Rabu, 26 November 2014

Bab 2 LN Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 3 part2

“Uaaagh!”
Setelah merasa jatuh tanpa akhir, diiringi oleh teriakan menyedihkanku, aku mendapati diriku di suatu tempat tak bernama. Sebuah erangan kesakitan muncul saat aku mendarat di wajahku bukannya di kakiku. Mempertahankan posisi itu selama beberapa detik, wajahku terkubur dalam humus, aku perlahan mengangkat diriku.
Jatuh bebas saat ini sudah berakhir, hatiku menjadi agak rileks, dan aku berbaring di tanah sambil melihat lihat sekelilingku.
Saat ini malam hari. Aku mendapati diriku di hutan lebat entah dimana.
Hutan ini tersusun dari pepohonan raksasa yang mungkin sudah ratusan tahun, semua menjulang ke arah langit sejauh yang aku bisa lihat. Namun, dedaunannya terlalu padat sampai aku tak bisa melihat langit. Sebuah bulan purnama menggantung di langit hitam berbintang, memancarkan kemilau keemasan.
Disekitarku, dengungan serangga dan burung nokturnal bernyanyi. Dari jarak jauh, aku mendengar auman hewan buas. Aroma tumbuhan menggelitik hidungku. Embusan angin dengan lembut membelai kulitku. Teror menyerangku saat inderaku menyadari dunia di sekitarku. Dunia ini nampak lebih nyata dari dunia nyata – itulah perasaanku tentang dunia ilusi ini.
Aku terus merasa skeptis saat Egil berkata bahwa «ALO» sebanding dengan SAO dari segi ketepatan tinggi model dan strukturnya, namun nampaknya itu benar sekali. Disamping fakta kalau waktu pengembangan tak mencapai satu tahun, jumlah informasi lebih besar yang mengalir sepanjang sistem sarafku dan Game sama persis dengan di SAO.
“A....akhirnya, aku masih kembali juga......”
Aku menutup mataku. Dalam dua bulan sejak dibebaskan dari dunia itu, aku telah menyerah untuk kembali ke dunia «VR WORLD», namun aku berada disini sekali lagi. Ah.....aku sama sekali tak pernah belajar, kan? pemikiran ini melintas dalam benakku, dan aku hanya bisa tertawa.
Namun, dunia ini sedikit berbeda. Misalnya, meski HP mencapai nol, aku takkan mati di dunia nyata, dan aku bebas untuk bepergian kapanpun dan dari tempat manapun. Sambil aku memikirkan ini, ada sesuatu yang menarik perhatianku.
Ada apa dengan abnormalitas dalam gambaran dan relokasi misterius itu.......apa yang sebenarnya baru terjadi? Kenapa aku malah dibawa ke tempat ini? Aku seharusnya berada di kota start di Spriggan, setidaknya itulah menurut tutorial.
“Hei, nggak mungkin.......jangan jangan.......”
Wajahku mulai pucat pasi, aku dengan cepat mengangkat tangan kananku yang gemetar, dengan jari tengah dan telunjuk bersamaan. Tak ada yang terjadi. Keringat dingin menetes padaku dan aku lekas mencoba beberapa kali sebelum mengingat apa yang tutorial baru katakan, kalau menu da controller penerbangan sama sama dikendalikan dengan tangan kiri.
Aku mengulurkan tangan kiriku dan mengulangi tindakan itu. kali ini, saat aku mengibaskan jariku, efek suara dan letupan cahaya terjadi, kemudian jendela menu transparan terbuka. Desainnya hampir sama dengan SAO. Menu itu memiliki banyak tombol yang dibariskan sisi demi sisi sepanjang sudut kanan.
“Ini, ini dia.”
Di bagian bawah menu terdapat tombol «LOG OUT» yang berkilau. Aku mencoba memencetnya. Sebuah pesan peringatan muncul untuk mengkonfirmasi, disertai tombol «YES» dan «NO».
Aku menghembuskan desah kelegaan. Mengangkat tubuhku dengan satu lengan, aku duduk.
Melihat ke sekitarku lagi, aku sepertinya berada di tengah tengah hutan rimba. Disekelilingku adalah gerombolan pepohonan yang menjulang tanpa akhir ke semua arah, begitu jauh sampai aku bahkan tak bisa melihat cahaya bintas di atas sana. Aku tak tahu kenapa aku jatuh disini. Oke, mari lihat peta dunia dulu, pikirku. Aku melihat kembali ke jendela menu. Menunjuk dengan jariku, apa yang ditampilkan disana membuatku membeku.
“Whaaaaa......!?”
Aku tak bisa menahan diri untuk tak berteriak.
Di bagian atas jendela, nickname-ku juga ditampilkan: Kirito. Dan rasku: Spriggan. Dibawah semua itu adalah Hit Points dan Mana Points-ku, yang terbaca 400 dan 80, nilai dasar. Sejauh ini tak ada masalah.
Yang mengejutkanku adalah skill yang sudah dipelajari pada kolom berikutnya. Aku tak ingat memilih skill apa apa, jadi tentu saja yang kumiliki seharusnya adalah kolom kosong. Namun, ada setidaknya delapan skill yang berderet. Mungkin ini adalah skill dasar bagi Spriggan, namun bukankah ini terlalu banyak? Sulit mempercayai mataku, aku menyentuh skill bar dengan jariku untuk lebih banyak rincian.
Dalam jendela skill, aku melihat beberapa skill sisi demi sisi. Skill ini diantaranya : «1-H Swords», «Unarmed skills», dan «Parry», skill bertarung, serta «Memancing», skill pendukung, namun nilai kepandaiannya sangat abnormal. Sebagian besar mencapai 900, dan beberapa bahkan mencapai 1000 dan disertai Tag yang menegaskan «MASTERY». Biasanya di dalam MMORPG skill semacam ini memerlukan waktu panjang untuk penyelesaian, yang berarti memiliki semua skill maksimum sejak log pertama adalah hal yang mustahil.
Tak peduli bagaimana aku melihatnya, ini pasti BUG. Itu juga mungkin menjelaskan kenapa aku bisa terlempar ke tempat ini, mungkin sistemnya agak tidak stabil.
“Apa Game ini Ok? Apa ada GM support tersedia?”
Melihat ke arah skill itu lagi, aku terkena sedikit perasaan deja vu. Melihat nilai kecakapannya lagi, rasanya aku sudah pernah melihat itu semua sebelumnya. 1-H Swords: 1000, Unarmed Skill:991, Memancing:643.
Hal itu serasa memberiku kejutan listrik; aku akhirnya menyadari hubungannya. Aku mulai bernafas keras keras.
Aku sudah melihat ini sebelumnya. Ini adalah skill yang kulatih selama dua tahun dalam SAO. Sayangnya, «Dual Blades» tak ada disini – mungkin karena skill «Dual Blades» tidak ada dalam ALO. Skill «Black Swordsman Kirito» yang menyebabkan kehancuran di kota terapung Aincrad juga muncul di depan mataku lagi.
Aku benar benar bingung, hal mustahil tengah berlangsung; aku bahkan tak bisa membayangkan apa yang tengah terjadi. SAO dan ALO adalah dua Game yang sama sekali berbeda dan diproduksi oleh dua perusahaan yang sama sekali berbeda. Kalau data tersimpan bisa dipindahkan seperti itu.......jangan jangan – disini adalah......
“SAO?” gumamku, seraya aku jatuh di atas lututku.
Menggeleng kepalaku dengan kencang untuk menjernihkan pemikiran menggelikan itu, aku melihat kembali ke jendela skill.
Aku masih tak yakin apa yang tengah berlangsung, namun berharap bisa mengumpulkan lebih banyak informasi, aku menavigasi ulang ke menu utama. Kali ini aku membuka jendela item.
“Whaaaa......apa apaan ini!?”
Aku tak bisa memahami apa apa. Yang ditampilkan di depanku adalah sejumlah kata kata yang terdiri atas nomor dan karakter. Karakter penuh teka teki, jumlah, aksara, dan gambarnya semua dicampur bersama.
Tampaknya ada beberapa item yang kumiliki di Aincrad. Sudah tentu, entah karena alasan apa, data yang tersimpan untuk Kirito sepertinya telah berpindah ke dunia ini.
“Jadi.....tunggu sebentar!”
Aku mendadak memikirkan sebuah kemungkinan.
Kalau ini semua adalah item dari Aincrad,--maka «itu» seharusnya ada disini juga. aku menyentuh jendela item, dan menggeser menu dengan ujung jemariku.
“Tolong, tolong, tolong ada disini.”
Aku dengan cepat menggeser daftar, mengabaikan semua hal hal tak perlu. Jantungku mulai berdegup makin kencang dan perasaan seperti lonceng berbunyi mengalir sepanjang tubuhku.
“!”
Jariku tanpa sadar berhenti. Dibawah jariku terdapat barisan kata kata seperti semua benda yang kusimpan tengah memancarkan cahaya hijau. «MHCP001».
Hampir lupa bernafas, aku menyentuh nama itu dengan jari gemetar. Setelah memilih item, warna itu berbalik. Menggerakkan jariku aku menyentuh tombol berlabel “Use Item”.
Kemilau putih muncul di tengah jendela dan menyebar sepanjang sudut seolah ia merentang ke arahku. Seiring ia terus merentang, ia berubah menjadi kristal tak berwarna, yang berbentuk air mata.
Menggenggam batu berharga itu di tanganku, aku mengangkatnya, merasakan kehangatannya. Menyadari semua ini, aku merasa sedikit gemetar.
Tuhan, tolong, kumohon padamu......aku berdoa dari dalam hatiku, dengan lembut menepuk kristal dua kali dengan jariku. Cahaya putih murni meletup letup dari kristal di tanganku.
“Ah!?”
Suara tercengangku tanpa sadar meluncur keluar dari mulutku sambil aku berjongkok dan meletakkan kristal di tanah, kemudian mundur beberapa langkah. Kristal itu mengapung dari tanah beberapa meter sebelum berhenti. Cahaya yang muncul dari kristal perlahan semakin silau sampai bulan nampak pucat dan pepohonan di sekeliling terwarnai oleh hijau-keputihan.
Aku berkedip kedip, pemirsa dari adegan di hadapanku ini. Dari pusat cahaya yang berputar, sebuah bayangan muncul, mengambil bentuk dan warna keputihan. Kemilau rambut hitam panjang tergerai ke segala arah, disertai gaun putih salju dan tubuh yang panjang, nan langsing. Mata tertutup, tangan disilangkan di depan dadanya, sosok seorang gadis cantik muncul. Dia, seolah adalah perwujudan dari cahaya, dengan perlahan turun ke tanah.
Cahaya menyilaukan lenyap dengan cepat. Gadis itu, yang mengapung di udara, perlahan membuka matanya dengan alis mata berkibar. Matanya, sama gelap dengan langit malam, perlahan menatap ke arahku.
Aku tak bisa bergerak. Atau berbicara. Atau bahkan berkedip.
Si gadis kecil itu menatapku, dan bibir berwarna merah cherry-nya perlahan terbuka. Kata kata tak bisa mendeskripsikan kecantikan senyum ala malaikat itu. Aku mengumpulkan keberanianku dan berkata padanya, “Ini aku.....Yui. Apa kamu paham?”
Selesai bicara, aku melirik diriku. Situasi dan penampilanku di dunia ini sama sekali berbeda dari saat di dunia itu.
Namun, hal hal semacam itu tak perlu. Si gadis – Yui – bibirnya bergerak, dan dalam suara nostalgia yang hampir seperti lonceng perak, berkata “Kita bertemu lagi, Papa.”
Air mata berkumpul di matanya, Yui mengulurkan tangannya dan terbang ke dadaku.
“Papa....Papa!” Yui memanggilku lagi dan lagi, lengan tipisnya dengan erat memeluk leherku, wajahnya membelai wajahku. Memeluk tubuh kecilnya dengan perlahan, aku tak bisa menghentikan suara terisak yang lolos dari tenggorokanku.
Yui, Asuna, dan aku telah tinggal di dunia SAO selama tiga hari yang singkat, sebelum dia lenyap. Meski itu hanya waktu yang sesaat, namun memorinya sangat tak tergantikan sampai terukir kuat dalam pikiranku dan takkan pernah terhapus. Sepanjang pertarungan panjang dan keras di Aincrad, hanya ada sedikit kebahagiaan namun untuk hari hari itu, kami sangat bahagia.
Perasaan nostalgia hangat menyelimutiku seiring aku berdiri disana dengan memeluk Yui erat erat. Kejaiban tengah berlangsung di hadapanku. Jadi, Asuna, kita pasti akan bertemu lagi. kita pasti akan kembali lagi ke hari hari membahagiakan itu. ini adalah pertamakalinya, sejak aku kembali dari dunia itu, dimana aku merasakan kebahagiaan semacam itu.
Aku melihat lihat ke sekeliling hutan, dan menemukan sebuah tunggak yang baru baru ini runtuh dan nampak tak berbentuk lagi.
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?”
Menahan keinginan untuk berbicara tentang Asuna, aku bertanya pada Yui, yang saat ini duduk di atas pangkuanku.
Dengan wajahnya bersandar di dadaku, Yui menatapku dengan ekspresi sangat bahagia.
“....?”
“Maksudku adalah, ini bukan dunia SAO, kan?”
Yui dengan cepat memberi deskripsi tentang apa yang terjadi sejak aku terakhir melihatnya. Dia saat itu hampir dihapus namun justru dikompres dan disimpan sebagai bagian dari data lingkungan. Setelah mengalahkan Game, kota terapung Aincrad lenyap. Setelah itu, aku datang ke dunia baru ALfheim ini, meski aku tak tahu bagaimana dataku masih tersimpan disini. Namun, fakta kalau Asuna masih belum bangun tak mudah untuk mengatakannya.
“Tolong, tunggu sejenak.”
Yui menutup matanya, seolah berkonsentrasi mendengar suara dari jauh.
“Ini kan—“
Mata Yui tersentak terbuka, kemudian melihatku.
“Sepertinya dunia ini dibuat dari copy server «Sword Art Online»”
“Copy?”
“Ya. Framework dan format grafisnya diproduksi oleh kelompok program inti yang sama. Aku mampu mereproduksi bentuk ini. Ini sudah cukup untuk memverifikasi ini. Namun, sistem utamanya adalah versi yang lebih tua dan komponen Game-nya sama sekali berbeda.”
“Itu....”
Aku merenung dalam pikiranku.
ALfheim Online diluncurkan dua belas bulan setelah insiden SAO. Arcas telah bangkrut, dan setelah itu, RECTO membeli aset aset teknologi Argus dan menggunakannya untuk mengembangkan VRMMO Game baru. Kalau kau bisa mengambil keuntungan dari program utama dan proses feedback dari Game itu, biaya pengembangan akan berkurang drastis. Kalau itu benar, akurasi dunia ini tak akan membuatku terkejut karena Game ini bekerja dengan program sama dengan SAO.
Dengan kata lain, ALO beroperasi dengan mengcopy sistem SAO, yang bisa kumengerti. Namun—
“Tapi.....kenapa data pribadiku muncul disini?”
“Papa, tolong izinkan aku melihat datamu.”
Yui menutup matanya lagi.
“Tak ada keraguan. Ini karakter yang papa gunakan dalam SAO. Dua Game menerapkan format yang mirip bukan hanya untuk save data, namun juga untuk kecakapan skill umum, jadi mereka bisa diwariskan. Namun karena data memiliki hit point dan mana point dengan format berbeda, HP dan MP tidak ikut dipindahkan. Kemudian mengenai item, mereka semua sudah tak berfungsi. Selama kamu menyimpannya, kemungkinan protokol deteksi error sistem akan mendeteksinya. Akan lebih baik kalau kamu membuang semua itu.”
“Begitukah......oke.”
Aku menyentuh kolom item dan memilih item item yang akan kubuang. Mungkin ada item item yang membawa memori bagiku, namun ini bukan waktunya untuk berkenang kenang. Pokoknya, aku bahkan tak tahu mereka lagi saat ini, apalagi menggunakannya.
Jadi, dengan keyakinan kuat, aku menghapus semua item yang sudah tak berfungsi. Ini menyisakanku hanya dengan perlengkapan dasar.
“Tak akan ada masalah dengan level skillku kan?”
“Dari sudut pandang sistem, tidak ada. Saat dibandingkan dengan waktu bermainmu itu memang sedikit tak wajar, namun kecuali GM mengecek, pasti takkan ada masalah.”
“Begitukah? Heh, aku sudah berubah dari Beater menjadi Cheater.”
Tapi, kalau soal kekuatan karakter, langit adalah batasnya. Aku harus mencapai puncak Yggdrasil dan menolong Asuna. Selain itu, aku tak datang ke dalam Game ini untuk senang senang, aku tidak dalam mood untuk bermain dengan serius.
Melihat dengan teliti pada bar statusku, aku bisa tahu kalau dunia ini tak menyamakan angka dan kekuatan. Parameter Kekuatan dan kelincahan SAO tak ada disini, belum lagi peningkatan HP dan MPnya sangat kecil. Juga, seiring skill senjata meningkat, satu satunya hal yang berubah adalah jumlah senjata yang kau bisa gunakan, tak ada perubahan pada kekuatan serang. Dan, tentu saja, skill pedang yang menjadi ciri khas SAO, tak ada disini.
Dengan kata lain, ALO berfokus pada kemampuan atletik alami dan daya pikir si pemain. Dalam SAO, serangan dari lawan yang levelnya lebih rendah takkan terlalu berpengaruh pada HP. Namun hal ini nampaknya tak berlaku disini.
Satu satunya yang unik adalah «sihir», yang tak ada dalam SAO. Sekarang, hanya «Sihir Ilusi» yang tercantum dalam skill sihirku, jadi mungkin ini adalah skill dasar bagi ras Spriggan. Aku belum pernah memakai sihir dan belum pernah diserang oleh sihir, jadi aku tak terlalu memahaminya.
Aku menutup jendela, menghadap Yui yang masih lengket di dadaku dengan matanya menyipit seperti kucing, dan bertanya, “Ngomong ngomong, kenapa Yui bisa berada di dunia ini?”
Disamping fakta kalau aku bisa menyentuhnya, Yui bukan manusia. Abnormalitas dalam prosedur perawatan SAO berdampak pada kelahirannya. Dia adalah kecerdasan buatan, dengan kata lain, seorang «AI».
Saat ini, tahun 2025, banyak institusi penelitian telah mempublikasikan jurnal yang salah satunya berjudul «Kecerdasan Buatan – Mendekati Kebijaksanaan Tanpa Batas». Jurnal ini menyatakan bahwa selama proses «kebiasaan rasional» berlanjut, pada akhirnya batas diantara simulasi kebijaksanaan dan kebijaksanaan sejati akan menjadi kabur, berdampak pada terciptanya AI yang lebih maju.
Yui mungkin adalah eksistensi semacam itu, AI sejati pertama. Namun itu bukan masalah bagiku, aku menyayangi Yui seperti putriku sendiri dan dia menganggapku Ayahnya. Itu saja sudah cukup.
“Ah, nampaknya ada program pseudo-karakter untuk mendukung pemain dalam Alfheim Online. Mereka disebut «Navigation Pixies», mungkin aku diklasifikasikan seperti mereka.”
Mengatakan itu, dia membuat wajah aneh untuk sesaat. Setelah itu, tubuhnya mendadak bersinar dan menghilang.
“Yui!?”
Sword Art Online Vol 03 - 103.jpg
Aku berteriak dalam kepanikan. Bermaksud berdiri, aku menyadari sesuatu yang melekat di lututku.
Tingginya sekitar sepuluh sentimeter, dengan kaki dan lengan langsing. Mengenakan gaun mini pink yang terlihat seperti dibuat dari kelopak bunga, dengan dua sayap transparan yang membentang dari punggungnya. Ia adalah, singkat kata, seorang pixie. Dengan wajah imut dan rambut panjang, meski dia nampak berbeda, dia adalah, tanpa ragu, Yui.
“Ini adalah penampilan dari «pixie».”
Yui berdiri di lututku, dan dengan tangan di pahanya, mulai mengepakkan sayapnya.
“Oh.....”
Aku menghela nafas sambil menyentil pipi Yui dengan jariku.
“Itu geli!”
Yui tertawa, dan naik ke udara untuk lolos dari jariku, disertai oleh suara kepakan sayap, sebelum duduk di bahuku.
“.......Lantas, apa kamu juga punya hak administrator istimewa, seperti sebelumnya?”
“Tidak.....” Yui mengatakannya dengan suara terisi frustasi.
“Pada saat itu, yang bisa kulakukan hanya mengakses referensi dan data area peta yang luas. Aku juga bisa mengkonfirmasi status pemain yang membuat kontak denganku, tapi aku tak bisa mengakses program database utama mereka.”
“Ah, jadi begitu......sebenarnya....”
Ekspresiku berubah, dan aku mengubah topik, akhirnya masuk ke persoalan utama.
“Asuna......nampaknya Ibumu ada disini.”
“Oh....Mama!?”
Yui melompat dari bahuku, dan melayang layang di depan wajahku.
“Apa maksudmu?”
“......”
Aku hampir bermaksud menjelaskan tentang Sugou Nobuyuki, namun aku sedikit ragu ragu. Yui telah terseret ke ambang keruntuhan oleh emosi negatif para pemain dalam SAO. Aku tak ingin membuat dia semakin terkotori oleh perasaan buruk manusia.
“......Setelah penutupan server SAO, Asuna tak kembali ke dunia nyata. Aku mendapat informasi kalau di dunia ini ada orang yang kelihatan sangat mirip dengan Asuna. Mungkin saja itu hanya kebetulan, dan mungkin itu hanya karakter lain yang kebetulan mirip dengannya. Aku hanya ingin memastikan kebenaran ini.”
“Ah....tentang hal seperti ini.......maafkan aku Papa, normalnya aku hanya perlu memindai data pemain, namun tanpa akses ke sistem aku tak bisa melakukannya.”
“Tak perlu menyalahkan dirimu. Pokoknya, aku punya ide dimana dia berada. Yggdrasil......dia mungkin ada disana. Tempat itu, apa kamu tahu?”
“Ah, aku tahu itu. eh, eh, itu kira kira ada di arah timur laut, namun cukup jauh dari sini. Kalau aku mengatakannya dengan jarak pasti, kira kira ada lima puluh kilometer jauhnya.”
“Wow, itu jauh sekali. Bukankah itu, lima kali lebih jauh dari Aincrad. Selain itu, kenapa aku sampai dikirim ke hutan ini?”
Yui merendahkan kepalanya untuk sejenak oleh pertanyaanku.
“Kupikir data posisimu kemungkinan rusak atau disalahartikan dengan pemain lain, hasilnya kamu terjatuh disini. Itu hanya dugaan, sih.”
“Kalau aku harus jatuh, kenapa nggak lebih dekat dengan Yggdrasil saja. Mm, yang pasti, kudengar kita bisa terbang disini?”
Aku berdiri, dan memutar kepalaku untuk melihat benda di bahuku.
“Oh, benar, memang ada sayap.”
Dari punggungku membentang empat empat sayap transparan berwarna biru keabu abuan. Mereka lebih mirip seperti sayap serangga ketimbang sayap sayap yang lain. Namun aku bahkan tak tahu bagaimana membuat mereka bergerak.
“Bagaimana aku terbang?”
“Sepertinya ada controller panduan untuk terbang. Mohon ulurkan tangan kirimu, seolah menggenggam sesuatu.”
Aku mengikuti arah yang ditunjukkan gadis kecil di bahuku. Kemudian, objek seperti joy stick muncul di tanganku.
“Tarik kedepan untuk naik, dan dorong ke belakang untuk turun, kanan dan kiri untuk membelok, tekan tombol untuk berakselerasi, dan lepaskan tombol untuk melambat.”
“Nn.”
Aku menarik joystick ke arah diriku. Sayap di punggungku mulai membentang dan tak lama kemudian mulai bersinar. Aku menarik joystick semakin jauh ke arah diriku.
“Oh.”
Mendadak, tubuhku mulai mengapung. Aku naik dengan perlahan sekitar satu meter dari tanah sebelum aku membiarkan tanganku kembali ke posisi alami. Selanjutnya, aku menekan tombol akselerasi. Tubuhku mulai bergerak maju.
Kemudian, aku mencoba turun dan berbelok; aku memahaminya cukup cepat. Ini jauh lebih gampang dari VR Game penerbangan yang kumainkan sebelumnya dan operasinya juga simpel.
“Kupikir kurang lebih aku sudah paham. Sekarang, ada sesuatu yang ingin kuketahui. Kota apa yang paling dekat dari sini?”
“Ke arah barat terdapat kota bernama «Sylvain». Itu yang terdekat. Ah.”
Yui tiba tiba menengadah ke atas.
“Ada apa?”
“Beberapa pemain mendekat kemari. Sepertinya ada satu pemain yang dikejar oleh tiga pemain.”
“Ohh, ada pertempuran. Aku mau lihat.”
“Papa sungguh rileks seperti biasanya.”
Sambil berbicara pada Yui, aku membuka menu dan melengkapi diriku dengan pedang yang kuterima sebagai senjata awal. Usai menariknya, aku mengayunkannya beberapa kali.
“Wow, pedangnya jelek amat. Juga terlalu ringan; ah, tapi biarlah.”
Aku menyarungkan pedangku dan memanggil controller untuk terbang lagi.
“Yui, kuserahkan navigasi padamu.”
“Paham!”
Menjawab dengan suara seperti lonceng, Yui lepas dari bahuku. Mengikutinya, aku juga lepas ke udara.


Sumber : http://www.baka-tsuki.org/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar