Minggu, 23 November 2014

Bagian 4 LN SAO Gadis Embun Pagi (Mobile Version)

Bagian 4

Hawa dingin yang dirasakan kemarin seolah suatu kebohongan, suatu kehangatan, hembusan angin yang bertiup melewati rerumputan. Mungkin menarik beberapa burung kecil yang hinggap di ranting pohon, burung – burung tersebut tampak mengawasi orang – orang dengan penuh ketertarikan.
Pesta kebun yang diadakan oleh Sasha tanpa mempedulikan musim di pekarangan luas depan gereja, meja besar dari ruang makan telah dipindahkan disini. Makanan telah diangkat dari alat pemanggang seperti sebuah sihir, semakin membuat keramaian dari anak – anak.
"Tak pernah terpikir jika makanan selezat ini... benar – benar ada di dunia ini..."
Kepala pemimpin dari «Army» yang baru saja diselamatkan malam sebelumnya, Sinker, menggigit barbeque yang Asuna buat dengan kemampuannya, lalu berkomentar kagum. Disisinya, Yuriel melihat keadaan sambil tersenyum. Ketika pertama kali melihatnya, ia tampak seperti kesatria wanita berkepala dingin, akan tetapi ketika ia disisi Sinker, ia terlihat seperti istri muda yang penuh ceria.
Begitu pula bagi Sinker, meskipun tak memiliki waktu untuk berkenalan dengannya kemarin, ketika duduk pada meja yang sama seperti saat ini, ia adalah pribadi yang memancarkan aura lembut, tak seperti orang perkedudukan atas seperti organisasinya.
Dengan postur sedikit lebih tinggi dari Asuna, namun lebih pendek dari Yuriel. Pakaian yang dikenakan tubuhnya sederhana, bahkan ia tidak membawa satupun senjata. Disampingnya, Yuriel juga tak mengenakan seragam the Army miliknya.
Sinker menerima botol wine yang ditawarkan Kirito ke gelasnya, dan tampaknya tidak pertama kalinya ia memberikan tundukan ramah.
"Asuna-san, Kirito-san. Kami benar – benar harus berterima kasih pada kalian. Bagaimana cara kami melakukannya..."
"Tidak, aku juga berhutang budi pada «MMO Today» kok."
Kirito menjawab sambil tersenyum.
"Itu nama yang sungguh berkenang."
Senyum lebar tampak pada wajah bulat Sinker ketika mendengarnya.
"Pada saat itu, dengan beban untuk memperbaharui situs setiap hari, aku berpikir jika aku tidak seharusnya membuat situs berita, namun ketika dibandingkan dengan menjadi seorang pemimpin sebuah leader, tampaknya membuat situs terlihat lebih mudah. Aku juga sebaiknya menjalankan situs berita disina, huh."
Tawa ramah terdengar dari meja.
"Dan, yah... bagaimana dengan the «Army»...?"
Asuna menanyakan lalu Sinker mengubah ekspresinya.
"Kibaou dan pengikutnya telah diasingkan. Aku seharusnya melakukan hal itu lebih awal... dengan pribadiku yang sangat buruk jika berargumen, situasinya malah memburuk... —Aku juga berpikir untuk membubarkan the Army."
Asuna serta Kirito membuka mata mereka dengan cepat karena terkejut.
"Kamu... harus mempertimbangkan hal seperti itu."
"The Army telah menjadi terlalu besar... aku akan membubarkan guild dan setelahnya aku akan menciptakan organisasi yang lebih damai untuk menolong sesama sekali lagi. Membubarkan the army dan meninggalkannya hanyalah bentuk ketidaktanggungjawaban."
Yuriel memegang tangan Sinker dengan lembut dan melanjutkan perkataannya.
"—Kami percaya, kami akan membagi aset – aset milik the army yang telah dikumpulkan sejauh ini bukan hanya untuk para anggota, tapi juga akan membaginya kepada semua penduduk kota ini. Kami telah membuat banyak masalah hingga kini... Sasha-san, kami sungguh minta maaf."
Yuriel dan Sinker tiba – tiba membungkuk dalam, menyebabkan mata Sasha berkedip karena terkejut. Ia melambaikan tangannya di depan wajahnya karena bingung.
"Tidak, itu terlalu berlebihan. Anak – anak juga menerima bantuan dari anggota the Army yang baik dalam field juga kok."
Dengan penolakan terus terang dari Sasha, tempat ini terisi oleh tawa sekali lagi.
"Well, kesampingkan itu..."
Menggelengkan kepalanya, Yuriel berbicara.
"Gadis yang kemarin, Yui-chan... bagaimana kabarnya...?"
Asuna bertukar pandang dengan Kirito, lalu membalas dengan tersenyum.
"Yui telah... kembali ke rumahnya..."
Asuna menggerakkan jari tangan kananya perlahan menuju dadanya. Ada sebuah kalung kecil berkilat yang sebelumnya tidak ada sejak kemarin. Di ujung rantai keperakan yang begitu cantik, sebuah bandul yang juga berwarna perak menggantung dengan permata yang bersinar didalamnya. Batu permata tersebut berbentuk tetes air mata, tampaknya bandul itu menyebarkan kehangatan menuju jari – jari Asuna.

Pada saat itu—
Setelah Yui diselubungi cahaya lalu menghilang disisi Asuna yang menangis tanpa henti sambil berlutut diatas ubin batu, Kirito lalu berteriak.
"Cardinal!!"
Sambil mengangkat wajahnya, Kirito menatap langit – langit ruangan tersebut dan berteriak.
"Jangan berpikir jika hal ini akan berakhir seperti yang kau inginkan..!!"
Menekan dirinya sendiri dengan kuat, Kirito melompat mendadak menuju konsol hitam yang berada di tengah – tengah ruangan. Ia dengan cekatan menekan keyboard hologram yang masih ditampilkan. Keterkejutan Asuna menghilangkan duka miliknya secara langsung, Asuna menangsi sambil melihat apa yang dilakukan Kirito.
"Ki- Kirito-kun... Apa yang...!?"
"Jika masih... Jika masih sempat sekarang ini, aku mungkin masih bisa mengganggu kedalam sistem menggunakan akun GM...."
Dihadapan mata Kirito, yang masih melanjutkan menekan tombol keyboard sambil berkomat - kamit, sebuah jendela besar muncul bersamaan bunyi beep, lalu cahaya dari Kirito bergulung melewati ruangan secara cepat. Asuna menatapnya penuh keheranan, Kirito memasuki beberapa printah program dengan sukses. Jendela kecil bar progress muncul, dan ketika bar horizontal mencapai sisi paling kanan—
Seluruh konsol yang terbuat dari batu hitam tiba – tiba bercahaya putih kebiruan, lalu setelahnya Kirito terlempar bersamaan dengan bunyi ledakan yang terdengar.
"Ki- Kirito-kun!!"
Karena panik, Asuna menghampirinya yang telah terjatuh ke tanah.
Menggelengkan kepalanya sambil mencoba berdiri, Kirito memberikan senyum tipis didalam ekspresinya; ia menatap Asuna dan mengulurkan tangan kanannya. Tak mengerti apa yang sedang terjadi, Asuna menggapai tangannya.
Apa yang jatuh dari tangan Kirio menuju tangan Asuna adalah kristal besar yang berbentuk sebuah air mata. Di tengah segi batu yang luas, detakan, detakan, sebuah cahaya putih berkedip.
"In- Ini adalah...?"]
"...Sebelum sumber otoritas yang diaktifkan Yui diputus, aku mencoba mati – matian untuk memutuskan program milik Yui dari sistem dan mengubahnya menjadi sebuah objek... Didalam kristal itu, hati milik Yui berada..."
Sete;ah mengatakan itu, Kirito terjatuh ke tanah seolah ia kehabisan tenaga, lalu ia menutup matanya.
"Yui-chan... kamu... disana, huh... Yui-chan-ku..."
Sekali lagi, air mata Asuna mengalir tanpa henti. Cahaya remang seolah menjawab Asuna dari dalam kristal, kristal itu berkelip dengan kuat satu kali.

Meraka berdua dengan enggan melambaikan tangan pada Sasha, Yuriel, Sinker, dan pada anak – anak, serta pada udara dingin yang menuiupkan bau khas dari hutan, Asuna serta Kirito kembali ke lantai dua puluh dua dari gerbang teleport. Meskipun perjalanan ini terjadi selama tiga hari, namun seolah terasa lebih lama, lalu Asuna mengambil nafas dalam – dalam.
Sungguh dunia yang luas—
Asuna sekali lagi memikirkan dunia melayang ini. Pada tiap – tiap lapisan dunia ini, ada orang yang tinggal di dalamnya, melewati hari – hari dengan air mata dan tertawa. Bukan, kejadian – kejadian menyakitkan tampaknya menjadi lebih umum untuk kebanyakan orang – orang. Akan tetapi semuanya memiliki pertarungan mereka sendiri setiap hari.
Tempat yang aku seharusnya...
Asuna menatap jalanan menuju rumah mereka berdua, lalu menatap pada dasar lantai diatas mereka.
—Mari kembali ke garis depan. Asuna tiba – tiba berpikir seperti itu.
Di masa depan mendatang. Aku hanya bisa mengangkat pedang milikku sekali lagi lalu kembali menuju pertempuranku sendiri. Aku tak tahu berapa lama lagi pertempuran ini akan berlangsung, akan tetapi aku akan bertarung hingga dunia ini selesai, untuk menunjukkan senyum mereka sekali lagi. Untuk memberikan kebahagian bagi semuanya— Itulah apa yang Yui harapkan.
"Hei, Kirito-kun."
"Hmm?"
"Jika permainan ini selesai dan dunia ini menghilang, apa yang akan terjadi pada Yui-chan?"
"Aah... Well, ini mungkin akan sedikit memotong kapasitasnya. Aku telah mengubahnya menjadi data yang berhubungan dengan client program serta menyimpan Yui kedalam Memory Local Nerve Gear milikku. Dengan kata lain, ini mungkin sedikit sulit untuk membukanya kembali sebagai Yui... namun entah bagaimana seharusnya masih mungkin untuk dilakukan."
"Aku mengerti."
Asuna membalik tubuhnya lalu memeluk erat Kirito.
"Well lalu pastikan kita bertemu Yui-chan sekali lagi di dunia nyata. Anak pertama kita."
"Iya. Pasti."
Asuna menatap kristal gemerlip yang berada diantara dadanya. Mama, lakukan yang terbaik... Asuna seolah mendengar redup itu dari dalam telinganya.
(Tamat)


Sumber : http://www.baka-tsuki.org/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar