Bagian 2
Bermandikan cahaya pagi, sebuah nada merdu terdengar dalam kesadaran Asuna yang masih mengantuk. Suara itu adalah suara jam alarm dengan nada yang memainkan oboe[37]. Berada dalam sensasi di ujung bangunnya, Asuna menikmati melodi tersebut, entah mengapa berisi bernostalgia. Belum lama ini, gema menyegarkan yang berasal dari instrument senar dan klarinet saling berkaitan satu sama lain, bersamaan suara senandung samar
—Senandung?
Asuna bukanlah orang yang bersenandung. Asuna membuka matanya.
Dalam pelukannya, kelopak mata si gadis berambut hitam masih tertutup... namun, dia bersenandung bersamaan dengan melodi yang berasal dari jam alarm milik Asuna.
Si gadis bahkan tidak melewatkan satupun nada. Bagaimanapun, hal itu mustahil. Karena Asuna mengatur alarm tersebut hanya untuk didengarkan olehnya saja, tak mungkin orang lain dapat menghafal nada seperti bernyanyi bersamaan melodi di dalam pikirannya.
Setidaknya, Asuna memilih untuk mengesampingkan keraguan tersebut untuk saat ini. Dibandingkan itu—
"Ki- Kirito-kun, ya ampun, Kirito-kun!!"
Tanpa bergerak satu inci pun, dia memanggil Kirito yang sedang tertidur di kasur belakang. Ada tanda dari Kirito yang berguman sedikit menandakan dia terbangun.
"...Selamat pagi. Ada sesuatu?"
"Cepat, kesini!"
Terdengar derit lantai kayu. Mengganti tatapannya pada Asuna yang berada di kasur, Kirito membuka matanya lebar – lebar dengan segera.
"Dia bernyanyi...!?"
"Y- Yeah..."
Asuna secara pelan menggoncangkan si gadis dengan kedua tangannya dan memanggilnya.
"Hei, bangun... buka matamu."
Si gadis menghentikan gerakan bibirnya. Segera, bulu matanya yang panjang bergetar lemah dan perlahan terangkat.
Dengan matanya yang berair, dia mengintip langsung ke dalam mata Asuna, tepat sebelum melihat Asuna. Berkedip beberapa kali, dia hampir membuka bibirnya yang sedikit kecil dan tak berwarna.
"Aa... uu..."
Suara si gadis terdengar, seperti perak yang sedikit bergetar, sebuah suara yang indah. Asuna berdiri, masih memegang si gadis.
"...Syukurlah, kamu akhirnya bangun. Apakah kamu mengetahui sesuatu, well, apa yang terjadi padamu?"
Ketika berbicara seperti itu, si gadis tetap terdiam setelah beberapa detik lalu menggelengkan kepalanya sedikit.
"Aku paham... Siapa namamu? Bisakah kamu memberitahunya?"
"N... aama... nama.. ku... "
Karena si gadis memiringkan kepalanya, rambut hitamnya yang berkilau jatuh ke pipinya.
"Yu... i. Yui. Itu... namaku..."
"Owh, Yui-chan? Sungguh nama yang cantik. Aku Asuna. Dan orang itu adalah Kirito."
Karena Asuna berbalik, si gadis yang memanggil dirinya sendiri Yui mengikuti dan menggeser pandangannya. Melihat kesana kemari di antara Asuna dan Kirito yang setengah membungkuk ke depan, lalu ia membuka mulutnya.
"A... una. Ki... to."
Dengan bibirnya yang goyah, dia berbicara dengan suara terputus – putus. Ketakutan Asuna dari malam sebelumnya kembali. Penampilan luar si gadis setidaknya berusia delapan tahun; jika kamu mempertimbangkan waktu yang telah berlalu sejak dia log in, usia sebenarnya seharusnya mencapai usia sepuluh tahun sekarang. Namun, kata – kata gemetar si gadis ini, seolah – olah keluar dari seorang bayi yang baru saja memperoleh kesadaran.
"Hei, Yui-chan. Mengapa kamu berapa di lantai dua puluh dua? Apakah ayah atau ibumu mungkin, berada di sekitar sini?"
Yui menggerakkan bibirnya kebawah dan tenggelam dalam diam. Tetap terdiam selama beberapa saat, dia menggelengkan kepalanya kebelakang dan depan.
"Aku tidak... tahu... Aku tidak...tahu, apapun..."
Setelah duduk di kursi pada meja makandan menawarkan segelas susu manis hangat, si gadis memegang cangkir di dada dengan kedua tangannya lalu meminumnya. Mengawasinya dari sudut matanya, Asuna mendiskusikan situasi ini dengan Kirito dengan jarak terpisah dari si gadis.
"Hei, Kirito-kun. Apa yang kamu pikirkan...?"
Kirito menggigit bibirnya dengan ekspresi serius, tapi segera berbicara dengan wajah tertunduk.
"Tampaknya... dia telah kehilangan ingatannya. Tetapi, dengan reaksi seperti itu... seperti, pikirannya juga mendapat kerusakan atau..."
"Yeah... kamu juga berpikir seperti itu kan, huh..."
"Sial."
Wajah Kirito berubah, tampaknya hendak mengeluarkan air mata.
"Di dunia ini... aku telah melihat banyak hal mengerikan... tapi, hal ini... yang paling buruk. Ini terlalu kejam..."
Melihat mata Kirito berair, Asuna juga merasakan sesuatu yang meledak dari dadanya. Menggenggam tangan Kirito, dia berbicara.
"Hal ini pasti akan baik – baik saja kan, Kirito-kun. ...jika itu kita, pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan."
"...Yeah. benar..."
Kirito mengangkat kepalanya dan tersenyum kecil, menepuk tangannya ke pundak Asuna dan kembali ke meja makan. Asuna mengikuti di belakangnya.
Pindah ke kursi dengan dentuman, Kirito duduk di samping Yui lalu memulai percakapan dengan suara menyenangkan.
"Aah, Yui-chan....Bolehkah aku memanggilmu Yui?"
Mengangkat mukanya dari cangkir, Yui mengangguk.
"Aku mengerti. Lalu, Yui bisa memanggilku, Kirito."
"Ki... to."
"Itu, Kirito. Ki, ri, to."
"..."
Yui memasang ekspresi rumit dan tetap terdiam untuk beberapa saat.
"...Kiito."
Kirito tersenyum lebar dan meletakkan tangannya di kepala Yui.
"Mungkin itu sedikit sulit. Kamu bisa memanggilku dengan nama lain yang lebih mudah kamu inginkan."
Yui sekali lagi terdiam untuk sementara waktu. Dia tidak mengaduk isi gelasnya sedikitpun, bahkan ketika Asuna mengambil cangkir dari atas meja dan mengisi kembali dengan susu.
Cukup lama menunggu, Yui menaikkan wajahnya perlahan dan menatap Kirito, dengan takut - takut, dia membuka mulutnya.
"...Papa."
Lalu, Yui berbalik kearah Asuna dan berbicara.
"Auna adalah... Mama."
Asuna tak bisa mengendalikan gemetarannya. Dia tidak tahu jika gadis ini salah paham jika Kirito dan Asuna adalah orang tua sebenarnya, atau mungkin— bahwa orang tuanya tidak ada di dunia ini sama sekali, dan dia menginginkan keduanya; tapi sebelum berurusan dengan kecurigaan tersebut, Asuna dengan panik mencoba untuk menahan perasaan yang mengisi hatinya dan mencoba untuk keluar, lalu Asuna mengangguk sambil tersenyum.
"Betul... Ini Mama, Yui-chan."
Mendengar itu, Yui tersenyum untuk pertama kalinya. Di bawah rambutnya yang lurus, matanya yang berseri tanpa ekspresi, dan dalam waktu singkat, warna tampaknya telah kembali ke wajahnya seperti boneka.
"...Mama!"
Melihat lengan yang terentang ke arahnya, Asuna merasakan sakit di dalam dadanya.
"Uu..."
Dengan sungguh – sungguh menahan air mata yang akan keluar, Asuna entah bagaimana berhasil untuk mempertahankan senyumnya. Dia membawa Yui dari atas kursi dan memeluknya, Asuna meneteskan sebuah air mata yang terisi dengan berbagai macam emosi, lalu menetes di pipinya.
Setelah selesai meminum susu hangat dan menghabiskan roti kecil miliknya, Yui tampaknya telah mengantuk sekali lagi, karena kepalanya bergoyang kesana kemari sambil duduk di atas kursi.
Melihat tingkah laku si gadis sambil duduk di sisi lain meja, Asuna mengusap matanya dengan tangannya lalu melihat kearah Kirito yang duduk di sebelahnya.
"A- Aku..."
Meskipun membuka mulutnya, Asuna tak bisa membentuk kata – kata yang ingin ia ucapkan.
"Maaf, aku tak tahu harus aku lakukan..."
Kirito menatap Asuna dengan mata iba, tapi segera berbicara dengan suara mendesah.
"...Hingga anak ini mendapatkan kembali ingatannya, kamu ingin tinggal dan menjaganya kan? Aku mengerti... perasaan tersebut. Aku juga merasakan hal yang sama... hal ini sungguh menyakitkan... jika kita melakukannya, kita tak bisa kembali untuk menyelesaikan game sementara waktu, dan dengan hal tersebut, waktu untuk membebaskan anak ini juga akan tertunda..."
"Yeah... itu semua benar..."
Menyandarkan dirinya kesamping, Asuna mulai berpikir. Bukannya melebih - lebihkan, tapi kehadiran Kirito sebagai seorang clearing player berada di atas rata - rata, dia menyediakan peta perjalanan di dalam area labirindengan jumlah di atas rata – rata guild terkemuka sambil menjadi seorang solo player. Sementara merencanakan hal tersebut hanya terlewat beberapa minggu karena bulan madu setelah menikah, memonopoli Kirito oleh dirinya sendiri seperti ini cukup membuatnya merasa sedikit bersalah.
"Untuk sekarang, mari lakukan apa yang kita bisa."
Melihat ke arah Yui yang telah tertidur, Kirito melanjutkan perkataannya.
"Pertama - tama, mari pergi ke Starting City dan lihat apakah kita bisa menemukan orang tua atau saudaranya. Dengan kehadirannya sebagai pemain, aku yakin setidaknya ada sekelompok orang yang mengenalinya."
"..."
Hal itu sebuah kesimpulan yang alami. Namun, Asuna menyadari perasaannya yang tidak ingin berpisah dari gadis ini. Ini adalah kehidupan dimana ia bisa hidup berduaan dengan Kirito, yang mana pernah ia impikan; tapi entah mengapa, Asuna tidak keberatan jika hidup bertiga bersama Yui. Hal ini mungkin disebabkan karena ia merasa jika Yui bisa menjadi putri dari Kirito dengannya...Mendapat pikiran seperti itu, Asuna terkejut dan kembali ke kesadarannya, dan tersipu.
”...? Kenapa sih?"
"B- Bukan apa - apa!!"
Asuna berbalik dari Kirito yang tampak curiga, dan menggoncangkan kepalanya ke belakang dan depan.
"I- Itu benar. Ketika Yui-chan bangun, mari pergi ke Starting City. Kita juga bisa mencari sesuatu di pojok Q&A pada koran ketika dalam perjalanan."
Masih tidak bisa melihat wajah Kirito, Asuna berbicara dengan cepat sambil merapikan meja makan dengan tergesaa - gesa. Ketika ia melihat ke arah Yui yang tertidur di atas kursi, mungkin ini hanya imajinasinya saja, namun wajah tertidurnya terlihat berbeda dari kemarin, kali ini tampak lebih cerah.
Dipindahkan ke kasur, Yui tertidur sepanjang pagi, dan bertanya – tanya apakah dia kembali koma, Asuna benar – benar khawatir; tapi untungnya, dia terbangun ketika persiapan untuk makan siang telah selesai.
Meskipun memanggang kue buah – buahanyang jarang Asuna buat. Karena untuk Yui, ketika Yui menduduki tempatnya di meja makan, daripada kue, Yui menunjukkan ketertarikan lebih pada sandwich penuh mustard yang digigit oleh Kirito hingga menjadi dua.
"Ah, Yui, yang ini benar – benar pedas lho."
"Uu... Yui ingin punya makanan yang sama dimiliki Papa."
"Aku mengerti. Aku tidak akan menghentikanmu jika Yui telah membuat pilihan. Pengalaman adalah segalanya."
Setelah menyerahkan sandwich, Yui melebarkan mulut mungilnya dengan sekuat tenaga lalu mengambil gigitan pertama tanpa ragu - ragu.
Kirito dan Asuna menahan nafas mereka ketika melihatnya mengunyah makanan dengan ekspresi rumit, dan akhirnya Yui berhasil menelannya menuju tenggorokan dengan tegukan lalu berseri riang.
"Yummy."
"Anak ini punya nyali juga."
Kirito tersenyum lalumengusap kepala Yui.
"Ayo kita coba tantangan dengan memakan hidangan makan malam yang sangat pedas."
"Ya ampun, jangan terbawa! Tak mungkin aku membuat makanan seperti itu!"
Tapi jika Kirito dan Asuna menemukan pengasuh Yui di Starting City, orang yang kembali ke sini hanya mereka berdua. Berpikir seperti itu, Asuna merasakan kesepian yang berada di hatinya.
Asuna menatap ke arah Yui yang telah selesai memakan sisa sandwich dan sedang meminum susu dengan tatapan puas, sebelum berbicara.
"Oh, Yui-chan, ayo pergi keluar di sore ini."
"Pergi keluar?"
Menatap lurus ke arah wajah Yui yang kebingungan, Asuna berhenti sejenak, bertanya – tanya bagaimana menjelaskannya ketika Kirito memotong.
"Kita pergi mencari teman – teman Yui."
"Teman... Apa itu?"
Bereaksi atas jawaban tersebut, keduanya bertukar pandang secara reflek. Ada banyak keganjilan pada «sindrom» yang diderita Yui. Bukan hanya kemunduran mental, sindrom ini lebih memberi kesan bahwa kepingan ingatannya hilang.
Untuk memulihkan kondisinya, menemukan pengasuh sebenarnya pastilah cara terbaik... mengatakan hal seperti itu pada dirinya sendiri, Asuna menatap Yui lalu menjawab.
"Well, teman itu adalah orang yang bisa membantu Yui-chan. Sekarang, ayo siap - siap."
Ekspresi Yui masih menunjukkan sedikit keraguan, namun ia mengangguk lalu berdiri.
Baju putih satu setel yang di kenakan gadis ini memiliki lengan pendek dan terbuat dari bahan tipis, pastilah dingin jika pergi keluar ketika musim seperti ini, awal musim dingin. Tentunya, merasa dingin, atau mungkin bisa masuk angin, menderita karena damage, hal seperti itu tak akan terjadi— well, namun akan lain ceritanya jika kamu telanjang dan pergi ke area dingin, tapi— fakta bahwa seseorang biasanya akan merasa gelisah tidaklah berubah.
Asuna menggerakkan daftar item miliknya, mematerialkan pakaian tebal satu persatu, dan akhirnya Asuna menemukan sebuah sweater yang cocok untuk Yui, ia mendatanginya lalu tiba – tiba berhenti.
Umumnya, ketika mengequipkan pakaian, seseorang akan memanipulasi equipment melalui jendela status. Baju, cairan dan benda – benda halus lainnya tidak dibuat secara baik di SAO, oleh karena itu, dibandingkan sebuah benda terpisah secara sendiri, pakaian dianggap sebagai bagian dari tubuh itu sendiri.
Menyadari keragu – raguan Asuna, Kirito menanyai Yui.
"Yui, tentang jendela milikmu, dapatkah kamu membukanya?"
Seperti yang diduga, si gadis menggelengkan kepalanya sebagai tanda ketidaktahuan.
"Well, coba gerakkan jari pada tangan kananmu. Seperti ini."
Kirito mengayunkan jarinya, lalu sebuah jendela persegi berwarna ungu muncul di bawah tangannya. Melihat hal itu, Yui meniru gerakan tersebut dengan tangan gemetar, tetapi jendela miliknya tidak terbuka.
"...Seperti dugaanku, ada semacam bug pada sistemnya. Tetapi, tidak bisa membuka jendela status milik sendiri itu masalah serius... kamu tidak bisa melakukan apapun jika seperti itu."
Karena Kirito menggigit bibirnya, merasa terganggu, Yui yang baru saja melambaikan jari pada tangan kanannya, kini melambaikan tangan kirinya. Tepat pada saat itu, sebuah jendela keunguan muncul di bawah tangannya.
"Jendelanya keluar!"
Diatas Yui yang menyeringai penuh kepuasan, Asuna bertukar pandang dengan Kirito, yang melihat kembali sambil terkejut.Asuna tak tahu apa yang baru saja terjadi.
"Yui-chan, bolehkah aku melihat – lihat."
Asuna membungkuk dan memandang dengan tajam ke dalam jendela milik Yui. Bagaimanapun juga, status pemain biasanya tersembunyi untuk semua orang, kecuali pemiliknya, dan apa yang bisa Asuna lihat hanyalah layar sederhana yang kosong.
"Maaf, bolehkah kupegang tanganmu sebentar."
Asuna memegang tangan Yui dengan tangannya, menggerakkan jari kecilnya, mengklik di sekitar tempat dimana ia pikir tombol visibility mode berada.
Tujuan utama Asuna adalah agar fitur layar jendela segera terlihat keluar dengan efek suara kecil. Biasanya, melihat status orang lain bisa dianggap suatu etika paling buruk, meskipun dalam situasi yang tidak biasa, Asuna mencoba yang terbaik agar bisa melihatnya dan yang terbuka hanya penyimpanan, tatapi...
"Ap- Apa ini!?"
Memandang untuk kedua kalinya pada bagian atas layar, ia benar – benar kaget.
Bagian atas menu jendela memang terlihat normal, terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pengaturan ada di bagian paling atas, nama ditampilkan dalam bahasa inggris bersamaan dengan bar HP dan EXP yang panjang dan tipis, lalu dibawahnya, pada bagian kanan tengah, merupakan bagian equipment figure, sedangkan bagian kiri sisanya merupakan rangkuman dari tombol perintah. Ada begitu banyak contoh desain untuk memodifikasi icon dan semacamnya, tetapi layout default tak bisa diganti. Dengan kata lain, pada bagian paling atas dari jendela milik Yui, hanya nama aneh yang ditampilkan yaitu «Yui-MHCP001», dengan tidak adanya bar HP ataupun bar EXP, dan juga level yang tidak ditampilkan. Meskipun bagian equipment figure ada, jumlah tombol perintah sangat sedikit dari biasanya, hanya ada «Item» dan «Option».
Menyadari Asuna yang terdiam membeku, Kirito juga mendekat dan mengintip kedalam jendela milik Yui, dan menahan nafasnya ketika ia melihat. Yui, yang tidak mengetahui keanehan jendela miliknya, menatap keduanya dengan tatapan ingin tahu apa yang terjadi.
"Apakah ini juga... sebuah bug pada sistem...?"
Asuna berguman, dan erangan keluar dari tenggorokan Kirito.
"Untuk beberapa alasan... dibandingkan sebuah bug, tampaknya jendela ini lebih terlihat seperti sebuah desain yang benar – benar awal... Sial, aku tak pernah berfikir untuk lebih kesal karena tidak ada GM sebelumnya, namun hal ini."
"Umumnya, di dalam SAO, jarang ada bug ataupun lag untuk dibicarakan, jadi kita jarang membutuhkan bantuan GM... Aku kira tidak ada gunanya merenung akan masalah ini lagi sekarang..."
Mengangkat bahunya, Asuna menggerakkan jari Yui sekali lagi, membuka penyimpanan. Menempatkan sweater yang ia ambil dari atas meja kedalamnya, item akan tersimpan kedalam jendela penyimpanan dengan sekejap. Selanjutnya, Asuna menyeret nama sweater menuju menu equipment figure, dan menjatuhkannya disana.
Bersamaan efek suara yang terdengar seperti sebuah bel, tubuh Yui diselimuti cahaya, menampilkan sweater berwarna pink ke dalam bentuk nyata pada Yui.
"Waah..."
Memperlihatkan ekspresi senang, Yui melebarkan tangannya dan melihat ke seluruh bagian tubuhnya sendiri. Asuna mengikuti, memakai baju yang memiliki warna yang agak mirip dengan celana hitam, dan sepatu merah lalu mengequipkan item tersebut satu sama lain, akhirnya setelah mengembalikan baju satu setel miliknya kedalam penyimpanan, Asuna menghilangkan jendela miliknya.
Selesai berpakaian, Yui terlihat senang, lalu ia menggosok pipinya dengan sweater lembut dan menarik roknya.
"Sekarang, ayo berangkat."
"Um. Papa, gendong."
Menanggapi reaksi Yui yang membuka kedua tangannya tanpa peduli, Kirito dengan malu memberikan senyum masam lalu mengangkat tubuh si gadis. Ketika melakukan itu, ia memandang Asuna lalu berbicara.
"Asuna, dalam masalah ini, bersiaplah untuk bertarung kapanpun. Kita tidak seharusnya pergi ke kota, tetapi... karena kota itu adalah daerah kekuasaan milik « The Army»..."
"Hm... lebih baik tidak menurunkan kewaspadaanmu."
Dengan satu anggukan, Asuna mengecek kembali penyimpanan miliknya lalu berjalan menuju pintu dengan Kirito. Pastilah baik jika pengasuh gadis ini berhasil ditemukan; hal ini adalah perasaan jujur milik Asuna, tapi membayangkan membuat party dengan Yui membuatnya merasa tidak nyaman. Mereka baru saja bertemu satu hari bertemu, namun tampaknya Yui telah mengambil sebagian hati milik Asuna.
Sebenarnya telah berbulan – bulan berlalu sejak kunjungannya menuju lantai pertama, «Starting City».
Merasakan emosi yang komplek dalam hatinya, Asuna masih berdiri di dekat gerbang keluar teleport, menatap plaza yang besar ini dan jalan – jalan membentang diluarnya.
Tentu saja, karena ini adalah kota terbesar dalam Aincrad, membandingkan fasilitas penting untuk berpetualang disini dengan kota – kota lain, benar – benar tak ada kompetisi disini. Harga – harga secara umum rendah, dan segala macam penginapan bisa ditemukan disini. Dilihat dari segi efisiensi, kota ini adalah tempat yang paling cocok untuk digunakan sebagai kota awal.
Akan tetapi, jika kamu pergi bersama Asuna, tidak ada seorangpun yang berlevel tinggi tinggal di Starting City hingga sekarang. Penindasan dari «The Army» menjadi salah satunya, tapi mungkin lebih disebabkan karena fakta ketika berdiri di central plaza dan melihat ke atas langit, ia tak bisa mengingat apa yang terjadi pada waktu itu.
Awal dari semua itu adalah suatu kehendak.
Terlahir dari hubungan dari ayah seorang pebisnis dan ibu seorang sarjana, Asuna—Yuuki Asuna, telah dididik untuk mematuhi harapan orang tuanya sejak pertama kali ia memperooleh kesadaran. Kedua orang tuanya adalah orang yang tanpa ampun jika berurusan dengan mereka, sementara bertindak dengan lembut terhadap Asuna, dan karena itulah, Asuna menjadi khawatir atas reaksi mereka jika ia tidak bisa hidup atas harapan keduanya.
Kakaknya juga mungkin sama. Asuna dan kakanya telah memilih sekolah privat atas kehendak orang tuanya, dan tanpa hambatan, secara bertahap mereka mendapatkan hasil yang memuaskan.
Sejak kakaknya akhirnya mencapai umur untuk diterima di universitas dan meninggalkan rumah, ia hidup tanpa apa – apa dalam pikirannya, tetapi semata – mata hanya hidup untuk memenuhi harapan orang tuanya. Mengambil pelajaran untuk beberapa kegiatan, bersosialisasi dengan teman yang hanya diterima oleh orang tuanya, namun karena ia melalui hidup seperti itu, Asuna akhirnya merasa jika dunianya lama – lama menjadi semakin kecil. Jika ia terus berjalan pada jalan yang telah ditentukan— masuk ke SMA dan universitas yang telah ditentukan oleh kedua orang tuanya, menikah dengan pasangan yang ditentukan oleh kedua orang tuanya, ia yakin nahwa ia telah terjebak dalam cangkang yang benar – benar sangat keras, meskipun lebih kecil ketika sebelumnya, dan tidak bisa untuk lari darinya; hal ini adalah ketakutan yang selalu ia derita.
Itulah mengapa, ketika kakaknya telah bekerja di perusahaan yang di kelola ayahnya dan pulang kerumah, ia berbicara penuh antusias tentang Nerve Gear dan salinan game SAO yang ia peroleh melalui koneksinya, tentang seperti apa dunia «VRMMO» pertama, meskipun Asuna belum pernah memainkan suatu konsol permainan sebelumnya, ia merasakan ketertarikan tentang dunia tersebut.
Tentunya, jika kakaknya menggunakan Nerve Gear di dalam kamarnya, Asuna mungkin akan segera lupa dan tidak akan merasa terganggu tentang suatu hal seperti Nerve Gear. Akan tetapi, karena momen yang tak begitu baik, kakaknya harus pergi dalam perjalanan bisnis keluar negeri pada hari pertama dimulainya SAO, dan begitulah, Asuna akhirnya meminjam Nerve Gear dari kakaknya hanya untuk satu hari karena keinginannya. Merasakan hasrat untuk melihat dunia yang belum pernah ia lihat sebelumnya, semua itu penyebabnya—
Lalu, semuanya berubah.
Hingga sekarang, Asuan masih mengingat keisengan pada hari itu, ketika ia beubah dari Asuna menjadi "Asuna", mencari jati dirinya sendiri di jalanan yang tak dikenal, diantara orang – orang yang tak mengenalnya.
Tetapi secara tiba – tiba setelahnya, ketika dewa kekosongan turun dan mengumumkan tentang game kematian ini, dengan ketidakmungkinan untuk melarikan diri dari dunia ini, hal pertama yang Asuna pikirkan adalah tugas matematika miliknya yang belum ia kerjakan.
Jika ia tidak segera kembali dan mengerjakannya, ia akan dimarahi oleh gurunya pada saat pelajaran. Demi kehidupan Asuna yang telah ia tempuh sejauh ini, pastilah menjadi suatu kegagalan yang tak bisa ia maafkan... tapi tentu saja, kerasnya situasi tersebut bikanlah hambatan.
Satu minggu, dua minggu, bahkan tiap hari terlewati dengan santainya, tak ada tanda – tanda adanya bantuan dari luar. Mengasingkan diri sendiri di salah satu penginapan di Starting City, meringkuk di atas tempat tidur, Asuna terus menerus mengalami kepanikan. Menjerit setiap saat,bahkan memukul tembok ketika ia meratap. Hari tersebut adalah musim salju pada tahun ketiganya di SMP. Ujian sekolahnya akan segera dimulai, dan setelah itu, ujian masuk SMA. Menjadi seorang yang telah tergelincir dari jalan yang ditempuh sama saja merupakan kehancuran bagi hidup Asuna.
Asuna menghabiskan hari – harinya penuh masalah, merasa sangat malu, merasa tak percaya.
Daripada mengkhawatirkan kondisi tubuh anaknya, orang tua Asuna pasti sangat kecewa atas putrinya yang telah gagal atas ujiannya karena sebuah konsol game. Teman- temannya, daripada bersedih, mungkin mereka mengasihaninya yang di keluarkan dari kelompok mereka, atau mungkin malah mencibirnya.
Ketika ia melalui saat – saat kritis dengan pikiran kelam, Asuna akhirnya membuat sebuah keputusan—untuk meninggalkan penginapan. Tidak menunggu untuk di selamatkan, tetapi untuk melarikan diri dari dunia ini dengan kekuatannya sendiri. Untuk menjadi seorang penyelamat yang mengakhiri insiden ini. Tanpa menempuh jalan itu, ia kemungkinan besar tidak akan mampu menahan kehadirannya bersama orang – orang disekitarnya tak lama lagi.
Asuna menyiapkan beberapa equipment, mengingat seluruh referensi manual, dan menuju ke field. Waktu untuk tidur setiap hari ia batasi selama dua jam, tiga jam, dan sisa waktu miliknya ia kerahkan untuk meningkatkan levelnya. Sebagai hasil memfokuskan kebijakan miliknya dan keinginan kuat untuk menyelesaikan permainan, hal tersebut tidak terlalu lama sebelum ia masuk dalam daftar pemain tingkat atas. Inilah bagaimana si swordswoman yang bersemangat, Asuna the «Flash» terlahir.
Kembali ke masa kini— dua tahun telah berlalu, dan saat ini Asuna telah berusia tujuh belas tahun, ia menatap kembali pada saat – saat itu dengan peresaan pahit. Bukan, tidak hanya ketika waktu permainan ini dimulai. Semua hal yang terjadi sebelumnya, bahwa dirinya hidup dalam dunia yang keras dan sempit, ia teringat bahwa sebagian besar masa lalunya penuh dengan kesedihan.
Asuna rasanya tidak mengerti arti dari, «untuk hidup». Semua hal yang pernah ia lakukan hanyalah tentang masa depan yang ideal, pengorbanan masa kini. «Masa Kini» Adalah suatu hal yang sia – sia untuk mewujudkan masa depan yang sempurna, dan karananya, dengan hilangnya hal tersebut, tak ada yang tersisa. Hal tersebut menghilang dalam ketiadaan.
Hal tersebut tidaklah baik jika satu sama lain. Menghadapi dunia SAO, ia menyimpulkannya secara serius.
Ia yang mengejar masa depan akan menjadi seorang Asuna yang dulu, maju ke depan untuk menyelesaikan permainan ini, sementara ia yang menempel di masa lalu akan tetap menjadi seseorang yang meringkuk di kamar penginapan lantai pertama. Dan ia yang hidup untuk saat ini akan mencari kesenagan sementara sebagai seorang kriminal.
Tetapi meskipun berada di dunia ini, ada orang – orang yang menikmati masa kini, membuat suatu kenangan satu sama lain sementara bekerja keras untuk lari dari dunia ini. Seseorang yang mengajarinya adalah si pendekar pedang berambut hiram yang ia temui setahun lalu. Cara hidupnya— ketika hal itu memasuki pikirannya, warna dari kehidupannya telah berubah.
Sekarang, jika dunia ini adalah dunia nyata, ia merasa seperti bisa untuk menghancurkan cangkang yang menutupi hidupnya. Ia percaya jika ia akan bisa hidup untuk dirinya sendiri. Selama orang ini berada di sisinya—
Asuna perlahan mendekati Kirito dengan malu menyembunyikan perasaan terdalamnya sambil menatap jalanan. Rasa sakit yang ia rasakan lagi, ketika menatap atap lantai di atasnya kini telah sedikit berkurang.
Menggelengkan kepalanya sekali lagi seolah – olah ingin menghilangkan pemikiran tadi, Asuna mengintip ke wajah Yui yang masih digendong oleh Kirito.
"Yui-chan, apa kamu memiliki ingatan tentang bangunan- bangunan, atau hal seperti itu?"
"Uu..."
Dengan ekspresi rumit, Yui melihat sekeliling pada struktur bangunan, lalu memandang keluar dari plaza, dan akhirnya ia menggelengkan kepalanya.
"Aku tak tahu..."
"Well, Starring City memang sangat luas."
Kirito berbicara sambil mengusap kepala Yui.
"Well, suatu hal pasti akan membuatnya teringat sesegera jika kita tetap berkeliling. Ayo kita cek pusat tempat belanja untuk sekarang ini."
"Mungkin ada benarnya juga."
Mengangguk sepakat, keduanya mulai berjalan menuju jalan utama di selatan.
Akan tetapi— ketika ia berjalan, Asuna memandang plaza sekali lagi sengan suatu keraguan. Hanya ada beberapa orang di sekitar.
Gerbang plaza dari Starting City sungguh lebar seperti yang kira, bisa menampung sepuluh ribu pemain dua tahun yang lalu pada acara pembukaan server SAO. Di tengah jalan berbatu adalah tempat kosong dalam bentuk bulat sempurna, terdapat subuah menara jam yang menjulang tinggi dengan gerbang teleport yang berkedip kebiruan di bagian yang lebih rendah. Bunga – bunga bermekaran ditanam di sekeliling menara, dan dengan elegan, bangku putih berada di antara keduanya. Tidaklah mengherankan jika plaza ini akan penuh dengan orang – orang yang mencari tempat untuk istirahat di sore hari; namun, tak ada orang – orang yang berada di sekitar gerbang ataupun menuju keluar plaza, dan hampir tidak ada orang yang duduk di bangku yang berada di sini.
Untuk jalan utama dari kota lantai atas, gerbang plazanya akan selalu ramai karena para pemain yang sangat banyak. Menggosip, mencari anggota party, berkumpul di toko pinggir jalan, sebagai hasilnya karena orang yang berkumpul sungguh banyak, untuk berjalan saja sungguh menyulitkan, tetapi—
"Hey, Kirito-kun."
"Hm?"
Asuna bertanya pada Kirito yang berbalik.
"Sekitar berapa jumlah pemain yang berada di lantai pertama saat ini?"
"Hmm, well... jumlah pemain yang masih hidup sekitar enam ribu, dan tiga puluh persen diantaranya masih berada di Starting City jika kita menghitung « The Army»; jadi seharunya jumlah para pemain di bawah angka dua ribu, kan?"
"Menyadari jumlah itu, bukankah menurutmu ada sedikit pemain di sini?"
"Ketika kamu berkata seperti itu... Mungkin mereka hanya berkumpul di sekitar toko?"
Bagaimanapun juga, ketika memasuki jalan utama plaza, bahkan ketika mereka mendekat ke area belanja dengan toko dan gerobak berbaris, jalanan masih tetap sepi. Teriakan – teriakan promosi dari NPC penjaga toko bergema sia – sia melewati jalanan.
Meskipun begitu, keduanya akhirnya bisa menjumpai seseorang yang sedang duduk di bawah pohon besar di tengah jalan, lalu Asuna menghampiri dan mencoba memanggilnya.
"Ah, permisi."
Si pria, menatap ke atas puncak pohon dengan ekspresi yang sangat aneh, dan berbicara tanpa menyesuaikan pandangannya meskipun hal tersebut terlihat mengganggu.
"Ada apa."
"Well... Di sekitar sini, apakah ada tempat untuk mencari orang hilang?"
Mendengar ucapan tersebut, si pria akhirnya menggeser pandangannya menuju Asuna. Ia memandang wajah Asuna tanpa berbalik.
"Apa, jadi kamu orang luar."
"Ah, iya. Well... kami sedang mencari pengasuh dari anak ini..."
Asuna menunjuk Yui, yang masih tertidur sementara di lengan Kirito.
Karena mengenakan seragam sehingga sulit untuk mengetahui tingkat class miliknya, si pria melebarkan matanya sedikit ketika ia memandang sekilas pada Yui, tapi ia segera berpaling ke pandangan awalnya pada puncak pohon.
"...Seorang anak hilang, huh, sungguh jarang terjadi.... Pada gereja di sisi lain sungai pada distrik ke tujuh di timur, ada sekelompok pemain anak – anak yang berkumpul dan tinggal disana, jadi cobalah kalian mencari di sana."
"Te- Terima kasih."
Mendapat informasi yang benar – benar mengejutkan, Asuna menundukkan kepalanya dengan cepat. Setelah melakukan hal itu, ia mencoba mengajukan pertanyaan lain.
"Ahh... Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sini? Dan juga, mengapa hanya ada sedikit pemain di sekitar?"
Si pria tersebut hanya membuat senyuman kecil, ia menjawab, tampaknya ia tidak terganggu.
"Info ini mungkin sangat rahasia, atau seperti itulah aku menyebutnya. Well, melihat kamu orang luar... Lihat, kamu bisa melihatnya kan? Cabang pohon tertinggi yang berada di sana."
Asuna mengikuti arah jari yang si pria tunjuk. Cabang – cabang yang menjorok dari pohon yang cukup besar dengan jalan yang cukup jelas berwarna kecoklatan, tapi jika kalu lebih fokus dan menatap mereka, kamu bisa melihat beberapa buah berwarna kuning bermunculan dalam bayang – bayang dedaunan.
"Tentunya, karena pohon – pohon yang berada di pinggir jalan adalah objek yang tak bisa dihancurkan, meskipun kamu mencoba menaikinya, kamu tak akan bisa mendapatkan selembar daunnya sekalipun."
Si pria melanjutkan perkataannya.
"Setiap hari, ada beberapa saat ketika buahnya terjatuh dari pohon... Hanya ada beberapa menit sebelum buah tersebut membusuk lalu menghilang, namun jika kamu tidak melewatkan kesempatan dan berhasil mengambilnya, kamu bisa menjualnya ke NPC dengan harga murah. Belum lagi rasanya sungguh enak."
"Ohhh."
Untuk Asuna, yang telah menguasai skill mamasaknya, berdiskusi tentang bahan – bahan adalah suatu kesenangan tersendiri.
"Sekitar berapa harga buah itu kalau dijual?"
"...Jangan menyebarkan info ini. Setiap satu buah bisa laku lima coll."
"..."
Melihat tatapan bangga si pria, Asuna tak bisa berkata - kata. Ia terkejut karena betapa murahnya harga terebut. Dalam hal ini, bekerja keras dengan bersandar di pohon ini dan menunggu buah terjatuh sepanjang waktu tidaklah sesuai dengan hasil yang didapat.
"Ah, well... jika seperti itu, sepertinya usahamu sungguh sia - sia, atau lebih tepatnya... jika kamu mengalahkan satu ekor worm di field, kamu bisa mendapat tiga puluh coll."
Pada saat ia berkata seperti itu, si pria memandang penuh tanya kali ini. Dia tidak menyalahkan Asuna karena tidak benar dalam pikirannya, tetapi ia berbalik menuju Asuna dengan ekspresi yang menunjukkan betapa tak jelasnya apa yang telah ia lakukan.
"Kamu serius berkata seperti itu. Jika kamu pergi dan bertarung melawan monster di field... kamu mungkin akan benar – benar mati kan."
"..."
Asuna tak bisa memikirkan sebuah jawaban. Itu karena si pria ini telah berkata; bertarung melawan monster selalu menimbulkan bahaya kematian yang selalu menyertainya. Tetapi, dengan mental Asuna saat ini, hal tersebut hanyalah seperti kekhawatiran akan terjadinya kecelakaan ketika menyebrangi jalan di dunia nyata selama siang dan malam; tak ada gunanya takut akan hal seperti itu.
Kalaupun inderanya sendiri telah menjadi tumpul karena menghadapi kematian di SAO, atau kalaupun si pria ini menjadi terlalu gugup, Asuna tak bisa menyalahkannya secara tiba - tiba, Asuna masih berdiri tak bergerak. Mungkin, keduanya tak dapat dianggap sebagai pihak yang benar. Pada Starting City, apa yang dikatakan pria ini adalah hal yang umum.
Tak menyadari kondisi mental Asuna yang rumit, si pria melanjutkan perkataannya.
"Dan, apa ya, alasan mengapa tidak ada orang di sekitar? Itu karena mereka bukan tidak ada di sekitar. Semuanya mengunci dirinya sendiri di kamar penginapan. Mereka mungkin bertemu dengan pasukan The Army penagih pajak di siang hari."
"Pe- Penagih pajak... apa maksudnya itu?"
"Hanya suatu pemerasan dalam cara sopan. Tetap jaga kewaspadaanmu; orang – orang ini tidak akan mengampunimu meskipun kamu orang luar. Oh lihat, tampaknya ada yang jatuh... cukup sekian obrolan kita kali ini."
Menutup mulutnya, si pria mulai menatap langit secara serius. Asuna dengan cepat menunduk sebagai tanda terima kasih, dan menyadari bahwa Kirito telah terdiam selama percakapan tadi, berbalik menghadap Asuna.
Di tempat tersebut, adalah sosok Kirito yang fokus menatap buah berwarna kuning dengan tatapan serius, tidak seperti menatap worn di tengah pertarungan. Tampaknya ia bermaksud untuk menunggu buah selanjutnya terjatuh.
"Hentikan tatapan itu, ya ampun!"
"T- Tapi kamu lihatkan, apakah itu mengganggumu?"
Mencengkram tenguk Kirito, Asuna mulai berjalan sambil menyeretnya.
"Ah, ahh... dan tampaknya buah itu terasa enak..."
Menjewer telinga Kirito, dengan penyesalan yang masih tersisa, Asuna mendorongnya untuk berbalik.
"Dibanding itu, jalan mana yang menuju distrik tujuh di timur? Tampaknya ada pemain – pemain muda yang tinggal disana, ayo segera pergi kesana."
"...Yeea."
Sambil menggendong Yui yang telah benar – benar tertidur, dan berpegang erat padanya, Asuna menatap peta sambil menjaga kecepatan berjalannya di samping Kirito.
Karena Yui memiliki tubuh luar sekitar umur sepuluh tahun, menggendongnya seperti ini di dunia nyata akan menyebabkan lengannya capek dalam beberapa menit, namun bersyukurlah karena ada keuntungan dari parameter kekuatan fisiknya, Asuna tidak merasakan berat apapun dibanding guling yang terisi bulu.
Berjalan menuju tenggara melalui jalan – jalan lebar selama sepuluh menit, dan cukup berpapasan dengan orang- orang sebelumnya, mereka akhirnya sampai ke area taman yang luas. Hutan yang luas- pohon – pohon berdaun dengan warna yang telah berubah, melambaikan kesedihannya karena angin dingin pada awal musim salju.
"Ayo kita lihat, tempat ini menunjukkan distrik timur ketujuh pada peta, namun... aku bertanya – tanya dimanakah gereja itu sebenarnya."
"Ah, bukankah yang itu?"
Dibalik hutan, membentang di sisi kanan jalan, Asuna melihat menara tinggi yang unik dan kokoh dalam arah pandangan yang ditunjuknya. Pada puncak menara yang beratap biru pucat, sebuah logam ankh[38] terbentuk dengan menyatukan sebuah salib dan lingkaran,bercahaya. Itu adalah sebuah tanda dari gereja. Sebuah bangunan yang berdiri setidakanya satu di setiap kotadan melalui altar di dalamnya, tugas – tugas seperti melenyapkan serangan unik dari monster, «Curse», dan memberkati senjata untuk melawan monsters undead menjadi mungkin. Dalam SAO, dimana komponen berbasis sihir ada, gereja bisa dianggap tempat paling misterius.
Juga, selama coll ditawarkan secara teratur, sebuah ruangan didalam gereja bisa di sewa dan digunakan sebagai pengganti sebuah penginapan.
"Tu- tunggu sebentar."
Asuna tanpa disadari memanggi Kirito untuk berhenti, ketika ia hampir berjalan menuju gereja tersebut.
"Hm? Ada apa?"
"Ah, tidak... Well... jika, kita berhasil bertemu dengan pengasuh Yui di sana, kita akan... meninggalkan Yui-chan disini kan...?"
"..."
Mata hitam Kirito melunak penuh simpati terhadap Asuna. Ia menarik tangannya lebih dekat dengan lembut dan merangkul tubuh Asuna bersama Yui yang sedang tertidur.
"Aku juga tak ingin menjadi bagian darinya. Bagaimana mengatakannya ya... dengan kehadiran Yui, rumah kita yang berada di hutan sungguh terasa seperti rumah sesungguhnya... well, seperti itulah rasanya... Namun, ini tidak seperti kamu tak akan pernah bertemu dengannya lagi. Jika Yui berhasil mendapatkan ingatannya kembali, ia pasti akan datang dan berkunjung lagi.”
"Hm... Betul si."
Memberi anggukan kecil, Asuna membawa Yui yang masih di lengannya lebih dekat dan sedikit menyentuh pipinya sebelum berjalan kedepan, setelah perasaanya terasa lebih baik.
Bangunan gereja terlihat kecil jika dibandingkan skala kota ini. Gereja tersebut berlantai dua, dengan puncak menara tunggal sebagai simbolnya. Tetapi, ada berbagai macam gereja didalam Starting City, dan gereja yang ada di dekat gerbang plaza seukuran kastil kecil.
Setelah sampai di depan pintu ganda yang berukuran besar, Asuna mendorong salah satunya dengan tangan kanannya. Menjadi fasilitas umum, suatu gereja pastilah tidak terkunci. Interior didalamnya redup, dan hanya ada penerangan dari lilin yang menghiasi altar di depan dan menerangi lantai dari batu. Tak ada tanda –tanda kehidupan pada awalnya.
Memunculkan tubuh bagian atasnya melalui pintu masuk, Asuna memanggil.
"Ahh, adakah orang di sini?"
Meskipun suaranya bergema, tak seorangpun terlihat keluar.
"Apakah tak ada orang...?"
Saat Asuna memiringkan kepalanya ke samping, Kirito membantahnya dengan suara pelan.
"Nah, tampaknya ada orang di sini. Tiga di ruang sebelah kanan, empat di sebelah kiri... dan masih banyak lagi di lantai dua."
"...Dengan skill deteksi milikmu, kamu bahkan bisa mengetahui jumlah orang – orang yang ada di balik tembok?"
"Tingkat kemahiran skill punyaku sudah sembilan ratus delapan puluh. Skill ini sungguh efisien, kamu seharusnya meningkatkan juga."
"Tak mau, latihan yang membosankannya akan membuatku gila.... Kesampingkan itu, ngomong – ngomong mengapa mereka bersembunyi..."
Asuna perlahan melangkah ke dalam bangunan gereja. Kondisi di dalamnya sungguh sepi, tapi entah mengapa ia bisa meresakan kehadiran orang lain yang sedang menahan nafas mereka..
"Ah, permisi, kami sedang mencari seseorang!"
Ia mencoba memanggil dalam suara keras. Dengan hal itu— pintu di sisi kanan sedikit terbuka, dan suara gemetar seorang perempuan terdengar dari sana.
"...kamu bukan dari the «Army» kan?"
"Bukan. Kami datang dari lantai atas."
Asuna dan Kirito tidak membawa pedang mereka, bahkan tidak mengenakan armor untuk bertarung. Pemain yang masuk ke the Army mengenakan seragam yang terbuat dari armor berat sepanjang waktu, jadi seseorang seharusnya bisa mengenali bahwa Asuna dan Kirito tidak ada hubungannya dengan the Army jika dilihat melalui penampilan.
Cukup lama, pintu tersebut terbuka, dan seorang pemain wanita muncul dengan ketakutan.
Sebuah kepala berambut biru dengan kacamata besar berbingkai hitam, dan mata berwarna hijau terbuka lebar terisi penuh ketakutan muncul. Mengenakan gaun polos sederhana berwarna biru tua,ia memiliki belati yang tertutup sarung belati di tangannya.
"Kamu benar - benar... bukan dari kelompok penagih pajak the Army kan...?"
Asuna memberikan senyuman tenag. Lalu mengangguk.
"Ya, kami hanya mencari seseorang dan baru saja turun dari atas hari ini. Kami benar – benar tak ada hubungannya dengan the Army."
Seketika itu juga—
"Dari atas!? Maksudmu, kamu benar – benar seorang swordsmen!?"
Bersamaan dengan sorakan bernada tingginya, pintu di belakang si wanita terbuka lebar, beberapa sosok pemain berlarian tak berarutan. Secara tiba – tiba, pintu di sebelah kiri altar juga ikut terbuka, beberapa orang lalu keluar secara berdesakan.
Terkejut akan hal itu, Asuna dan Kirito memantau pemandangan tersebut tanpa bisa berkata - kata, yang berbaris di kedua sisi si wanita berkaca mata adalah semua pemain muda yang bisa dikatakan hanya anak - anak laki – laki dan perempuan. Pemain yang paling muda mungkin sekitar dua belas tahun, sementara yang paling tua mungkin sekitar empat belas tahun. Semuanya memandang Asuna dan Kirito dengan penuh ketertarikan.
"Hei, kalian semua, Aku bilang untuk tetap bersembunyi di dalam ruangan kan!"
Hanya si wanita yang mendorong anak – anak tersebut dalam kebingungan, sepertinaya ia berusis sekitar dua puluh tahun. Tampaknya tak seorang pun anak mematuhi perintahnya.
Tetapi setelah itu, anak pertama yang keluar dari ruangan, seorang anak lelaki berambut merah pendek yang sedang berdiri di ujung, berteriak dengan nada penuh kekecewaan.
"Apaan sih, kamu bahkan tidak memegang sebuah pedang. Hei, bukankah kamu dari lantai atas? Seharusnya kamu memiliki senjata?" Hampir separuh perkataan itu ditujukan kepada Kirito.
"B- Bukan, ini tidak seperti yang terlihat, tapi..."
Kirito membalas ketika ia mendaratkan matanya penuh keterkejutan, dan wajah abak – anak tersebut bersinar sekali lagi. Ijinkan aku melihat, ijinkan aku melihat, mereka semua memohon secara bersamaan.
"Lihat, kalian tidak boleh berbicara tak sopan kepada orang yang baru saja kalian temui—
Maaf, kami jarang menerima tamu belakangan ini, jadi..."
Menghadapi si wanita berkacamata yang memohon maaf sambil menunduk, Asuna berbicara segera.
"Bu- Bukan, Bukan itu masalahnya. —Hei, Kirito-kun, kamu masih memiliki beberapa di dalam penyimpananmu, bisakah kamu memperlihatkan pada mereka?"
"Y- Yea."
Mengangguk karena persetujuan Asuna, Kirito membuka jendela miliknya dengan jarinya, mengubah sepuluh senjata ke dalam bentuk nyata secara bersamaan, lalu menumpuknya pada meja panjang terdekat. Senjata tersebut adalah item yang dijatuhkan monster ketika petualangan terakhir dan terlupakan karena ia tak memiliki waktu untuk menjualnya.
Kirito lalu menutup jendelanya, dengan semua item yang berlebih kecuali beberapa pasang equipment yang telah diambil, anak – anak ini bersorak dan menyerbu di sekitar meja. Mengetahui rasa menyentuh pedang, palu dan semacamnya satu sama lain, mereka merengek karena "Berattt" dan "Keren". Pemandangan ini akan meninggalkan keoverprotektifan orang tua, namun tak peduli bagaimana senjata di pegang di dalam kota, tak mungkin mengakibatkan damage ketika tergores.
"—Aku benar – benar minta maaf..."
Meskipun si wanita meminta maaf karena masalah yang ditimbulkan, sebuah senyum tampak di wajahnya karena melihat anak – anak yang senang, ia lalu berbicara.
"...Ah, karena telah datang sejauh ini. Aku akan membuatkan teh, jadi..."
Dipandu ke dalam ruangan kecil di dalam tempat ibadah, Asuna dan Kirito meneguk teh hangat yang dihidangkan pada keduanya.
"Jadi... kamu bilang bahwa kamu datang untuk mencari seseorang...?"
Si pemain wanita yang duduk berlawanan meja mengajukan pertanyaan tersebut dengan memiringkan sedikit kepalanya.
"Ah, iya. Er... Aku Asuna, dan orang ini adalah Kirito."
"Ahh, maaf, aku bahkan belum memperkenalkan diri. Namaku Sasha."
Ia lalu menunduk karena memperkenalan dirinya.
"Lalu, anak ini bernama Yui."
Sambil membelai rambut Yui yang masih tertidur di pangkuannya Asuna melanjutkan.
"Anak ini tersesat di tengah hutan pada lantai ke dua puluh dua. Dia... tampaknya kehilangan ingatannya, jadi..."
"Astaga..."
Si wanita yang memanggil dirinya Sasha melebarkan mata kehijauannya yang tersembunyi di balik kacamata lebih lebar.
"Ia bahkan tak memiliki apapun selain pakaian yang terequip, jadi tampaknya ia tidak tinggal di lantai bagian atas... Dan juga, mungkin pengasuhnya berada di Starting City... atau mungkin orang yang mengenali anak ini mungkin bisa di temukan, kami berpikir kemungkinan tersebut, lalu kami datang ke sini untuk menemukan mereka. Selain itu, ketika kami mendengar bahwa pemain anak – anak berkumpul di gereja ini..."
"Itulah cerita singkatnya..."
Sasha meraih cangkir teh dengan tangannya, lalu menjatuhkan pandangannya ke meja.
"...Sekarang ini, ada dua puluh orang pemain yang tinggal di gereja ini, anak – anak dari sekolah dasar hingga tingkat smp. Aku kurang lebihnya yakin, semua pemain anak – anak di sekitar kota ini. Pada waktu ketika game dimulai..."
Sasha mulai berbicara dalam suara berbisik, tapi masih bisa didengar.
"Hampir semua anak – anak menjadi panic dan mengalami trauma mental. Tentu saja, ada anak – anak yang terbiasa lalu meninggalkan kota, tapi aku percaya mereka adalah pengecualian."
Hal seperti itu juga pernah Asuna alami, di tahun ketiga smpnya pada waktu itu. Ketika ia mengunci dirinya sendiri di kamar penginapan, ia yakin bahwa pikirannya akan hancur karena merasa terpojok.
"Seperti yang diharapkan; mereka masih dalam usia ketika mereka masih ingin dimanjakan orang tuanya. Lalu tiba – tiba diberitahu seseorang bahwa mereka tidak bisa keluar dari sini, mungkin juga tak akan pernah bisa kembali ke dunia nyata— anak – anak tersebut menjadi down, dan di dalam pikiran mereka... tampaknya ada sesuatu yang hilang."
Mulut Sasha menjadi kaku.
"Selama sebulan ketika game dimulai, aku berpikir untuk menyelesaikan game ini dan berencana berlatih di field, tetapi... suatu hari, aku melihat salah satu dari anak – anak tersebut di sudut jalanan, aku tak bisa meninggalkan anak tersebut sendiri begitu saja; jadi aku membawa anak – anak bersamaku dan memulai hidup di penginapan. Selanjutnya, ketika aku berpikir bahwa masih ada anak – anak sepertinya, aku mulai berkeliling kota, dan mencari anak – anak tersebut. Sebelum aku menyadarinya, semuanya telah berakhir seperti ini. Itulah mengapa... meskipun ada orang – orang yang bertarung di lantai atas seperti kalian berdua, aku merasa tak bisa memaafkan diriku sendiri karena tak bisa membantu menyelesaikan game ini."
"Itu... Itu tidak-"
Sambil menggelengkan kepalanya, Asuna berusaha untuk menemukan kata – kata yang tepat, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan. Mengambil alih pembicaraan, Kirito berbicara.
"Itu tidak sepenuhnya benar. Kamu berjuang dengan sangat berani... bahkan lebih hebat daripada orang sepertiku."
"Aku sungguh berterima kasih. Namun aku tidak cukup melakukan hal ini tanpa adanya tanggung jawab. Sungguh menyenangkan hidup bersama anak – anak ini."
Sasha tersenyum manis sambil menatap Yui yang sedang tertidur pulas.
"Itulah mengapa... selama dua tahun ini, setiap hari kami berkeliling di semua bangunan yang ada di setiap area, mengecek jika ada anak – anak yang membutuhkan bantuan. Jika ada sejumlah anak – anak yang masih tertinggal, kami akan segera menyadarinya. Maaf untuk mengatakan ini... tetapi tampaknya anak ini, aku tak yakin jika ia pernah tinggal di Starting City."
"Begitu ya..."
Asuna menundukkan kepalanya ke bawah sambil memeluk Yui. Ia menarik diri lalu memandang ke arah Sasha.
"Er, tampaknya ini akan mengganggu privasimu, tetapi bagaimana kamu memperoleh penghasilan untuk keperluan sehari – hari dan semacamnya?"
"Ah, hal itu, selain aku, ada beberapa anak – anak yang lebih dewasa yang melindungi tempat ini...mereka berada pada level yang menjamin keselamatan mereka selama mereka berada di field sekitar kota ini, jadi kami masih bisa menyimpan cadangan makanan. Kami tak bisa hidup dalam kemewahan."
"Oh, sungguh mengagumkan... menilai dari apa yang kudengar sebelumnya di kota ini, sesuatu seperti berburu monster di dalam field bisa dianggap suatu tindakan bunuh diri yang bertentangan dengan akal sehat."
Sasha mengangguk atas perkataan Kirito.
"Pada dasarnya, aku percaya bahwa pikiran seperti itulah yang dipikirkan pemain yang masih tersisa di kota ini. Aku tidak menyangkat hal tersebut; hal itu tak akan membantumu, ketika kamu mengira akan adanya bahaya kematian... Bagaimanapun juga, pikiran tersebut juga manjadi alasan mengapa kita mengumpulkan uang di atas rata – rata pemain di kota ini."
Itu memang benar; untuk mengatur pengeluaran di gereja ini, seratus coll setidaknya di butuhkan setiap hainya. Jumlah ini melebihi pendapatan harian si pemburu buah sebelumnya.
"Itulah mengapa aku terus mengawasi mereka akhir – akhir ini..."
"...Mengawasi siapa?"
Mata lembut Sasha berubah dalam sekejap. Ketika ia membuka mulut untuk melanjutkan perkataannya, pada saat itu...
"Sensei! Sasha-sensei! Ini mengerikan!!"
Pintu pada ruang ini terbanting terbuka, dan beberapa anak membanjiri ruang ini seperti longsor salju.
"Hei, kalian tak sopan pada tamu!"
"Itu tak penting sekarang!!"
Si rambut merah yang sebelumnya kini berteriak, dengan air mata yang akan tumpah dari matannya.
"Kak Gin dan lainnya telah tertangkap oleh the Army!"
"—Dimana!?"
Bangun dengan cara yang begitu tegas bahwa ia merasa seolah-olah dirinya menjadi orang lain, Sasha menanyai anak ini.
"Di lahan kosong di belakang toko bekas pada distrik timur kelima. The Army telah memblokir lorongnya dengan sepuluh orang atau lebih. Hanya Kotta yang berhasil melarikan diri."
"Mengerti, aku akan pergi kesana sekarang. —Maaf, tapi..."
Berbalik menghadap wajah Asuna dan Kirito, Sasha menundukkan kepalanya.
"Aku tak bisa mengabaikan anak – anak ini. Kita akan melanjutkan percakapan ini nanti..."
"kami juga akan pergi, sensei!!"
Karena anak berambut merah menangis, seluruh anak – anak yang dibelakang juga berteriak karena sepakat. Bergegas menuju samping Kirito, si anak laki – laki yang memiliki ekspresi putus asa berbicara.
"Kak, pinjami kami senjata sebelumnya sebentar saja! Jika kami memiliki senjata itu, orang – orang dari the Army akan melarikan diri!"
"Aku tak terima!"
Sasha menolak dengan tegas.
"Kalian semua akan menunggu di sini!"
Saat itu juga, Kirito yang telah mengamati keadaan secara diam -diam, mengangkat tangan kanannya seolah – olah menenangkan anak – anak. Ia jarang membaca sejauh mana isi pembicaraan sekarang ini, tetapi hanya kali ini, ia menunjukkan suatu harapan yang segera menenagkan semua anak – anak.
"—Sayang sekali—"
Kirito mulai berbicara dalam nada tenang.
"Parameter yang dibutuhkan untuk senjata itu terlalu tinggi, sehingga kau tak akan bisa mengequipkannya. Kami akan membantu kalian. Meskipun terlihat seperti itu, kakak perempuan yang disana sungguh sangat kuat."
Melirik Kirito, Asuna juga mengangguk. Berdiri, Asuna menuju Sasha dan membuka mulutnya.
"Ijinkan kami untuk membantu. Memiliki kekuatan lebih seharusnya lebih baik."
"—Terima kasih, aku akan bergantung padamu."
Sasha mengangguk dalam, menarik kacamatanya lalu berbicara.
"Nah, maafkan aku, tapi kita akan berlari!"
Bergegas keluar dari gereja, Sasha mulai berlari kedepan sambil membawa belatinya di pinggang. Menggendong Yui, Asuna juga mengejar di belakangnya bersama Kirito. Saat Asuna melirik punggungnya sambil berlari, ia menyadari segerombol anak mengikuti mereka di belakang, tetapi tampaknya Sasha tak memiliki niat untuk menyuruh mereka pulang.
Berlari melalui rimbunnya pohon, mereka memasuki distrik timur keenam dan menuju gang – gang belakang. Tampaknya Sasha mengambil jalan pintas yang paling pendek menuju lokasi, karena ia melewati toko – toko NPC, taman milik rumah pribadi dan semacamnya, mereka melihat sekelompok orang yang memblokir jalan kecil de depan. Tampaknya setidaknya ada sepluh orang. Berpakaian seragam hijau keabu-abuan dan equipment baja hitam, tidak salah lagi mereka adalah anggota the «Army».
Sasha yang berlari tanpa keraguan melewati lorong – lorong akhirnya berhenti, ia menarik perhatian para pemain the Army, dan mereka berbalik dengan senyum lebar.
"Oh, si pengasauh ada di sini."
"...Tolong kembalikan anak – anak."
Sasha berbicara dengan suara yakin.
"Jangan rusak reputasi kami seperti itu. Kami akan segera mengembalikan mereka; kami hanya ingin mengarari mereka sopan santun."
"Ya, ya. orang – orang kota memiliki kewajiban untuk membayar pajak."
Si pria itu lalu tertawa wa-ha-ha-ha, dan semakin keras. Sasha makin mendekat.
"Gin! Kain! Semuanya!! Kalian disana!?"
Ketika Sasha memanggil seperti itu, suara ketakutan terdengar membalas.
"Sensei! Sensei... tolong kami!"
"Jangan khawatirkan masalah uang, serahkan saja semuanya!"
"Sensei... kami tak bisa...!"
Kali ini, suara anak si rambut merah terdengar.
"Nha, ha, ha."
Salah satu anggota Army yang memblokir jalan tertawa sangat keras.
"Well, semua ini karena kalian belum membayar pajak... Uangnya tidak akan cukup kalau hanya segini, eh."
"Benar, sangat benar. Kami ingin kalian juga menyerahkan equipment. Semua armor kalian... setiap lembar armor."
Melihat senyum mesum si pria tersebut, Asuna langsung bisa menebak kondisi mereka di dalam jalanan sempit ini. «Pasukan Penagih Pajak» ini tanpa diragukan lagi akan menuntut kelompok anak - anak, termasuk juga perempuan untuk menyerahkan pakaian mereka. Darah dalam diri Asuna mulai mendidih karena kemarahan.
Sasha tampaknya juga telah mengambil kesimpulan yang sama, ia mendekat menuju anggota the Army dengan hawa permusuhan.
"Minggir... jangan menghalangi! Jika tidak..."
"Jika tidak akan apa hah, pengasuh bayi? Kau akan membayar pajak di tempat ini?"
Orang – orang tersebut menyeringai tanpa ada niat untuk menyingkir.
Di dalam kota, atau setidaknya dalam ruang jangkauan kota, program yang dikenal sebagai Kode Anti Kriminal selalu aktif, mencoba untuk membuat kerusakan, begitu juga untuk memindahkan pemain lain di luar kehendak mereka benar – benar tak mungkin. Akan tetapi, para pemain yang memblokir jalan ini juga begtu. Menyegel jalan dengan cara berdiri di sini, dengan maksud memblokir; bahkan beberapa orang mengelilingi target secara langsung untuk melumpuhkan si korban ke dalam «Area»; keberadaan metode tak bermoral ini bisa di perbolehkan.
Seperti itulah, tindakan tersebut hanya efektif dalam kasus dimana seseorang telah bergerak kedalamnya. Asuna menatap Kirito, lalu berbicara.
"Ayo maju, Kirito-kun."
"Yea."
Mengangguk setuju, mereka bersama – sama menendang tanah tempat mereka berpijak.
Mereka berdua melompat ke depan dengan mengggunakan ketangkasan dan kekuatan yang mereka miliki, Sasha dan anggota the Army hanya bisa melihat tercengang ke atas ketika mereka melewati halangan dengan begitu mudah, dan akhirnya mendarat di ruang yang tertutup dari segala sisi.
"Woah!?"
Beberapa orang melompat mundur karena ketakutan.
Di pojok area tersebut, dua anak laki – laki dan satu anak perempuan di usia sepuluh tahunan meringguk kaku bersama – sama. Armor mereka telah dicopot, hanya berpakaian pakaian dalam. Asuna menggigit bibirnya, lalu melangkah menuju anak – anak tersebut, dan berbicara sambil tersenyum.
"Sudah tak apa – apa sekarang. Kalian bisa mendapatkan kembali equipment kalian."
Mereka akhirnya mengangguk dengan mata terbuka, mengambil kembali armor mereka yang berada di dekat kaki dengan panik, dan mulai mengoperasikan jendela mereka.
"Oi... Oi, oi, oi!!"
Pada saat itu, seorang pemain dari the Army akhirnya datang dan berteriak keras.
"Apa urusan kalian!! Jangan berani – berani menghalangi pekerjaan the Army!!"
"Tunggu, tunggu sebentar."
Menghentikan teriakan si pria, pemain dengan armor berat melangkah ke depan. Tampaknya ia adalah pemimpin grup ini.
"Kami belum pernah menjumpai kalian di sekitar sini, tetapi apakah kau tau jika tindakanmu itu menentang pasukan pembebasan? Jika kalian masih bermaksud seperti itu, kami bisa menginterogasimu di markas pusat."
Mata sipit si pemimpin tersebut bersinar penuh kekejian. Mencabut pedang besar dari pinggangnya,ia melangkah sambil berulang kali mengasar mata pedangnya di telapak tangannya dengan tujuan tertentu. Permukaan pedang tersebut berkilau karena cahaya matahari yang hampir terbenam. Sebuah kilauan ciri khas suatu senjata yang tak pernah digunakan ataupun diperbaiki dari kerusakan bahkan satu kalipun.
"Atau kamu ingin melunasi «persahabatan dari luar» ini, persahabatan dari luar? Eh!?"
Pada saat Asuna mendengar kalimat tersebut.
Gemertak gigi Asuna bisa terdengar. Ia berpikir jika masalah ini bisa diselesaikan dengan damai, akan tetapi ketika ai melihat anak – anak yang ketakutan, amarahnya sudah melewati batasnya.
"...Kirito-kun, aku serahkan Yui-chan padamu."
Yui diserahkan pada Kirito, dan sebelum seorangpun tahu apa yang terjadi, ia telah mematerialkan rapier miliknya dengan satu tangan. Menghunus rapier yang diterimanya, ia lalu bergerak cepat menuju si pemimpin.
"A.... Ah...?"
Menghadapi si pria yang masih belum memahami situasi dengan mulutnya yang setengah terbuka, Asuna tiba – tiba memusatkan kekuatannya dalam serangan tusukan satu tangan.
Area sekitar tiba – tiba di selimuti cahaya keunguan. Suara hantamannya seperti sebuah ledakan. Wajah si pria terdorong, dan ia jatuh ke belakang dengan linglung karena matanya masih terbuka.
"Jika kau sebegitu inginnya bertarung, tak perlu jauh – jauh pergi ke field."
Melangkah menuju hadapan si pria, Asuna sekali lagi mengacungkan tangan kanannya. Cahaya tersebut terulang lagi, dan suara yang memekakan telinga bergemuruh lagi. Si pemimpin grup ini terdorong kebelakang seolah – olah ia ditolak.
"Jangan khawatir, HP milikmu tak akan menurun. Well, terima kasih karenanya, aku tak perlu menahan lagi."
Menatap Asuna yang perlahan mendekat dengan bibirnya gemetar, si pemimpin tampaknya menyadari maksud tersirat Asuna.
Dalam jangkauan Kode Anti Kriminal, bahkan jika menyerang kepada pemain lain, serangan tersebut akan dihentikan oleh dinding yang tak terlihat dan tak ada damage yang diberikan. Akan tetapi aturan ini juga memiliki celah tertentu: yaitu si penyerang tak perlu khawatir jika ia berubah warna menjadi pemain orange.
Sebagai contohnya celah tersebut bisa digunakan «Dalam Jangkauan Pertarungan», biasanya digunakan untuk pertarungan palsu untuk latihan. Bagaimanapun juga, karena tingkat status dan skill si penyerang, suara dari hantaman dan terangnya warna yang diciptakan oleh sistem, pada waktu yang sama kode tersebut diaktifkan, dan serangan akan ditingkatkan sesuai status si penyerang; dan ditambah dengan kekuatan sword skill yang digunakan, meskipun sedikit,efek dorongan ke belakang akan tetap dihasilkan. Untuk orang yang belum terbiasa, efek tersebut tidaklah mudah untuk ditahan, meskipun kamu tahu bahwa HP tak akan menurun.
"Eek... h- henti..."
Terdorong ke tahan karena serangan Asuna, ia menjerit.
"Kalian... jangan cuma menonton... lakukan sesuatu...!!"
Akhirnya mendapat kesadaran karena suara si pemimpin, para anggota the Army mengeluarkan senjata mereka satu persatu.
Para pemain yang sebelumnya memblokir jalan, kini merasakan ketidaknormalan pada situasi ini akhirnya berlari dari jalanan utara dan selatan.
Dikelilingi oleh pemain the Army dalam bentuk setengah lingkaran, Asuna menatap mereka dengan mata yang berkobar - kobar, seolah – olah ia telah kembali ke waktu ketika ia menjadi seorang pemain yang bersemangat. Menendang tanah tanpa berkata - kata, ia menerjang pasukan tersebut yang tepat dihadapannya.
Dalam waktu singkat, jalanan sempit itu terisi oleh raungan – raungan bagaikan petir.
Sekitar tiga menit kemudian.
Setelah Asuna mendapatkan kembali kesadarannya, ia berhenti melangkah ke depan dan menurunkan pedangnya, apa yang terbaring di area tersebut adalah para pemain the Army yang telah kalah. Satu – satunya yang masih tersisa telah meninggalkan pemimpin mereka dan ia telah kabur.
"Whew..."
Mengambil nafas dalam - dalam, Asuna menyarungkan rapier miliknya dan berbalik kebelakang— apa yang ia lihat adalah sosok Sasha dan anak – anak dari gereja yang masih berdiri penuh shok, kehilangan kata – kata.
"Ah..."
Asuna mundur selangkah sambil menahan nafas. Ia yakin nahwa ia telah menakuti anak – anak tersebut ketika sangat marah dan mengancam the Army sebelumnya, lalu ia memalingkan matanya penuh depresi.
Pada saat itu, si anak laki – laki yang seperti biasa berdiri kedepan di hadapan anak lainnya, sambil menyisir rambut merahnya kembali, bersorak sambil matanya berbinar.
"Mengagumkan... itu mengagumkan kak!! Itu pertama kalinya aku melihat hal seperti itu!!"
"Aku bilang juga apa, kakak ini benar – benar kuat kan?"
Kirito melangkah maju dengan senyum lebar. Memegang Yui dengan tangan kirinya, sebuah pedang dibawa di tangan kanannya. Tampaknya ia juga ingin menghadapi babarapa di antara mereka.
"...A- Ahaha."
Asuna tertawa karena hal tersebut, lalu anak – anak tiba – tiba menyoraki dan melompat ke arahnya.
Sasha memegang kedua tangannya erat – erat di dadanya, tersenyum sambil matanya hendak meneteskan air mata.
"Semuanya.... Perasaan semuanya-"
Suara kecil namun bisa didengar jelas. Asuna mengangkat wajahnya karena kaget. Dalam lengan Kirito, Yui yang telah terbangun tanpa seorangpun menyadari, menatap ke atas pada udara hampa dan mengacungkan tangan kanannya.
Asuna melihat ke arah yang ditunjuk, namun tak ada apapun disana.
"Perasaan semuanya..."
"Yui! Ada apa, Yui!!"
Kirito berteriak, lalu Yui berkedip dua hingga tiga kali, melihat dengan ekspresi kosong. Asuna juga berlari penuh kebingungan lalu menggenggam tangan milik Yui.
"Yui-chan... mungkinkah, kamu mengingat sesuatu!?"
"...Aku... Aku..."
Sambil mengerutkan kening, ia menundukkan kepalanya.
"Aku, tidak pernah... disini... aku selalu sendirian dalam kegelapan..."
Sambil mengerutkan kening seolah-olah ia teringat sesuatu, Yui menggigit bibirnya. Dan, pada saat itu...
"Wa... aa... aaah!!"
Memalingkan kepalanya ke belakang, sebuah jeritan bernada tinggi keluar dari tenggorokannya.
"...!?"
Zsh, zsh, suara yang mirip mesin elektronik bergema dalam telinga Asuna untuk pertama kalinya sejak ia berada dalam SAO. Tiba – tiba setelah hal itu, tubuh Yui mulai bergetar di sana – sini seolah – olah akan runtuh.
"Yu... Yui-chan...!"
Asuna menjerit dan membungkus tangannya di sekitar tubuh Yui secara panik.
"Mama... menakutkan... Mama...!!"
Memeluk tubuh lemah Yui dalam lengan Kirito, Asuna memeluknya erat dalam dadanya. Beberapa detik kemudian, fenomena aneh tersebut menenang, dan tenaga menghilang dari tubuh Yui yang kaku.
"Sebenarnya apa yang terjadi barusan..."
Bisikan kosong dari Kirito samar – samar mengalir dalam keheningan.
Sumber : http://www.baka-tsuki.org/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar