Bagian 2
“Terima kasih atas perhatianmu. Lalu kami akan dengan hormat menerimanya. Tolong lindungi kami hingga kami mencapai pintu keluarnya."
Ini adalah kalimat pertama yang dikatakan oleh pemimpin dari guil «Black Cats of the Full Moon», Keita katakan kepadaku.
Lima bulan telah berlalu semenjak sore musim semi ketika permainan kematian bernama SAO dimuali. Untuk mengumpulkan material untuk senjata, aku pergi ke labirin sepuluh lantai dibawah garis depan pada yang sekarang.
Sebagai seorang Beater, aku telah dengan segera berlari sejak awal, menggunakan pengalamanku sebagai seorang beta tester. Memakai cara pemain solo yang sulit, telah memungkinkanku untuk mendapat experience point dengan sangat efisien. Hal ini mencapai tahap dimana aku bahkan dapat mengalahkan para monster di garis depan seorang diri. Karena itu, berburu dengan levelku yang sekarang menjadi begitu mudah dan santai sehingga hal ini menjadi sebuah tugas yang membosankan. Dengan menghindari pemain lainnya, aku dapat memperoleh sebuah set dari jumlah yang dibutuhkan dalam dua jam. Sementara aku bersiap untuk bergerak ke depan kearah pintu keluar, aku bertemu dengan sebuah kelompok yang sedang mundur, sebuah grup besar monster mengejar mereka.
Sebagai pemain solo, aku dengan segera memiliki pendapat bahwa kelompok itu benar-benar tidak seimbang. Dengan kelompok beranggotakan lima orang, satu-satunya pemain yang dapat mengambil peran depan adalah seorang pria yang membawa sebuah mace[39] dan perisai. Yang lainnya adalah seorang pencuri yang dilengkapi dengan sebuah pisau belati, seorang pengguna tongkat yang membawa tongkat dua tangan dan dua pengguna tombak panjang. Akan tetapi ketika hit point dari pengguna gada itu berkurang secara drastis, tidak ada orang lain yang dapat menggantikannya. Sebagai hasilnya, kelompok seperti ini hanya dapat mundur perlahan.
Untuk menentukan keadaan semua orang, aku memeriksa hit point mereka.Kelihatannya, masih lebih dari cukup untuk mereka untuk mundur dengan aman ke pintu keluar. Akan tetapi, penilaian itu tidak lagi berlaku bila mereka bertemu dengan grup monster lainnya saat mundur. Setelah sedikit ragu-ragu, aku berlari keluar dari jalur tempatku bersembunyi dan berbicara kepada pengguna tongkat yang kelihatannya adalah pemimpinnya.
“Apakah kamu ingin aku membantu sebagai pendukung di depan?"
Pengguna tongkat itu melihat kepadaku dengan kedua matanya terbuka lebar dan menganggukkan kepalanya setelah sesaat ragu-ragu.
“Lalu, maaf merepotkanmu, tetapi tolong segera mundur bila terdapat bahaya."
Aku menganggukkan kepalaku tanda mengerti dan menarik sebilah pedang di punggungku sebelum berteriak dari belakang pengguna gada itu untuk melakukan pergantian. Lalu, aku berlari menyerang para monster itu.
Musuhnya adalah satu grup goblin[45] yang telah banyak aku kalahkan sesaat yang lalu ketika berburu sendirian. Monster ini dapat dengan cepat dikalahkan bila aku maju dengan segenap tenaga dengan teknik pedangku. Bahkan bila aku tidak dapat bertahan terhadap serangan dari mereka, aku akan dapat bertahan lama dengan bergantung kepada skill «battle healing» untuk mengisi hit point-ku. Akan tetapi, aku pada saat itu juga khawatir. Walaupun aku tidak takut kepada para goblin itu, aku benar-benar khawatir mengenai apa yang dipikirkan oleh para pemain yang dibelakangku itu.
Umumnya, bagi para pemain dengan level tinggi yang menyebabkan sebuah gangguan besar sementara berlatih di lantai lebih bawah akan dianggap sebagai sebuah kelakuan yang buruk. Bila berlangsung untuk waktu yang lama, pemain itu akan mendapat teguran keras ketika permohonan itu diajukan kepada sebuah guild di lantai yang lebih atas untuk menyelesaikannya. Pemain itu akan berakhir di dalam daftar pemain dengan etikat yang buruk di koran dan akan dihadapkan kepada beberapa hukuman. Walaupun ini seharusnya bukan masalah karena aku menganggapnya sebagai sebuah situasi darurat, hal ini mengkhawatirkanku. Bila tidak dilakukan dengan baik, mereka akan menyebutku sebagai seorang Beater dibandingkan dengan mengucapkan terima kasih.
Karena itu, aku dengan sengaja memperlama waktu yang dibutuhkan untuk mengalahkan sekelompok goblin dengan membatasi penggunaan teknik pedangku. Pada saat itu, aku masih tidak sadar bahwa keputusanku itu akan mengarah kepada sebuah kesalahan yang tidak dapat diperbaiki.
Keseluruhan kelompok goblin itu akhirnya dikalahkan setelah beberapa giliran rotasi dengan pengguna gada itu, yang telah secara terus menerus memulihkan hit point-nya dengan onat-obatan. Aku terkejut ketika kelompok yang terdiri dari lima orang yang tidak diketahui ini mulai bersorak sorai dengan keras. Mereka secara bergantian memberi masing-masing tos (!) bergembira karena kemenangan ini.
Walaupun tidak dapat berkata apa-apa, aku masih memasang senyum yang belum biasa aku lakukan sementara menjabat tangan semua orang. Satu-satunya pemain wanita di dalam kelompok, seorang pengguna tombak berambut hitam adalah yang terakhir menggenggam tanganku dengan kedua tangannya sementara secara berulang-ulang mengatakan kepadaku diantara tangisnya:
“Terima kasih...... Terima kasih banyak. Aku benar-benar takut...... ketika kamu datang menyelamatkan kami, aku sangat senang. Aku benar-benar menghargai bantuanmu."
Mendengar kata-kata itu sementara melihat aliran air mata, terdapat sebuah emosi yang tidak dapat dijelaskan mengalir di dalam dadaku. Aku mengingat saat aku menolong mereka, terasa sangat enak bahwa aku cukup kuat untuk dapat melakukannya.
Walaupun aku telah menjadi seorang pemain solo sejak mulainya permainan ini, ini bukanlah kali pertama aku membantu kelompok lainnya di garis depan.Akan tetapi di dalam sebuah kelompok strategis, itu adalah sebuah pemahaman tak terucap bahwa kami seharusnya membantu satu sama lain di dalam medan pertempuran. Karena akan ada hari ketika aku akan membutuhkan bantuan mereka sebagai balasannya, aku akan membantu orang lain tanpa mengharapkan sesuatu sebagai balasan. Lebih jauh lagi, mereka yang dibantu hanya akan memberi salam singkat sebagai balasnya. Ini adalah cara terbaik untuk dengan cepat mengatasi keheningan pasca pertarungan sebelum mulai dari pertarungan berikutnya. Cara berpikir sederhana itu ada sebagai cara untuk secara terus menerus dan efisien memperkuat diri sendiri.
Akan tetapi, mereka – para «Black Cats of the Full Moon» berbeda. Keseluruhan kelompok dipenuhi dengan kesenangan besar hanya karena satu kemenangan dalam pertempuran, dan memuji usaha masing-masing. Hal ini terlihat seperti suara terompet kemenangan di akhir sebuah stand-alone RPG ketika aku mengusulkan untuk menemani mereka ke pintu keluar. Itu mungkin dipengaruhi oleh suasana seperti keluarga yang mereka punya antara mereka sendiri. Untuk menjelaskannya lebih lanjut, aku merasa bahwa kenyataannya mereka adalah yang menyelesaikan permainan gila bernama SAO ini.
“Aku juga sedkit khawatir mengenai jumlah obat-obatan penyembuh yang tersisa yang aku punya...... Bila kamu tidak keberatan, mari mengarah ke pintu keluar bersama."
Keita mengangguk sementara tertawa lebar terhadap kebohonganku.
“Terima kasih banyak untuk perhatianmu."
Tidak, ketika aku akhirnya menyadari bahwa itu hanya aku yang merasakan hal itu sebagai sebuah pengalaman yang menyegarkan, sudah enam bulan sejak hilangnya «Black Cats of the Full Moon». Sebagai seseorang yang telah mengadopsi kebijaksanaan sebagai seorang pemain solo untuk mengumpulkan kekuatan, melindungi seseorang yang jauh lebih lemah dariku memberi sebuah perasaan yang mirip dengan menjadi tempat bergantung. Itu hanyalah bagaimana keadaan saat itu.
Sementara berada di area jalan utama setelah meninggalkan labirin, aku telah menyetujui undangan Keita ke sebuah ale house[46], mereka yang membayar. Karena itu, kami melakukan toast[47]untuk merayakan kemenangan ini dengan anggur merah yang akan dianggap mahal oleh mereka. Ketika aku selesai memperkenalkan diriku sendiri, Keita dengan ragu-ragu bertanya mengenai levelku sekarang dengann berbisik setelah suasananya telah tenang.
Aku telah kurang lebih menduga pertanyaan ini akan ditanyakan. Karena itu, aku telah memikirkan tentang sebuah angka palsu yang cocok beberapa waktu yang lalu. Angka yang aku katakan kepada mereka sebenarnya adalah tiga level lebih tinggi dari rata-rata level mereka...... tetapi, sebenarnya dua puluh level lebih rendah dari levelku yang sebenarnya.
“Huh! Kamu dapat bermain solo di tempat ini dengan levelmu yang sekarang?"
Ekspresi wajahku yang masam ketika membalas Keita mengejutkannya.
“Tidak perlu berbicara seperti itu...... bahkan bila bermain solo, tetapi aku pada dasarnya hanya memilih musuh yang terpisah untuk diserang sementara menghindari deteksi yang lainnya. Akan tetapi dalam hal efisiensi, hal ini tidak terlalu tinggi."
“Oh...... Memang, lalu…... Walaupun ini agak mendadak....... Tetapi aku pikir beberapa guild akan mengundangmu untuk menjadi anggotanya dalam waktu sangat dekat...... Bila kamu bersedia, maukah kamu begabung dengan guild kami?"
“Huh......?”
Menghadapiku yang tidak yakin bagaimana untuk membalas, wajah Keita yang telah menjadi merah, menjadi lebih bersemangat sementara dia berbicara
“Begini, berdasarkan level kita sekarang, kita dapat dengan aman berlatih di dalam labirin tempat kita berada sebelumnya. Mengenai keahlian untuk bergerak lebih tinggi...... kamu pasti mengerti mengenai keadaan kami sekarang ini. Satu-satunya orang yang dapat berperan sebagai pemain depan adalah Tetsuo. Tidak peduli bagaimana, tingkat pemulihannya tidak dapat menandingi tingkat berkurangnya. Karena itu, kondisi dalam pertarungan hanya akan menjadi lebih buruk. Bila kami mempunyai rekan lainnya untuk bergabung dengan kami, keadaan akan menjadi lebih baik. Lebih dari itu...... Sachi, datang sebentar ke sini."
Keita menaikkan tangannya dan memanggil dengan keras kepada pengguna tombak berambut hitam itu. Gadis mungil bernama Sachi ini datang sementara memegang segelas anggur merah dan dengan malu-malu mengangguk kepadaku. Keita meletakkan tangannya di kepala Sachi sebelum meneruskan dan berkata:
“Keahlian utama gadis ini seperti yang dapat kamu lihat, adalah menggunakan tombak panjang dua-tangan. Tetapi keahliannya termasuk rendah dibandingkan dengan pengguna tombak panjang lain kami. Karena itu, aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengubah dia menjadi pembawa perisai dan pengguna pedang satu-tangan. Hanya saja kami tidak pernah memiliki kesempatan untuk berlatih sebelumnya. Terlebih lagi, kami juga tidak terbiasa dengan pedang satu-tangan. Bila kamu bersedia, maukah kamu menjadi pelatihnya?"
“Apa ini! Memperlakukanku seperti anak kecil!"
Sachi mengangkat pipinya dan sedikit menjulurkan lidahnya keluar sementara tersenyum dan berkata:
“Ini karena aku selalu bertanggung jawab untuk menyerang musuh dari jauh. Bila kamu tiba-tiba memerlukanku untuk bergerak maju dan melawan musuh dalam pertarungan jarak dekat, aku akan menjadi takut."
“Tidak masalah selama kamu berlindung dibalik perisaimu. Berapa kali aku perlu mengulanginya sebelum kamu mengerti...... yang benar saja. Kamu terlalu mudah takut sejak dulu.
Aku hanya mengetahui mengenai garis depan dari SAO yang penuh dengan pembunuhan. Tidak, dalam pendapatku semua pemain berlomba-lomba untuk mendapatkan bahan-bahan di dalam MMORPG. Karena itu, interaksi diantara mereka itu benar-benar menarik dan mengagumkan. Ketika Keita menyadari bahwa aku sedang melihatnya, dia dengan malu-malu tersenyum dan berkata:
“Ah....... Anggota guild kami sebenarnya adalah anggota dari klub komputer dari SMP yang sama di dunia nyata. Sebenarnya, dia tinggal sangat dekat denganku …... Ah, tolong jangan khawatir karena semua orang di sini sangat ramah. Kamu pasti akan dapat akrab dengan yang lainnya dengan cepat."
Semua orang di dalam grup itu, termasuk Keita, adalah orang-orang yang baik. Itu adalah sesuatu yang sudah aku ketahui semenjak aku menghabiskan waktu dalam perjalanan pulang dari labirin itu dengan mereka. Aku merasa sangat bersalah membohongi mereka ketika aku memaksakan sebuah senyum dan mengangguk.
“Lalu...... Tolong perbolehkan aku untuk bergabung dengan kalian semua. Juga, tolong bimbing aku."
Dengan pemain depan kedua, keseimbangan dari kelompok Black Cat itu meningkat drastis.
Tidak,bila salah satu dari mereka memiliki sebuah keraguan, mereka akan menemukan bahwa HP-ku tidak akan berkurang untuk suatu alasan yang aneh. Akan tetapi, teman-teman yang baik ini semua percaya kepadaku karena apa yang aku katakan, bahwa aku membuat mantel ini dari beberapa material langka—dan ini bukanlah sebuah kebohongan—dan mereka tidak pernah meragukanku.
Selama sebuah pertarungan kelompok, aku hanya bertugas dalam pertahanan, dan membiarkan anggota yang lain di belakangku untuk mengatasi para musuh dan mendapatkan experience point. Keita dan lainnya dengan cepat menaikkan level mereka, dan setelah aku bergabung selama seminggu, kami telah berlatih di tempat berburu satu lantai lebih tinggi dari yang sebelumnya.
Kami duduk berdekatan di dalam sebuah area aman di dalam dungeon. Keita sedang memakan bento[48] yang dibuat oleh Sachi sementara dia dengan bersemangat memberitahukan kepadaku impiannya,
“Tentu saja, keselamatan dari teman-teman kami adalah yang terpenting. Tetapi…bila, bila kita hanya ingin selamat, kita hanya perlu mengunci diri kita di dalam kota sejak awal. Karena kami telah berlatih dan meningkatkan level kami seperti ini, kami berharap setidaknya berada di dalam grup penyelesai. Walaupun garis depannya masih jauh dari kami, kami hanya dapat menyerahkannya kepada guild-guild terkuat seperti Knights of the Blood atau Sacred Dragon Alliance untuk menaklukannya... eh, Kirito, apa bedanya antara mereka dan kita?"
“Eh…un, informasi. Mereka mempunyai informasi mengenai area mana yang merupakan tempat paling efektif untuk berlatih, bagaimana mendapatkan senjata terkuat di dalam permainan ini dan berbagai hal lain."
Itu adalah alasan mengapa aku berada di dalam regu penyerang, tetapi Keita kelihatannya tidak senang dengan jawaban ini.
“Itu... jelas adalah sebuah alasan. Tetapi aku merasa bahwa itu adalah semangat. Keinginan mereka untuk melindungi teman-teman mereka, semua pemainnya menjadi kuat. Itu karena kekuatan inilah sehingga mereka dapat menang di dalam pertempuran-pertempuran yang berbahaya dengan para bos. Kami adalah mereka yang dilindungi, tetapi perasaan kami tidak akan kalah dengan mereka. Jadi... aku merasa bahwa jika kita terus bekerja keras seperti ini, kita dapat mengejar mereka."
“Yah... kamu benar."
Walaupun aku mengatakan hal itu, aku merasa itu bukanlah karena alasan yang menakjubkan seperti itu. Alasan kenapa para grup penyelesai memiliki motivasi mereka adalah karena mereka selalu memiliki seorang pendekar pedang yang berada di atas ribuan pemain lainnya. Buktinya adalah bila mereka bertujuan untuk menyelesaikan SAO hanya untuk melindungi para pemain, para pemain kelas atas tersebut seharusnya telah menyediakan semua informasi dan perlengkapan yang mereka dapat kepada para pemain kelas menengah. Lalu mereka dapat meningkatkan level dari semua pemain, dan jumlah orang yang bergabung dengan grup-grup penyelesai akan bertambah.
Alasan mereka melakukan hal itu adalah karena mereka berharap untuk menjadi yang terkuat. Tentu saja, aku juga sama. Pada saat itu, aku akan menyelinap keluar dari tempat peristirahatan kami dan pergi ke garis depan untuk terus meningkatkan level-ku. Perbuatan ini terus menjauhkan perbedaan level antara aku dan para anggota dari Black Cats. Walaupun aku mengetahui bagaimana akhirnya, aku terus menerus mengkhianati mereka.
Tetapi pada saat itu, aku kurang lebih percaya bahwa bila level dari para anggota Black Cats meningkat, kami dapat bertarung di garis depan. Pada saat itu, aku rasa cita-cita dari Keita mungkin dapat mengubah sifat tertutup dari para grup penyelesai.
Sebenarnya, dapat dikatakan bahwa level dari para anggota Black Cats meningkat dengan kecepatan yang tidak normal. Area latihan yang kami gunakan adalah tempat yang sebelumnya aku selesaikan sebagai bagian dari garis depan. Aku tahu semua mengenai tempat itu, baik tempat-tempat berbahayanya atau tempat-tempat efektif untuk berlatih. Aku terus menerus memandu mereka tanpa mengkhawatirkan apa-apa, terus menerus memikirkan rencana paling efisien dalam berburu, menyebabkan level rata-rata anggota guild Black Cats untuk berada sangat jauh di atas level rata-rata pemain secara keseluruhan. Ketika aku bergabung, kami masih berada sepuluh lantai di bawah garis depan, tetapi celahnya dengan cepat menyempit menjadi lima. Kami terus menerus menambah kecepatan dan col, dan sepertinya kami segera akan memiliki cukup col untuk membeli sebuah rumah untuk guild.
Akan tetapi, ada satu masalah. Transformasi Sachi menjadi pendekar pedang berperisai tidak dapat diteruskan.
Tetapi hal itu tidak dapat dihindarkan. Ketika menghadapi monster-monster ganas pada jarak dekat, apa yang lebih penting daripada jumlah dalam level adalah keberanian untuk menahan rasa takut dan bertarung terus hingga akhir. Segera setelah SAO dimulai, banyak pemain meninggal karena mereka menjadi panik dan tenggelam dalam kekacauan. Bila aku benar-benar harus mengatakannya, Sachi termasuk seorang penakut yang kelihatannya tidak dapat berperan sebagai pemain depan.
Aku merasa tidak perlu bagi Sachi untuk mengganti tipe karena aku memiliki status yang jauh melebihi yang dibutuhkan untuk menjadi perisai mereka. Akan tetapi, anggota yang lainnya tidak merasa begitu. Setidaknya, mereka kelihatannya sedikit menyesal bahwa aku harus menjadi seorang pemain depan, yang akan sangat melelahkan. Walaupun dia tidak mengatakannya karena semangat dalam grup sangat baik, Sachi merasa bahwa tekanannya menjadi lebih kuat.
Pada suatu malam, Sachi tiba-tiba menghilang dari tempat peristirahatan.
Semuanya mengira alasan mereka tidak dapat menemukan lokasinya dari daftar anggota guild adalah karena dia sedang sendirian di dalam dungeon. Hal ini membuat para anggota dari Keita panik, dan mereka segera pergi keluar untuk mencari.
Akan tetapi, aku adalah satu-satunya yang bersikeras untuk mencari di luar dungeon. Alasanku adalah ada beberapa tempat yang tidak dapat dilacak. Tetapi kenyataannya, aku telah memiliki keahlian 'Melacak' tingkat tinggi yang membolehkanku mencari musuh. Tentu saja, aku tidak dapat menjelaskan hal ini kepada teman-temanku.
Sementara Keita dan lainnya berlari ke arah dungeon di lantai itu, aku pergi ke kamar Sachi, mengaktidkan fungsi pelacak, dan mengikuti langkah kaki berwarna hijau muda yang muncul.
Langkah kaki kecil itu mengarah ke arah yang semua orang, termasuk aku, tidak diduga sama sekali. Dia menghilang ke dalam tempat pembuangan air yang termasuk jauh dari jalan utama. Aku menelengkan kepalaku dan berjalan masuk, dan melihat di pinggiran luar dari kegelapan tempat itu dimana tetesan air menetes, Sachi sedang duduk berjongkok dengan sebuah mantel yang baru saja dia dapat, yang memiliki fungsi tidak terlihat.
“…Sachi.”
Ketika aku mengatakan hal itu, dia menggelengkan rambut hitamnya yang sepanjang bahu dan melihat ke atas, menggumam kaget,
“Kirito…bagaimana kamu tahu aku aku ada di sini?"
Aku ragu-ragu mengenai bagaimana untuk menjawabnya, dan akhirnya berkata.
“Insting.”
“…Begitu."
Sachi tersenyum dan sekali lagi menyandarkan wajahnya kepada lututnya yang sedang dipeluknya. Aku mencoba sebaik mungkin untuk memikirkan kata-kata, dan mengatakan sesuatu yang kurang kreatif,
“…Semuanya khawatir mengenaimu. Mereka bahkan mengirim orang ke dungeon untuk mencarimu. Segeralah kembali."
Kali ini, terdapat keheningan panjang. Setelah satu atau dua menit, aku ingin mengatakan hal yang sama lagi, tetapi kali ini, suara yang lemah dari Sachi keluar sementara dia menurunkan kepalanya,
“Hei, Kirito, mari kita lari."
Aku bertanya secara naluriah,
“Lari... dari mana?"
“Dari kota ini, semuanya yang ada di Black Cats, para monster... dari SAO."
Aku tidak begitu akrab dengan para gadis—atau bahkan manusia umumnya sehingga aku tidak dapat menjawabnya dengan segera. Setelah berpikir panjang, aku dengan takut-takut bertanya,
“Apakah kamu... bermaksud untuk melakukan bunuh diri bersama?"
Setelah keheningan sesaat, Sachi tersenyum.
“Fufu…yah, seharusnya tidak masalah... tidak, maaf. Aku bberbohong. Bila aku memiliki keberanian untuk melakukan bunuh diri, aku tidak akan bersembunyi di dalam kota... jangan berdiri terus. Duduklah juga."
Aku tidak apa yang harus dilakukan, jadi aku duduk sedikit dekat di samping Sachi di lantai batu itu. Dari pintu keluar berbentuk setengah lingkaran dari tempat pembuangan air ini, aku dapat melihat cahaya kotanya yang sekecil bintang-bintang.
“…Aku takut akan kematian. Karena aku takut, aku bisa dibilang tidak dapat tidur selama ini."
Akhirnya, Sachi menggumam.
“Mengapa hal seperti ini terjadi? Mengapa kita tidak dapat keluar dari permainan ini? Mengapa kita dapat mati walaupun ini hanyalah sebuah permainan? Apa yang dapat didapat oleh Kayaba itu dengan melakukan hal ini? Apa arti dari hal ini...?"
Sebenarnya, aku dapat memberi sebuah jawaban untuk masing-masing dari kelima pertanyaan itu. Tetapi bahkan akupun tahu bahwa Sachi tidak mencari jawaban semacam itu. Aku berusaha sebaik yang aku bisa untuk berpikir dan berkata,
“Kemungkinan besar, tidak ada artinya... dan tidak ada yang dapat memperoleh keuntungan dari ini. Pada saat dunia menjadi seperti ini, semuanya kehilangan hal terpenting dari yang mereka miliki."
Aku menahan air mataku sementara aku mengatakan sebuah kebohongan besar kepada gadis ini. Hal itu karena aku berbohong kepada diriku sendiri untuk menjadi lebih kuat, dan merasakan kepuasan dari rahasia ini ketika aku memasuki kelompok dari para Black Cats. Bisa dibilang, aku jelas-jelas mendapatkan keuntungan bagi diriku.
Pada saat itu, aku seharusnya mengatakan semuanya kepada Sachi. Bila aku memiliki sepotong kecil saja kejujuran, aku seharusnya sudah menunjukkan egoismeku yang buruk ini keluar. Pada keadaan itu, Sachi mungkin dapat mengeluarkan sebagian dari tekanan yang ada pada dirinya, dan dia bahkan mungkin merasa agak tenang.
Akan tetapi, apa yang dapat aku katakan hanyalah sebuah kebohongan untuk lebih menguatkan diriku.
“…Kamu tidak akan mati."
“Mengapa kamu mengatakan hal itu?"
“…Bahkan dalam keadaan kita yang sekarang, Black Cats tetaplah sebuah guild yang kuat. Kita juga telah mencapai batas aman. Bila kamu tetap di dalam guild itu, kamu dapat terus hidup dengan aman. Juga, kamu tidak benar-benar perlu berganti menjadi seorang pendekar pedang."
Sachi mengangkat kepalanya dan menunjukkan kepadaku sebuah ekspresi kepercayaan. Akan tetapi, aku tidak dapat menatap langsung kepada kedua mata itu dan merendahkan kepalaku.
“…Benarkah? Aku dapat terus hidup hingga akhir? Kembali ke dunia nyata?"
“Ahh…kamu tidak akan mati. Kamu akan terus hidup hingga hari dimana permainan ini terselesaikan."
Kata-kata itu adalah kata-kata yang tidak meyakinkan dan tidak memiliki pengaruh apapun didalamnya. Walaupun begitu, Sachi bersandar kepadaku, menyandarkan wajahnya kepada bahu kiriku dan menangis untuk beberapa lama.
Setelah beberapa lama, aku mengirim pesan kepada Keita dan kawan-kawan dan membawa Sachi kembali ke tempat menginap kami. Sachi kembali ke ruangannya untuk beristirahat, dan aku menunggu di lantai pertama dari meja minum menunggu kembalinya Keita dan kawan-kawan. Aku memberitahu kepada mereka beberapa hal—Sachi membutuhkan waktu lebih lama untuk menjadi seorang pendekar pedang, dan bila mungkin, dia lebih baik terus menjadi seorang pendekar tombak. Juga, aku dapat terus menjadi pemain depan.
Keita dan lainnya bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi antara Sachi dan aku, tetapi mereka dengan gembira menyetujui rencanaku. Aku menghela napas lega, tetapi ini tidak akan menyelesaikan masalah sesungguhnya.
Dari malam berikutnya dan seterusnya, Sachi akan datang untuk tidur di kamarku. Dia berkata bahwa bila terus bersamaku dan mendengar bahwa dia tidak akan mati, dia akan dapat tidur dengan tenang. Sekarang aku benar-benar tidak dapat menyelinap keluar pada malam hari untuk mendapat experience. Walaupun begitu, hal ini tidak berarti rasa bersalahku karena berbohong kepada Sachi dan lainnya menghilang.
Untuk alasan tertentu, ingatan mengenai hal itu terpadatkan seperti gumpalan salju, jadi aku tidak dapat mengingat banyak. Walaupun begitu satu hal yang pasti adalah Sachi dan aku tidak memiliki hubungan yang romantis. Kami tidak pernah tidur bersama di tempat tidur yang sama, tidak pernah berpelukan satu sama lain, berbicara mengenai cinta atau bahkan melihat satu sama lain.
Hubungan kami lebih seperti kucing yang hilang yang saling menjilati luka yang lain. Sachi akan sedikit melupakan mengenai ketakutannya karena kata-kataku, dan aku akan bergantung kepadanya untuk melupakan rasa bersalahku karena aku adalah seorang beater.
Benar—Itu karena aku mengacuhkan masalah-masalah dari Sachi sehingga aku menemukan sisi ini dari insiden SAO yang telah berubah menjadi sebuah permainan kematian. Aku secara sistematis megnalahkan monster dengan level rendah yang aku kalahkan selama beta test, terus menaikkan level dan menjaganya dalam batas aman. Aku bukanlah seperti Heathcliff sang Paladin [49], tetapi di dalam ingatanku, life point-ku tidak pernah turun ke daerah berbahaya.
Aku bergantung kepada sumber daya yang luas yang aku dapat dengan mudah. Ketika aku mengetahui—bahwa ada banyak pemain yang takut akan kematian seperti ini, aku akhirnya menemukan sebuah cara untuk menghilangkan rasa bersalahku. Tentu saja, cara itu adalah untuk terus melindungi Sachi dan para anggota Black Cats.
Untuk kepuasanku sendiri, aku lupa bahwa aku menyembunyikan levelku sebelum memasuki guild ini, melupakan ingatan bahwa aku adalah yang pada akhirnya menjadi orang yang melindungi mereka, melatih mereka untuk menjadi sebuah guild tingkat atas. Setiap malam, aku akan berada di sisi tempat tidur, menenangkan Sachi yang meringkuk dalam kecemasan, mengatakan kepadanya 'kamu tidak akan mati, kamu tidak akan mati, kamu akan terus hidup' seperti sebuah mantra. Setelah aku mengatakan hal itu, Sachi akan menunjukkan sebuah senyum sedikit dari balik selimut, menatapku dan memasuki tidur yang ringan.
Akan tetapi, Sachi tetap meninggal pada akhirnya.
Kurang dari sebulan setelah malam itu di tempat pembuangan air, dia terbunuh secara kejam oleh seekor monster di depanku, dan seluruh tubuh dan jiwanya semuanya tersebar.
Pada hari itu, Keita ingin membeli sebuah rumah sebagai rumah untuk guild kami, membawa seluruh uang yang akhirnya kami kumpulkan dan pergi menemui para pemain yang bekerja di bidang penjualan bangunan. Sachi, aku dan ketiga anggota lainnya sedang tertawa sementara kita sedang melihat kolom barang bersama dari anggota guild yang tidak memiliki item satupun didalamnya sementara kita menunggu Keita untuk kembali. Tetapi setelah beberapa saat, pengguna gada Tetsuo itu berkata,
“mari pergi ke dungeon sebelum Keita kembali, mengisi kolomnya dan menakutinya."
Kelima dari kami memasuki dungeon yang tidak pernah kami masuki sebelumnya, sebuah dungeon yang berada hanya tiga lantai di bawah garis depan yang sekarang. Tentu saja, aku pernah bertarung di tempat itu sebelumnya, dan aku tahu bahwa tempat itu adalah sebuah tempat yang mudah untuk mendapatkan uang tetapi memiliki banyak sekali jebakan. Akan tetapi, aku tidak memberitahu mereka mengenai itu.
Di dalam dungeon, level kami masih berada di dalam area aman, jadi perburuan kami berjalan mulus. Setelah satu jam, kami mendapatkan sejumlah uang yang kami tentukan, dan ketika semuanya sedang bersiap untuk kembali dan membeli barang-barang, salah satu anggota yang merupakan seorang pencuri menemukan sebuah peti harta.
Pada saat itu, aku dengan keras berpendapat untuk mengacuhkannya. Tetapi ketika aku ditanyai mengenai alasannya, aku tidak dapat mengatakan bahwa tingkat kesulitan dari perangkapnya telah meningkat setingkat mulai dari lantai ini, dan hanya dapat berkata terbata-bata dan menekankan bahwa peti itu terlihat berbahaya.
Perangkap alarm-nya berbunyi dengan keras, dan para monster bergerak menuju ruangan seperti sebuah gelombang pasang. Segera sesudah mengetahui bahwa keadaannya sedang berbahaya, aku segera berkata kepada semuanya untuk menggunakan jalan keluar darurat untuk melarikan diri. Akan tetapi, ruangan itu didesain sebagai sebuah tempat dimana kristal tidak dapat digunakan—pada saat itu, semua orang, termasuk aku, pada akhirnya menjadi panik secara ringan maupun berat.
Yang pertama mati adalah pencuri itu yang mengaktifkan alarm-nya. Lalu, si pengguna gada Tetsuo, dan pendekar tombak pria di belakangnya.
Karena panik, aku terus menerus mengayunkan teknik pedang tingkat tinggi yang aku sembunyikan dan membunuh gelombang demi gelombang dari para monster. Tetapi mereka berjumlah terlalu banyak, dan aku tidak memiliki kesempatan untuk menghancurkan peti harta yang terus berbunyi.
Sementara HP dari Sachi benar-benar menghilang setelah dikelilingi oleh sekumpulan monster, dia meraihkan tangan kanannya kepadaku seakan-akan dia ingin mengatakan sesuatu. Kedua mata yang melebar itu masih menunjukkan sebuah warna terang yang menunjukkan bahwa dia mempercayaiku, sama seperti setiap malam, sehingga hal ini terasa sangat menghancurkan hatiku.
Aku tidak dapat mengingat bagaimana aku selamat. Setelah aku pulih, kumpulan monster dan keempat temanku tidak berada di dalam ruangan itu. Tetapi bahkan dalam situasi itu, HP bar-ku menurun hingga sekitar setengahnya.
Tidak dapat berpikir, aku dengan hampa kembali ke penginapan.
Keita, yang meletakkan kunci rumah guild yang benar-benar baru di atas meja dan menunggu kami kembali, mendengarkan ceritaku—bagaimana keempat dari mereka meninggal, bagaimana aku selamat, dan menatapku tanpa ekspresi. Dia berkata kepadaku mengenai bagaimana beater sepertiku tidak memiliki hak apapun untuk bergabung dengan mereka.
Dia berlari keluar dari kota di Aincrad, dan kemudian melompati pagar tanpa keraguan sementara aku mengikutinya dari belakang, menuju kedalam kehampaan tiada akhir.
Apa yang Keita katakan adalah kenyataannya. Hal itu tidak dapat diperdebatkan. Itu adalah kesombonganku yang membunuh keempat anggota dari Black Cats of the Full Moon—bukan, 5. Bila mereka tidak pernah bertemu denganku, mereka akan terus berada di daerah tengah yang aman, dan mereka tidak akan memicu apa yang ternyata adalah sebuah perangkap.
Untuk bertahan hidup di dalam SAO, apa yang kita butuhkan bukanlah refleks ataupun jumlah secara angka dalam level, tetapi informasi yang memadai. Aku menaikkan level mereka dengan efisiensi yang tinggi tetapi tidak memberitahukan kepada mereka informasi. Itu adalah sebuah tragedi yang aku sebabkan dengan kedua tanganku, dan aku sendirilah yang membunuh Sachi yang telah aku janjikan untuk aku lindungi.
Mengenai apakah dia ingin untuk mengutukku dengan kejam pada saat terakhirnya, aku harus menahannya. Alasan mengapa aku terus menerus mencari mengenai revival item yang dirumorkan adalah hanya untuk mendengar kata-kata itu.
Sumber : http://www.baka-tsuki.org/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar