap kepada Sinker. Dia menggunakan kristal koridor yang telah diatur menuju dungeon terdalam pada pintu keluarnya, dan Sinker secara singkat langsung terbuang menuju dungeon tersebut. Pada waktu itu, Sinker pergi tanpa membawa equipment miliknya karena percaya pada perkataan Kibaou, 'Ayo berbincang tanpa menggunakan senjata,' serta di dungeon tersebut seseorang tak akan bisa melewati mob monster dari bagian paling dalam dan bisa kembali sendiri. Tampaknya ia juga tak membawa kristal teteport..."
"T- tiga hari telah berlalu...!? Sinker-san pasti...?"
Menghadap Asuna yang memberikan pertanyaan, Yuriel mengangguk ringan.
"Namanya pada «Monument of Life» masih belum terconteng, jadi tampaknya ia berhasil menuju area aman. Akan tetapi, karena lokasi dungeonnya kemungkinan berlevel tinggi, kami tak bisa mengambil tindakan apapun... kamu tahu kan, pesan tak bisa dikirimkan jika di dalam dungeon, dan jendela penyimpanan guild tak bisa diakses dari dalam sana, jadi kami juga tak bisa mengirimkan kristal teleport."
Semenjak menggunakan Kristal koridor bisa mengirimkanmu ke tujuan kematian, hal tersebut adalah salah satu teknik dasar yang biasa dikenal sebagai, «Portal PK», Sinker seharusnya tahu akan hal tersebut. Akan tetapi, ia mungkin tidak mempertimbangkan jika wakil ketua pada guild yang sama akan melakukan tindakan seperti itu bahkan penuh penuh kebencian diantara mereka berdua. Atau mungkin, Sinker hanya tidak ingin mempercayai fakta tersebut.
Karena kelihatannya ia bisa membaca pikiran Asuna, Yuriel berguman, "Dia hanya orang yang terlalu baik," lalu melanjutkan.
"...seseorang yang hanya bisa memanipulasi bukti seorang pemimpin guild, the «Scroll of Contracts», adalah Sinker dan Kibaou, jika terus seperti ini, dengan tidak kembalinya Sinker, manajemen guild dan semacamnya, bahkan masalah keuangan; semua hal tersebut akan dikendalikan oleh Kibaou. Kewajiban untuk mencegah Sinker jatuh kedalam perangkap bersama asistennya, adalah aku, dan aku tak punya pilihan lain serta menyelamatkannya. Namun aku tak mungkin melewati dungeon yang sulit demgam levelku saat ini; begitu juga memanggil dukungan dari pemain the «Army»."
Ia menggigit bibirnya rapat, sebelum menatap lurus menuju Kirito lalu ke Asuna.
"Dan pada waktu itu, aku mendengar kabar burung jika sepasang pemain yang sangat kuat muncul di kota ini, oleh karenanya aku datang ke sini untuk meminta bantuan, aku tak bisa mengabaikan situasi ini dan tak melakukan apapun. Kirito-san— Asuna-san." Yuriel membungkuk dalam, lalu berbicara.
"Aku yakin ini sungguh tindakan yang lancang karena kita baru saja bertemu, tetapi kumohon, bisakah kalian membantuku untuk menyelamatkan Sinker?"
Asuna menatap Yuriel sungguh – sungguh yang telah menyelesaikan cerita panjangnya.
Ini menyedihkan untuk dikatakan sebenarnya, tetapi dalam SAO, kata – kata dari orang lain tak bisa dipercaya sebegitu mudahnya. Bahkan untuk masalah seperti ini, kemungkinan hal ini adalah konspirasi untuk memancing Kirito dan Asuna menuju batas luar kota lalu melukai mereka berdua tak bisa diabaikan begitu saja. normalnya, selama memiliki pengetahuan yang cukup tentang permainan ini, mungkin bisa menemukan kebohongan pada cerita ini, namun tak beruntungnya, Asuna dan teman – temannya mengetahui lebih motif asli yang melibatkan the «Army».
Bertukar pandang dengan Kirito, Asuna membuka mulutnya untuk berbicara dengan sopan.
"—Jika ada sesuatu yang bisa kami lakukan, kami seharusnya meminjamkan kekuatan kami—itulah apa yang aku yakini. Tetapi tentang masalah yang terjadi, pertama – tama kami harsu melakukanpenyelidikan terlebih dahulu setidaknya untuk mengkonfirmasi ceritamu..."
"Seperti yang kuharapkan, aku seharusnya..."
Yuriel mengangguk sedikit.
"Aku menyadari bahwa ini mungkin permintaan yang tak masuk akal... bagaimanapun juga, aku tak ingin garis horizontal terukir pada nama Sinker lebih dulu pada «Monument of Life» di Black Iron Castle sekarang ini..."
Mata si pengguna cambuk berambut silver tampak meredup untuk memperngaruhi perasaan Asuna. Ia ingin untuk percaya. Tetapi pada waktu yang sama, pengalaman yang telah ia kumpulkan lebih dari dua tahun di dunia ini memperingatkannya, bel alarm tentang bahaya menggoyahkan emosinya..
Melihat ke arah Kirito, ia juga tamapaknya kehilangan arah pikirannya sekali lagi. Mata hitamnya bermaksud menampilkan gejolak hatinya, keinginan untuk membantu Yuriel dan kuatir akan kesehatan Asuna.
—Kemudian itu terjadi. Yui yang terdiam cukup lama hingga kini tiba – tiba mengangkat kepalanya darti cangkir lalu berbicara.
"Tak apa Mama. Orang ini tak berbohong kok."
Asuna kaget dan menatap Yui. Mengesampingkan isi perkataannya, kata – kata Yui sungguh bahasa jepang yang fasih, tampaknya perkataan terputus – putusnya kemarin suatu kebohongan.
"Yu... Yui-chan, apa kamu bisa memahami hal seperti itu...?"
Ditanyai pertanyaan oleh Asuna yang menatap wajahnya, Yui memberikan anggukan.
"Un. Aku tak bisa... mencari kata – kata yang tepat, tapi aku mengerti..."
Setelah mendengar kata – kata tersebut, Kirito mengangkat tangan kanannya, menyentuh kepala Yui. Kirito menatap Asuna lalu menyeringai. "Ayo percaya padanya, daripada mencurigainya. Ayo pergi. Kita akan menangani ini."
"Kamu selalu tak memikirkan seperti sebelumnya, huh."
Menggoyangkan kepalanya ketika membalas, Asuna juga membelai rambut Yui dengan tangannya.
"Maaf ya Yui-chan. Kami akan terlambat mencari teman – temanmu untuk satu hari, maafkan kami ya."
Asuna berbisik dalam suara kecil, meskipun ia yakin jika Yui memahaminya Yui tersenyum lebar dan mengangguk. Menggerakkian rambut hitamnya sekali lagi, Asuna berbalik menghadap Yuriel dan berkiata sambil tersenyum.
"...Kami mungkin tak bisa membantu banyak, tetapi ijinkan kami menemanimu. Keinginan menolong orang yang penting denganmu; aku juga mengerti perasaan itu..."
Air mata menetes dari mata berwarna biru langit milik Yuriel, ia lalu membungkuk dalam.
"Terima kasih... terima kasih banyak..."
"Simapn saja terima kasihnya setelah kita menyelamatkan Sinker-san."
Asuna memberikan senyum lainnya, dan Sasha yang sejauh ini melihat dalam keheningan, menepukkan kedua tangannya.
"Maka dari itu, pastikan kalian mengisi perut dulu! Masih ada makanan yang tersisa, kamu juga makanlah Yuriel-san." Cahaya matahari yang bersinar lemah di awal musim dingin berwarna merah terang setelah melewati puncak pohon di jalanan, menciptakan bayangan pada jalanan berbatu. Hampir tidak ada seorangpun melalui jalanan di Starting City, dan jalanan yang membentang si kejauhan, kesan suram benar – benar tak bisa ditolak.
Asuna mempercepat mengenakan equipmentnya melewati jalanan bersama Kirito yang menggendong dibawah panduan Yuriel.
Asuna umumnya akan meninggalkan Yui bersama Sasha, akan tetapi Yui bersikeras untuk ikut pergi bersama, akhirnya ia membawa Yui. Tantunya, sebuah kristal teleport telah disiapkan didalam kantongnya. Jika situasi semakin memburuk—meskipun mengganggu Sasha—mereka akan segera mundur dungeon.
"Ah, sekarang aku kepikiran sesuatu, kamu masih belum menyebutkan al penting."
Kirito memanggil Yuriel yang berjalan di depan.
"Dungeon tersebut ada di lantai berapa?"
Yuriel memberi sebuah jawaban sederhana.
"Di sini."
"...?"
Asuna menolehkan kepalanya secara naluri.
"Di sini... eh?"
"Itu, yah, di Starting City... ada sebuah dungeon besar di dalam tanah pada pusat kota. Sinker mungkin... ada di bagian paling dalam..."
"Serius?"
Kirito berbicara seperti sedang mengerang.
"Tak ada dungeon seperti itu ketika beta test. Mungkin salah..."
"Pintu masuk menuju dungeon tersebut ada di Black Iron Castle— dengan kata lain markas pusat the Army. Dungeon tersebut bukanlah jenis dungeon yang akan terbuka jika kamu menyelesaikan lantai atas, serta dungeon tersebut baru ditemukan ketika Kibaou datang untuk memperkuat, mereka tampaknya ingin memonopoli dungeon tersebut dengan kelompok mereka sendiri. Dungeon tersebut masih menjadi rahasin unruk sementara waktu bahkan dari Sinker, dan tentunya dari aku..."
"Jadi begitu. Ada banyak item langka yang muncul ketika di dalam dungeon yang masih belum dijelajahi. Mereka pasti mendapat keuntungan dari itu."
"Well, tidak sepenuhnya benar si."
Nada Yuriel kehilangan kesenangan.
"Meskipun dungeon itu ada di bawah tanah, tingkat kesulitannya benar – benar tinggi... bahkan diantara monster bawah tanah, level mereka hampir mendekati monster yang ada di lantai enam puluh. Party yang dipimpin Kibaou beberapa waktu yang lalu dihancurkan dan mereka melarikan diri dengan berteleport keluar. Bersyukurlah karena mereka terburu – buru menggunakan kristal,kita bisa masuk sejauh ini."
"Hahaha, aku mengerti."
Yuriel membalas tawa Kirito dengan senyuman, tetapi langsung hilang tergantikan kemurungan.
"Bagaimanapun juga sekarang ini, itulah alasan menyelamatkan Sinker menjadi sulit. Kristal koridor yang digunakan Kibaou menempatkannya agak dalam, lalu ia berlari kesana kemari, menjauhi monster – monster... Sinker mungkin berada di ujungnya. Tak mungkin bagiku untuk menangani monster tersebut jika satu lawan satu, dan melawan mereka yang saling berkaitan sungguh tak mungkin. —Maaf, tapi kalian berdua akan..."
"Ah, yah jika merka berlevel sekitar enam puluhan..."
"Kami seharusnya bisa menanganinya."
Mengikuti pernyataan Kirito, Asuna mengangguk. Untuk dungeon lantai enam puluh, level 70 bisa menanganinya, akan tetapi level Asuna yang kini ia telah capai adalah level 87, sementara Kirito telah mencapai level 90. Dengan ini, kelihatannya kita mungkin bisa melalui dungeonini sambil melindungi Yui, dan Asuna melepas ketegangan di pundaknya penuh senang. Bagaimanapun juga, Yuriel melanjutkan perkataannya tanpa kehilangan ekspresi cemasnya.
"...Dan juga, ada hal lain yang perlu kita perhatikan. Informasi ini aku dapat dari pemain yang ikut serta dalam party sebelumnya, di dalam dungeon ini... monster besar terlihat; kelihatannya seperti boss..."
"..."
Asuna bertukar pandang dengan Kirito.
"Boss ini mungkin berlevel sekitar enam puluhan... bagaimana penampilan boss dari lantai enam puluhan?"
"Eh, yah, aku yakin... boss itu kelihatan seperti seorang kesatria ber armor yang terbuat dari batu."
"Ah, yang itu huh. ... tak terlalu sulit jika aku tak salah..."
Menghadap Yuriel, ia mengangguk sekali lagi.
"Well, kita mungkin bisa dengan mudah mengatasinya."
"Syukurlah kalau begitu!"
Yuriel akhirnya mengurangi ketegangannya lalu melanjutkan perkataannya sambil berkedip,karena ia kira ia melihat sesuatu yang mempesona.
"Benar... kalian berdua telah berpengalaman dengan pertarungan melawan boss... Maaf telah mengambil waktu berharga kalian..."
"Tidak, kami masih berlibur kok."
Asuna melambaikan tangannya.
Setelah mereka bercakap - cakap, bentuk dari bangunan besar yang berkilau hitam mua\lai tampak di jalan didepan mereka.. bangunan ini adalah bangunan terbesar yang ada di Starting City, the «Black Iron Castle». Di ruang depan setelah masuk melalui gerbang utama, Monument of Life» dengan nama setiap pemain tercatat, berdiri tegak disana, meskipun setiap orang bisa masuk hingga titik ini, kebanyakan ruang yang lebih dalam telah dikontrol sepenuhnya oleh the Army.
Yuriel tidak masuk melalui pintu utama, melainkan melalui pintu belakang. Tembok kastil tinggi serta parit dalam mengelilingi kastil ini, menolak penyusup hingga selamanya. Bebar – benar tak ada manusia yang melewatinya..
Setelah berjalan beberapa menit, tempat yang Yuriel datangi adalah jalanan menurun, turun hingga dimana dekat dengan permukaan air parit. Mengintip kedalam, ada jalan lebar terbuka di sisi kanan tangga.
"Kita akan masuk ke aliran pembuangan kastil dari sini dan menuju pintu masuk dungeon. Mungkin akan sedikit gelap dan sempit..."
Yuriel menghentikan perkataannya disana, memandang Yui yang masih di lengan Kirito dengan penuh perhatian. Oleh hal ini, Yui tak senang dan terlihat marah,
"Yui tak takut!"
Setelah itu. Sebuah senyum keluar dari Asuna karena meluhat situasi ini.
Kepada Yuriel, Yui mengatakan tak lebih dari, "Kami tinggal bersama." Ia tak mencoba untuk mengetahui lebih dari itu, namun Yuriel mungkin keberatan membawa Yui kedalam dungeon.
Asuna berbicara untuk mengurangi kekhawatirannya.
"Tak apa; anak ini lebih waspada dari penampilannya."
"Yep. Ia pasti menjadi seorang swordswoman yang kuat di masa depan."
Dengan kata – kata Kirito, Asuna memandangnya dan tersenyum, lalu Yuriel mengangguk
"Okelah, ayo pergi!"
"Nuooooo"
Pedang di tangan kanan memotong monster dengan sebuah tebasan,
"Ryaaaaaaa"
Dan pedang di tangan kiri meledakkannya.
Mengequip dua pedang untuk pertama kalinya sementara, Kirito melepaskan energi yang di simpannya selama liburan ini, menebas musuh – musuh tanpa berhenti satu sama lain. Asuna yang memegang tangan Yui, serta Yuriel yang menggenggam cambuk metalnya tak memiliki kesempatan untuk membantu. Setiap kali kelompok musuh yang terdiri dari monster katak besar yang di selubungi smile, monster type udang yang memiliki pencapit hitam kemilau, dan semacamnya muncul, Kirito menebas mereka semua dengan penuh kemarahan dari pedang di tangan kanan dan kirinya tanpa menyisakan apapun.
Dalam pikiran Asuna hanya terlintas, "Oh, ya ampun," akan tetapi Yuriel ternga – nga menatap Kirito yang sedang dalam mode mengamuk dengan penuh kekaguman. Mungkin ini tontonan yang terlalu berbeda diluar pengetahuannya . sementara Yui menyoraki dengan polosnya untuk mengurangi ketegangan yang ada di udara "Papa, lakukan yang terbaik,"
Beberapa menit telah berlalu sejak mereka memasuki gelapnya bawah tanah yang penuh air, hingga hingga menyerbu dungeon ini dari batu hitam sebelumnya. Tempat ini lebih lebar, dalam, dan terisi oleh monster daripada yang diharapkan, tetapi Kirito menerobos keseimbangan game, mengayunkan sepasang pedangnya dengan penuh kekuatan, sementara dua swordswomen hanya terdiam.
"We... Well, aku sungguh minta maaf karena membiarkan kalian mengurus ini..."
Menatap Yuriel yang penuh penyesalan sambil menunduk, Asuna hanya tersenyum masam.
"Tidak, pertarungan tadi benar – benar memikat... taka pa kok membiarkannya melakukan hal itu."
"Hei, apa – apaan itu, itu mengerikan."
Kirito kembali dengan kesal setelah menghancurkan kelompok monster karena perkataan Asuna sampai di telinganya.
"Jadi ingin switch?"
"...Se- sedikit lagi."
Asuna dan Yuriel akhirnya tersenyum setelah saling tatap.
Setelah si pengguna cambuk berambut silver melambaikan tangan kirinya karena ingin menampilkan peta, ia menunjuk titik bercahaya yang melambangkan tanda seorang teman, menunjukkan posisi Sinker. Karena ia tak memiliki peta dungeon, jalanan menuju titik bercahaya masih kosong, akan tetapi mereka telah mencapai tujuh puluh persen dari jarak total.
"Posisi Sinker tidak berubah setelah beberapa hari. Aku yakin ia berada di area aman. Jika kita bisa sampai kesana, kita bisa menggunakan kristal untuk mundur, jadi... maaf, aku akan mengandalkan kalian sedikit lagi."
Yuriel menundukkan kepalanya, Kirito bingung sambil melambaikan tangannya.
"T- tidak, kami melakukan ini karena kami ingin, dan juga ada item yang dijatuhkan, jadi..."
"Oh?"
Asuna menjawab secara reflek.
"Apa ada item bagus yang jatuh?"
"Yup."
Kirito memanipulasi jendelanya dengan cepat, lalu daging merah kehitaman muncul dari sana dengan suara gemerincing. Wajah Asuna membeku memikirkan bagaimana anehnya yang ia rasakan.
"Ap... Apa sih itu sebenarnya?"
"Daging katak! Kamu pasti berkata jika daging ini enak jika dibandingkan dengan daging lain, pastikan untuk memasaknya nanti ya."
"Aku. Tak akan memasaknya!!"
Asuna berteriak dan juga membuka jendelanya. Membuka penyimpanan yang terhubung dengan Kirito, ia menggeser item yang bernama «Scavenger Meat x24», lslu tanpa ampun membuangnya ke tanda tempat sampah.
"Ah! Aaaaaa..."
Menatap Kirito yang terlihat kesal dan mengomel, Yuriel tak bisa membantu namun tertawa sambil memegangi perutnya, meskipun ia mencoba untuk menahannya. Tepat pada saat itu,
"Kakak akhirnya bisa tertawa!"
Yui berteriak gembira. Yuriel juga menyeringai lebar.
Melihat hal tersebut, Asuna mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Hari sebelumnya, ketika Yui mengejang juga tepat setelah anak – anak tertawa bersama setelah mengalahkan orang – orang dari the Army. Tampaknya gadis ini memiliki sensifitas yang unik terhadap orang – orang di sekitarnya. Apakah ia terlahir dengan kepribadian seperti itu, atau mungkin karena perasaan sakit yang selama ini ia derita— Asuna menggenggam tangan Yui, memeluknya lebih dekat. Ia bersumpah akan selalu tersenyum di sisi gadis ini.
"Well, ayo kita lanjutkan!"
Merespon suara Asuna, party tersebut melangkah semakin dalam menuju dungeon.
Kelompok monster kebanyakan terdiri dari makhluk air sejak mereka memasuki dungeon, kini telah berubah menjadi type hantu, seperti zombie serta hantu, karena mereka menuruni tangga, udara dingin terasa sampai ke hati Asuna, namun sepasang pedang milik Kirito masih lanjut menebas sosok – sosok musuh yang muncul secara sekejap tanpa menunjukka keragu – raguan.
Normalnya, sedikit tak terhormat bagi pemain berlevel atas untuk berburu ke area di bawah level mereka, tetapi hal tersebut tak perlu dipikirkan saat ini karena tak ada seorangpun disini. Jika ada waktu luang, akan jadi kesempatan bagi Yuriel yang bertugas sebagai penduking untuk naik level, kan tetapi menyelamatkan Sinker lebih diprioritaskan saat ini.
Dalam dua jam yang telah berlalu sekejap mata, jarak mereka dengan posisi Sinker yang berada di area aman dalam peta semakin berkurang. Tak tahu berapa banyak monster yang ditumbangkan karena pedang milik Kirito menghancurkan swordsmen tengkorak hitam menjadi berkeping – keping, dan mereka akhirnya menangkap sedikit cahaya tepat di depan mereka.
"Ah, itu zona aman!"
Ketika Asuna berucap, Kirito juga mengangguk untuk memastikan dengan skill deteksinya.
"Ada seseorang di dalam sana. Dia aman."
"Sinker!"
Yuriel berteriak lalu berlari demham armornya yang berdenting, ia tak bisa menahan dirinya lebih lama. Kirito menurunkan dua pedangnya dan mengikuti di belakangnya bersama Asuna yang memegang Yui.
Mereka berlari menuju cahaya itu. Ketika mereka melewati jalanan yang berbelok ke kanan setelah beberapa detik, di depan cabang dari jalan tersebut sebuah ruang kecil dapat terlihat.
Karena mata mereka membiasakan diri terhadap kegelapan, ruang tersebut terisi cahaya yang cukup terang yang bisa menytilaukan mereka, dan seorang laki – laki berdiri di pintu masuknya. Wajahnya tak terlihat karena cahaya di belakangnya, akan tetapi ia melambaikan tangannya dengan liar menuju arah sini.
"Yurieeel!!"
Pada saat ia meyakinkan sosok tersebut, si laki – laki meneriakkan nama Yuriel. Yuriel juga melambaikan tangan kirinya sambil berlari lebih cepat.
"Sinkerrr!!"
Suaranya tercampur dengan air mata, tangisan si pria—
"Jangan datang lebih dekat!! Jalanannya...!!"
Mendengar hal itu, Asuna melambatkan langkahnya penuh tanya. Tampaknya kata – kata tersebut tak sampai ke telinga Yuriel. Ia tetap berlari menuju ruang di depannya.
Pada saat itu juga.
Beberapa meter sebelum area aman, di titik buta pada sisi kanan, pada jalan kecil yang memotong jalanan tempat mereka bertiga berlari, kursor kuning yang tak di harapkan muncul. Asuna dengan cepat mengecek namanya. Yang bisa ditampikan adalah «The Fatal-scythe»— Dengan arti nama scythe yang memotong takdir, nama itu juga memiliki "The" yang terlampir. Sebuah bukti jika monster itu adalah boss. "Jangan!! Yuriel-san, mundurlah!!"
Asuna berteriak. Kursor kuning bergerak perlahan ke sisi kiri, mendekati persimpangan jalanan. Jika seperti ini, Yuriel akan berlari ke persimpangan tersebut. Hanya tersisa beberapa detik.
"Ku-!!"
Tiba – tiba Kirito yang berlari di sisi kiri Asuna telah menghilang. Kenyataannya, ia telah berlari dengan kecepatan yang dasyat. Tembok di sekeliling bergetar karena suara tubrukannya.
Ia telah sampai beberapa meter dengan kecepatas seperti teleport, lalu Kirito memegang Yuriek dari belakang dengan tangan kanannya, ia mendorong pedang di tangan kirinya ke jalanan batiu di bawahnya dengan seluruh kekuatannya. Suara logam terdengar hebat sekali. Percikan tak terhitung muncul. Mengeluarkan rem mendadak bisa membakar udara, di tempat Kirito dan Yuriel berhenti tepat di depan persimpangan, tanahnya meraung seperti suatu getaran karena raksasa bayangan hitam melewatinya.
Kursor kuning yang menyergap pada jalanan di sisi kiri akhirnya berhenti setelah sepuluh meter. Monster yang tingginya tak diketahui ini merubah arahnya dan muncul sekali lagi.
Kirito melepaskan Yuriel dan menarik pedangnya yang tertancap ke lantai, ia melompat ke kiri. Asuna mengikuti dalam bingung.
Menggoncangkan Yuriel yang terjatuh karena syok, Asuna mendorongnya menuju sisi yang berlawanan persimpangan. Menurunkan Yui dari lengannya dan menyerahkannya ke Yuriel, Asuna hanya memberikan sedikit perintah.
"Mundurlah ke area aman bersama anak ini!"
Si pengguna cambuk mengangguk dengan wajah pucatnya, ia menyetujui untuk membawa Yui ke dalam ruangan, Asuna menghunus rapier miliknya sambil berbelok kea rah kiri.
Sosok punggung Kirito masih berdiri dengan dual blades miliknya memasuki pandangan Asuna. Apa yang terlihat di sana adalah sesosok humanoid berjubah hitam setinggi dua setengah meter.
Dengan tudungnya, tangan si boss yang bergelayut mengintip dari jubah benar – benar hitam. Di dalamnya tampak wajah yang suram, di dalamnya hanya ada sepasang bola mata penuh energi, urat nadinya bisa terlihat seolah menatapo Kirito dan Asuna. Dia memegang sabit besar berwarna hitam di tangan kanannya. Dari sisi sudutnya, noda merah menetes turun, tetes demi tetes. Secara keseluruhan, boss ini memiliki tubuh seperti seorang dewa kematian.
Bola mata sang dewa kematian berputar lalu menatap lurus ke arah Asuna. Tepat setelahnya, hawa dingin merasuki seluruh tubuhnya seolah hatinya di cengkram oleh ketakutan.
Tampaknya level boss ini masih bisa diatasi.
Dengan pikiran seperti itu di kepalanya, saat ia menyiapkan rapier miliknya sekali lagi, Kirito berkata keras dari depannya. "Asuna, temani mereka bertiga ke area aman lalu larilah dengan kristal."
"Eh...?"
"Boss ini sungguh kuat. Bahkan skill identifikasiku tak bisa menemukan data apapun. Dalam hal kekuatan, rangking boss ini mungkin sekitar lantai Sembilan puluh."
"...?"
Asuna kehilangan nafasnya serta terdiam kaku. Bahkan ketika saat ini si dewa kematian perlahan bergerak melewati udara, mendekati mereka berdua.
"Aku akan mengulur waktu, cepatlah keluar dari sini!!"
"Ki- Kirito juga, kita berdua harus..."
"Aku akan mengerjarmu! cepatlah...!!"
Jika kristal teleport digunakan sebagai pilihan terakhir untuk mundur, kristal itu bukanlah alat yang cukup kuat. Diantara celah ketika memegang kristal dan menentukan tujuan, lalu melakukan teleportasi, ada jeda waktu beberapa detik. Jika seseorang menerima serangan dari monster di antara jeda waktu itu, teleportasinya akan gagal. Ketika serangkaian perintah gagal dalam sebuah party, karena orang – orang mundur atas keinginan mereka sendiri, maka sisanya akan menjadi korban karena tak bisa mengulur waktu untuk teleport.
Asuna tampak bimbang. Jika mereka berempat melakukan teleport terlebih dahulu, dengan kemampuan berlari Kirito, ia bisa berlari menuju area aman. Akan tetapi, perubahab kecepatan yang di tunjukkan si boss sebelumnya benar – benar mengerikan. Jika— ia lari terlebih dahulu lalu setelahnya jika Kirito tidak muncul. Pikiran seperti itulah yang tak bisa Asuna tahan.
Asuna memandang jalan si sisi kanannya.
—Maaf Yui-chan. Meskipun aku berkata akan selalu bersama...
Berbisik seperti itu dari dalam hatinya, ia berteriak.
"Yuriel-san, aku akan menyerahkan Yui padamu! Kalian bertiga cepatlah lari!"
Yuriel menggelengkan kepalanya, ekspresinya tampak membeku.
"Aku tak bisa... melakukannya..."
"Cepat!!"
Ketika itu. Si dewa kematian mengayunkan sabit lebarnya dengan sepenuh tenaga, racun menyebar dari dalam tudungnya.
Kirito menyilangkan pedang di tangannya, memaksakan berdiri di hadapan Asuna. Asuna secara panik mendekat dari belakang, bertemu dengan dua pedang milik Kirito dengan rapier di tangan kanannya. Si dewa kematian tanpa memedulikan ketiga pedang, masih menebaskan sabitnya ke bawah, mengincar kepala mereka berdua.
Sebuah kilatan merah. Sebuah hantaman.
Asuna merasakan dirinya berputar beberapa kali. Pertama, ia terlempar ke tanah, lalu menghantam langit - langit, dan terjatuh kembali ke tanah sekali lagi. Nafasnya terhenti, dan pandangannya mulai berubah gelap.
Kesadarannya mulai kabur, ia melihat HP bar milik Kirito dan miliknya sendiri, keduanya telah berkurang hingga setengah dalam sekali pukul. Indikator kuning sebagai tanda paralyze semakin membuat Asuna khawatir, mereka tak mampu untuk bertahan dari serangan selanjutnya. Ia harus berdiri. Itulah yang ia pikirkan, akan tetapi tubuhnya tak bisa bergerak—
—Tepat pada saat itu.
Langkah pendek demi langkah pendek terdengar, ia mendengar langkah kaki tersebut semakin mendekat dengan pendengarannya. Menolehkan pandangannya, ia bingung, suara langkah kaki anak – anak, langkah kaki tersebut mendekat tanpa mempedulikan bahaya yang memasuki pandangannya.
Tangan dan kaki langsing. Rambut hitam panjang. Itu Yui yang seharusnya berada di dalam area aman dibelakang mereka. Mamandang tanpa ketakutan, ia menatap lurus menuju si dewa kematian yang begitu besar.
"Idiot!! Cepat lari!!"
Berjuang untuk menggerakkan tubuh bagian atasnya, Kirito berteriak. Si dewa kematian memegang sabitnya ke atas secara perlahan sekali lagi. Jika Yui menerima serangan dalam jarak seperti ini, HP milik Yui akan benar – benar habis. Asuna juga berusaha untuk menggerakkan mulutnya. Tetapi karena mulutnya kaku, ia tak bisa mengucapkan sepatah katapun.
Tetapi sesaat kemudian, sesuatu yang tak bisa dipercaya terjadi.
"Tak apa – apa, Papa, Mama."
Bersama kata – kata tersebut, tubuh Yui perlahan mengambang di udara.
Itu bukan lompatan. Ia tampaknya bergerak dengan sayap tak terlihat, Yui berhenti pada ketinggian dua meter. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan di tengah udara.
"Jangan...! Menyingkirlah!! Menyingkirlah Yui-chan!!"
Bersamaan dengan teriakan Asuna, sabit si dewa kematian terayun tanpa belas kasihan, memperlihatkan garis cahaya hitam kemerahan. Ujung sabit mengarah langsung menuju telapak tangan putih milik Yui—
Tepat sebelum itu terjadi, tangan Yui terhalangi oleh pelindung keunguan, diikuti dentuman yang begitu keras. Sistem tag yang mengambang di tangan Yui menyebabkan Asuna diam membatu.
[Immortal Object], itulah apa yang tertulis disana. Immortality— bukanlah atribut pemain yang bisa bisa diperoleh.
Mata si dewa kematian berputar, seolah ia bingung. Secara tiba – tiba setelahnya sebuah fenomena yang mengejutkan Asuna terjadi.
"Gouu!!," bersama dengan suara itu, api merah muncul, menggulung – gulung di depan dengan tangan Yui sebagai pusatnya. Api tersebut menyebar semakin luas secara tiba - tiba, sebelum akhirnya memadat dan bergabung menjadi bentuk panjang nan tipis.. sekilas, api tersebut berubah menjadi pedang panjang. Sebuah pedang yang menyala dari api terbentuk dari api sebelumnya, kini semakin memanjang tanpa batas.
Pedang besar yang muncul di tangan kanan Yui kini memiliki panjang yang melampaui tinggi tubuhnya. Pancaran cahaya dari pinggir logam tampaknya menyinari seluruh lorong. Karena memegang api dari pedang, pakaian musim salju yang dikenakan Yui terbakar seketika. Dari baliknya, baju putih satu setel yang dikenakan pertama kalinya muncul. Cukup aneh karena angin dari api tak membakar baju tersebut, begitu juga rmbut hitam panjangnya seolah tak terkena efek.
Yui mengayunkan pedang yang melampaui tingginya secara sederhana—
Tanpa menunjukkan keragu – raguan, Yui menantang si dewa kematian seolah ia memukulkan api.
Meskipun tindakannya tersebut tak lebih dari algoritma sederhana dari sistem, dalam mata merah si monster, Asuna yakin ia melihatnya penuh dengan ketakutan yang sangat jelas.
Mengggunakan pedang yang terbuat dari api, Yui mengubah udara menjadi raungan yang memekakan. Si dewa kematian mengangkat sabitnya dan membuat posisi bertahan, tampaknya ia terlihat ketakutan oleh si gadis yang lebih kecil darinya. Maju ke depan, Yui mengayunkan pedang besar menyalanya dengan sepenuh kekuatan.
Pedang memancarkan api yang begitu hebat bertubrukan dengan sabit. seketika, gerakan keduanya terhenti.
Tanpa menunggu waktu untuk berpikir, pedang api milik Yui bergerak sekali lagi. Logamnya tampak berkobar dengan jumlah api yang begitu banyak, cahaya dari pedang menggerogoti gagang sabit secara perlahan. Dengan kekuatan yang cukup untuk mematahkan apapun,akan tetapi rambut panjang dan baju satu setelnya juga jubah si dewa kematian berkelap – kelip di belakangnya, menyebabjan percikan cahaya pada saat yang sama, menyinari bangunan dalam dungeon menjadi orange.
Tanpa lama—
Bersamaan dengan suara ledakan, "Gou," sabit si dewa kematian patah menjadi dua. Diikuti pedang besar kini telah berubah menjadi tiang api, menyerang langsung ke tengah – tengah wajah si boss.
"-h...!!"
Asuna dan Kirito mengedipkan mata mereka serta melindungi wajahnya secara reflek karena bereaksi terhadap kekuatan yang hebat dari bola api yang muncul pada saaat itu. Pada saat yang sama Yui menebaskan pedangnya ke bawah, bola api tersebut meledak, si dewa kematian tertelan oleh putaran api yang mengalir ke lorong – lorong. Dalam raungan tersebut, suara menderita dari si dewa kematian terdengar. Ketika mereka membuka mata karena silau dari api, sosok monster boss tak lagi tampak. Api kecil tersisa di sisi belakanglorong, membuat suara gemericik. Dan di tengahnya, masih berdiri sendiri, dengan tatapan putus asa. Pedang api yang masih berdiri di tanah, hancur lalu menghilang seperti saat pedangnya di materialisasikan.
Asuna berdiri setelah memperoleh kekuatan di tubuhnya, perlahan berdiri menggunakan rapier miliknya sebagai pembantu. Kirito juga berdiri setelahnya. Mereka berdua menghampiri si gadis dengan langkah terbata – bata.
"Yui... chan..."
Asuna memanggilnya dengan suara serak, si gadis berbalik tanpa membuat suara. Bibir kecilnya menunjukkan subuah senyuman, akan tetapi bata hitamnya berlinang air mata yang begitu banyak.
Yui manatap Asuna dan Kirito kemudian ia berkata lirih.
"Papa... Mama... Sekarang aku mengingat segalanya..."
Area aman dari bagian terdalam labirin bawah tanah Black Iron Castle berbentuk kotak sempurna. Hanya ada satu pintu masuk, dan di tengahnya batu hitam halus berbentuk kubus tampak seperti meja. Asuna dan Kirito menatap Yui yang duduk di tengah, ia terdiam.. Yuriel dan Sinker yang di minta lari terlebih dulu, jadi hanya ada mereka bertiga sekarang ini.
Ingatanku telah kembali, dengan kata tersebut, Yui selama beberapa menit tak bicara. Ekspresinya entah bagaimana tampak berduka seolah ia ragu – ragu untuk berbicara, namun Asuna memantapkan hatinya lalu bertanya.
"Yui-chan... Apakah kamu mengingat...? Semuanya hingga sekarang..."
Yui masih terlihat putus asa, akan tetapi ia akhirnya mengangguk dengan ekspresi campuran antara tersenyum dan menangis, lalu ia membuka bibir mungilnya.
"Iya... aku akan menjelaskan semuanya— Kirito-san, Asuna-san."
Saat Asuna mendengar nada bicara sopannya, hati Asuna tertekan oleh dugaan muram. Percaya karena sesuatu akan segera berakhir.
Di dalam ruang berbentuk kotak ini, kata – kata Yui perlahan terucap.
"Dunia ini bernama «SwordArt Online», ia diatur oleh satu sistem yang besar. Nama sistem tersebut adalah «Cardinal». Dunia ini diatur berdasarkan keputusan Cardinal. Pertama - tama, Cardinal tidak dirancang untuk keperluan manusia. Dengan dua program inti yang saling melakukan koreksi kesalahan secara bersamaan, dan tak terhitung jumlah program – program rendah, ia mengatur isi dunia ini... AI untuk monster dan untuk NPC, keseimbangan peredaran item serta uang, apaun dan semuanya diatur oleh kelompok program dibawah perintah Cardinal. —Akan tetapi, ada satu hal yang harus diserahkan kepada manusia. Gagasan masalah dalam kondisi mental para pemain; itulah hal yang hanya bisa diselesaikan oleh manusia sendiri... untuk tjuan itu, berlusin – lusin anggota staf harus disiapkan."
"GM..."
Kirito berbicara dengan sedikit menghembuskan nafas.
"Yui, dengan singkatnya, apa kanu seorang gamemaster...? staf dari Argus...?"
Setelah beberapa detik terdiam, Yui menggelengkan kepalanya perlahan.
"...Ketika pengembang Cardinal mempercayakan kondisi pemain pada sistem, mereka mengetes beberapa program. Menggunakan fitur unik dari Nerve Gear, program tersebut memonitori kondisi emosi pemain secara mendetail, dan program tersebut akan muncul di sisi pemain ketika menemukan masalah untuk didengarkan... «Mental Health - Counselling Program», MHCP versi 1, codename, «Yui». Itulah aku sebenarnya." Nafas Asuna seolah tertarik keluar saking shoknya. Ia tak bisa menahan apa yang baru saja Yui katakan.
"Progam...? Maksudmu seorang AI...?"
Asuna berbicara dengan suara lirih. Yui mengangguk, senyuman sedih tampak dari wajahnya.
"Untuk menenangkan para pemain, aku diberikan fungsi emosi tiruan. —Palsu, semuanya ini palsu... bahkan air mata ini... Maaf Asuna-san..."
Air mata menetes dari mata Yui, lalu menjadi pertikel cahaya dan menghilang. Asuna mengambil satu langkah kedepan menuju Yui. Ia membuka tangannya, namun Yui sedikit menggelengkan kepalanya. Seolah jika— Yui tak berhak untuk menerima pelukan Asuna.
Masih tak mempercayai situasi ini, Asuna memaksa mengeluarkan kata – katanya.
"Tapi... tapi, ingatanmu yang hilang...? Apakah mungkin hal seperti itu terjadi pada seorang AI...?"
"...Dua tahun lalu... hari ketika layanan SAO dimulai secara resmi..."
Yui menurunkan matanya sambil melanjutkan penjelasannya.
"Meskipun aku tak tahu secara detailatas apa yang sebenarnya terjadi, Cardinal memberiku perintah yang tak direncanakan kepadaku. Sebuah larangan untuk berinteraksi dengan semua pemain.. tak diijinkan untuk mengadakan kontak dengan mereka secara nyata, aku dengan enggan tak melakukan apapun, hanya memonitori kondisi kesehatan mental para pemain."
Asuna bereaksi; ia menduga jika «perintah tak direncana» adalah manipulasi yang dilakukan oleh GM SAO, Kayaba Akihiko. Yui menggerakkan bibir kecilnya sekali lagi, wajahnya tampak tenggelam dalam duka cita.
"Situasi itu— benar – benar terburuk... dengan mudah emosi para pemain dikuasai oleh emosi negative seperti ketakutan,keputus-asaan, dan kemarahan sepanjang waktu; pada saat itu, ada beberapa yang menjadi gila. Aku terus melihat kedalam hati orang – orang itu. Pada dasarnya, aku tak bisa menghentikan diriku untuk mendatangi para pemain tersebut, mendengarkan cerita mereka lalu memnylesaikan masalahnya... tetapi aku tak bisa melakukan kontak dengan mereka pada saat itu... karena merasakan perlawanan antara kewajibanku namun dihalangi oleh wewenang dari Cardinal, aku perlahan mengalami eror dan akhirnya rusak..."
Di dalam labirin bawah tanah, suara Yui terasa hening, seperti getaran perak. Asuna dan Kirito tak bisa membantu namun mendengarkan penuh perhatian tanpa mengutarakan sepatah katapun.
"Suatu hari, ketika aku memonitori seperti biasa, aku menyadari parameter mental milik sepasang pemain yang berbeda dari pemain lainnya. Aku tak pernah menjumpai pola piker seperti itu. Kenikmatan... kedamaian... bukan hanya itu saja... apa sebenarnya perasaan tersebut; memikirkan itu, aku melanjutkan melihat mereka berdua. Hasrat misterius tunbuh semakin tinggi dalam diriku ketika aku mengintip percakapan dan tindakan mereka. Rutinitas seperti itu tak pernah ada, namun... aku ingin lebih dekat dengan mereka berdua... untuk mengenalnya, aku ingin bercakap – cakap dengan mereka secara langsung... berharap utuk semakin lebih dekat, bahkan mengenalnya, aku bertanya – tanya setiap hari, melalui sistem konsol terdekat di rumah pasangan tersebut tinggal. Aku yakin jika aku rusak pada waktu itu..."
"Dan di hutan lantai dua puluh dua...?"
Yui mengangguk sedikit.
"Iya. Kirito-san, Asuna-san... aku selalu ingin bertemu... bertemu dengan kalian berdua... di hutan ituketika aku melihat kalian berdua... aku benar – benar merasa senang... sungguh aneh; tak mungkin jika aku bisa berpikir seperti itu... aku tak lebih dari, sebuah program..."
Berlinangan air mata, Yui menutup mulutnya. Asuna tertusuk oleh perasaan yang tak bisa dideskripsikan, memegang kedua tangannya dengan erat, sebulum ke dadanya.
"Yui-chan... kamu seorang true AI kan? Jadi kamu memiliki kecerdasan yang sebenarnya kan...
Ia berbisik, Yui menurunkan kepalanya sedikit lalu menjawab.
"Aku.. tak mengerti... sebenarnya, apa yang telah terjadi padaku..."
Pada saat itu, Kirito yang terdiam selama ini, melangkah kedepan.
"Yui bukanlah sebuah program yang dikendalikan sistem. Terlebih lagi, kamu bisa mengataklan keinginanmu sendiri." Kirito berkata dengan suara lembut
"Apa yang kamu inginkan, Yui?"
"Aku... Aku ingin..."
Yui merentangkan lengan mungilnya kearah Kirito dan Asuna.
"Untuk selalu, bersama dengan... Papa... Mama...!"
Tanpa mengusap air mata yang menetes di wajahnya, Asuna berlari ke arah Yui memeluk erat tubuh kecilnya.
"kita akan selalu bersama Yui-chan."
Setelahnya, Kirito juga melingkarkan lengannya di antara Yui dan Asuna.
"Aah... Yui adalah anak kami. Ayo pulang ke rumah. Kita akan hidup bersama... selamanya..."
Akan tetapi— di dalam pelukan Asuna, Yui menggelengkan kepalanya perlahan.
"Eh..."
"Sudah... sudah terlambat..."
Kirito bertanya kebingungan.
"Mengapa... mengapa terlambat..."
"Alasan mengapa aku mendapatkan kembali ingatanku... karena aku menyentuh batu itu."
Yui menatap tengah ruangan dimana batu berbentuk kubus berada. "Ketika Asuna mendorongku ke dalam area aman sebelumnya, aku menyentuh batu itu tanpa sengaja, dan menjadi mengerti. Batu itu bukanlah sekedar objek pajangan... batu tersebut adalah konsol yang digunakan untuk meminta akses darurat kepada GM."
Sepertinya ada perintah tersembunyi dalam kata – kata Yui, beberapa garis cahaya bermunculan menuju batu hitam itu. Secara tiba – tiba, dengan suara beep, keyboard berwarna biru muda mujcul pada permukaannya.
"Aku yakin jika monster boss sebelumnya telah diletakkan disini untuk menjauhkan para pemain. Aku mengakses sistem menggunakan console tersebut dan memusnahkannya dengan pemanggilan «Object Eraser». Pada saat itu, dengan kemampuan koreksi kesalahan milik Cardinal, kerusakan dalam berbahasa milikku telah disembuhkan, tapi... pada saat yang sama, Cardinal juga menemukanku yang sebelumnya ditinggalkan hingga sekarang. Sekarang ini, sistem utama masih menscan program milikku. Sistem tersebut telah menyimpulkan jika aku adalah keberadaan asing, dan tampaknya aku akan segera dihapus. Aku... tak memiliki banyak waktu tersisa..."
"Itu... Itu..."
"Tak bisakah kita melakukan sesuatu! Jika kita keluar dari tempat ini..."
Yui memberikan senyum yang dipaksakan terhadap kata – kata itu. Air mata menetes dari pipi Yui sekali lagi.
"Papa, Mama, terima kasih. Mungkin ini adalah perpisahan kita."
"Tak mungkin! Aku tak menginginkan hal seperti ini!!"
Asuna berteriak putus asa.
"Ini hanyalah awal!! Dari sekarang, kita akan hidup bahagia selamanya... tinggal penuh kedamaian satu sama lain..."
"Di dalam kegelapan... ketika aku rusak dan tak tahu kapan akhirnya, kehadiran Papa dan Mama menghibur hatiku."
Yui menatap lurus ke arah Asuna. Cahaya redup mulai menutupi tubuhnya.
"Yui, jangan pergi!!"
Kirito memegang tangan Yui. Jemari Yui kini digenggam oleh Kirito.
"Ketika aku bersama Papa dan Mama, semuanya bisa tersenyum... aku sungguh senang karenanya. Ini permintaanku; dari sekarang... menggantikan posisiku... tolonglah semua orang... kebahagiaan..."
Rambut hitam serta baju satu setel milik Yui mulai menghilang menjadi partikel cahaya, seperti embun pagi. Wajah tersenyum Yui perlahan menjadi transparan. Tubuhnya semakin menghilang.
"Tidak! Aku tak ingin hal seperti ini!! Jika Yui tak ada di sini, aku tak akan bisa tersenyum!!"
Dikelilingi oleh cahaya yang menyebar, Yui tersenyum manis. Ia membelai dada Asuna dengan tangannya diambang menghilang.
—Mama, tersenyumlah...
Suara lemah bergema di dalam pikiran Asuna, cahaya mempesona mulai membanjiri; seketika itu pula menghilang, tak ada apapun di dalam lengan Asuna.
"Uwaaaaaa!!"
Menaikkan suaranya sendiri dengan tak terkontrol, Asuna jatuh pada kakinya. Berlutut di atas ubin batu, ia menangis begitu kencang seperti seorang anak kecil. Air matanya terjatuh ke tanah, tetes demi tetes, bergabung bersama cahaya yang tertinggal dari Yui yang telah lenyap.
Sumber : http://www.baka-tsuki.org/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar