Bagian 3
Selama empat hari yang tersisa sebelum Natal, levelku naik sekali lagi, menjadi 70.
Selama masa ini, aku tidak tidur sedikitpun. Ini adalah harganya. Kadang-kadang aku merasakan sakit kepala yang menusuk, seakan-akan aku tertusuk oleh paku, tetapi aku merasa bahwa bahkan bila aku berbaring, aku tidak akan dapat tertidur.
Semenjak perjumpaan itu, guild Fuurinkazan dari Klein tidak pernah berada ke lembah semut ini lagi. Aku terus menerus mengantri dengan guild-guild lainnya, memburu semut-semut mekanis itu sendirian. Ekspresi wajah dari para pemain yang melihat mataku juga pada alhirnya berubah dari mengejek menjadi jijik. Walaupun masih ada beberapa pemain yang merespon sapaanku, segera setelah siapapun memasuki lapangan pandangku, wajahnya akan segera berpaling dariku.
Diantara sekelompok pemain yang targetnya adalah hadiah Natal itu, pertanyaan terbesarnya adalah dimana pohon fir[50] raksasa dimana «Nicholas the Renegade» akan muncul di bawahnya—mengenai pertanyaan ini, aku memanfaatkan waktu menunggu di lembah semut itu, dan mendapatkan sebuah jawaban yang hampir pasti.
Aku telah pergi ke semua koordinat yang aku beli dari berbagai usaha inteligen, tetapi walaupun dari luarnya mereka tampak seperti pohon Natal, tetapi mereka ternyata bukanlah pohon fir, tetapi pohon pinus[50]. Daunnya yang seperti duri yang ada di pohon pinus tidak sama. Bagian depan dari daun fir berbentuk oval tipis dan memanjang. Karena di dunia nyata aku telah melihat kedua tipe pohon ini di halaman belakangku, aku mengetahuinya.
Beberapa bulan yang lalu, aku berada di area latihan di lantai tiga puluh tiga dimana terdapat sebuah dungeon yang mentransfer pemain secara acak yang dinamakan "Lost Forest", dan di sebuah ujung tertentu dari hutan itu aku menemukan sebuah pohon raksasa yang berlekuk. Aku merasa bahwa terdapat beberapa arti tersembunyi dari bentuknya, mungkin tempat mulai dari sebuah tugas yang tidak diketahui jadi aku dengan teliti menyelidikinya, tetapi tidak menemukan apa-apa. Bila aku meninjau ulang, pohon raksasa itu adalah sebuah pohon fir. Pada malam Natal– yaitu, malam ini, sebuah monster spesial bernama «Nicholas the Renegade» akan muncuk di bawah pohon itu.
Aku mendengarkan suara yang menandakan bahwa aku sekarang level 70 tanpa perasaan apapun, dan setelah gerombolan semut di dekatku sudah dibereskan, aku mengambil dari tasku sebuah teleport crystal. Tanpa menyapa para pemain yang sedang mengantri, aku langsung pergi ke lantai di garis depan dimana aku menginap, di jalan utama lantai ke-empat-puluh-sembilan.
Aku mengangkat kepalaku untuk melihat menara jam di gerbang alun-alun kota, untuk melihat bahwa masih ada tiga jam sebelum tengah malam. Mungkin karena mereka ingin menghabiskan malam natal bersama, di dalam alun-alun penuh dengan pasangan pemain. Aku dengan cepat melewati mereka untuk kembali ke tempatku menginap.
Berlari ke ruanganku sendiri, aku segera membuka tempat penyimpanan yang dipasang di dalam ruangan, mengambil dari item window yang muncul semua kristal pemulihan, detoksifikasi dan potion dan semacamnya. Walaupun ini semua sudah berjumlah besar dalam perhitungan neraca keuanganku, aku tidak akan merasa kasihan bahkan bila mereka semua terpakai.
Segera sesudah aku mengambil sebuah pedang satu-tangan dari koleksiku, menegaskan kembali durabilitasnya, aku mengambil pedang di punggungku yang sebelumnya aku gunakan untuk melawan semut-semut itu dan menukarnya. Lalu aku juga menukar mantel kulit dan pelindungku dan semuanya yang aku pakai dengan item baru. Ketika aku telah selesai, aku baru saja akan menutup window-nya ketika aku melihat inventory-ku dan menghentikan tanganku.
Di sana, sebagai tambahan dari milik «Sendiri» yang tertulis disana, inventory page milikku, terdapat label lain yang tertulis dengan nama «Sachi».
Ini adalah hasil dari hubungan yang sangat baik antara dua pemain, tetapi tidak berlanjut ke dalam «Pernikahan» —pemain seperti mereka menentukkan item window bersama mereka. Hal ini berbeda dengan bagaimana semua item di dalam pernikahan digunakan bersama dimana hanya item yang ditaruh di dalam window yang berbeda ini yang digunakan bersama.
Sachi, yang tidak pernah meminta untuk pengakuan cinta atau untuk berpegangan tangan sebelumnya, meminta pada tak lama sebelum kematiannya untuk membuat window ini. Ketika aku bertanya mengenai alasannya, dia memberikan sebuah jawaban yang sulit diterima, yaitu untuk dengan mudah bertukar healing potion dan item yang serupa—bila ini adalah maksudnya, disana dengan jelas terdapat sebuah window di dalam guild yang terbuka yang dapat digunakan untuk itu. Tetapi meskipun demikian aku setuju, dan mengatur window ini untuk berbagi hanya antara Sachi dan aku.
Walaupun Sachi meninggal, window ini masih ada. Tentu saja, daftar temannya akan tetap memiliki nama Sachi, tetapi namanya akan berwarna abu-abu karena dia tidak dapat dihubungi. Dan beberapa healing potion yang tersisa di dalam inventory yang digunakan bersama, ini juga tidak akan digunakan. Setelah setengah tahun, walaupun halaman guildnya terhapus tanpa perasaan apapun, aku tidak dapat menghilangkan label dengan nama Sachi di dalamnya. Tentu saja—alasannya bukan karena aku percaya bahwa dia dapat dihidupkan kembali—Aku hanya tidak dapat memaafkan diriku sendiri yang akan dapat merasa lebih baik setelah menghapus namanya.
Aku baru pulih dan menutup window-nya setelah melihat nama Sachi selama sepuluh menit. Sekarang adalah dua jam sebelum tengah malam.
Sementara aku berjalan keluar dari ruangan dan menuju ke arah transfer gate, aku terus berpikir mengenai ekspresi wajah Sachi pada saat terakhirnya, apa yang dia pikirkan, dan, apa yang sebenarnya dia ingin katakan.
Berpindah ke gerbang yang ada di lantai ke-lima-puluh-lima, aku datang ke alun-alun yang benar-benar berbeda dengan kota yang sebelumnya ataupun di garis depan, sebuah alun-alun yang sangat sepi. Mungkin karena masih ada jarak antara tempat ini dengan daerah pertempuran utama dari pemain tingkat menengah, area jalan utamanya secara sederhana tidak cukup berharga untuk dipakai jalan-jalan. Tetapi tetap saja, aku tetap menarik kerah dari mantelku keatas untuk menghindari mata dari beberapa pemain yang ada di area, dengan cepat meninggalkan jalan.
Tidak ingin menghabiskan waktu melawan musuh yang lemah, aku mulai berlari setelah memeriksa bahwa tidak ada yang mengejarku dari belakang. Dengan level yang berhasil aku dapat selama satu bulan terakhir, agility-ku meningkat banyak, dan kedua kakiku yang menapak salju terasa seringan bulu. Rasa sakit yang menusuk yang datang dari pelipisku tidak pernah menghilang, tetapi hal itu menyebabkan pikiranku tidak dapat tidur sama sekali.
Setelah sekitar 10 menit berlari, aku tiba di pintu masuk dari forest maze. Dungeon yang ada di medan ini terpisah menjadi berbagai poligon berujung 4, dan karena setiap areanya saling berhubungan, dapat dikatakan tidak mungkin untuk dapat menembusnya tanpa peta.
Setelah membuka peta, aku menatap ke arah area yang ditandai dan yang telah aku lalui. Setelah mengingat jalurnya di dalam pikiranku, aku berangkat sendirian ke hutan yang sunyi itu.
Setelah dua pertarungan yang tidak dapat aku hindari, aku memasuki area di depan semua pohon yang berada di sekitar sasaran tanpa kesulitan apapun. Masih ada lebih dari tiga puluh menit tersisa.
Lalu, aku akan bertarung dengan monster bos sendirian yang mungkin akan mengambil nyawaku—sebuah kemungkinan yang tinggi untuk itu. Aku tidak dapat merasakan rasa takut apapun didalamku. Sebaliknya, mungkin ini adalah apa yang aku harapkan. Untuk mati di dalam pertarungan untuk menghidupkan kembali Sachi mungkin adalah satu-satunya jalan aku dapat menerima kematian—
Aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang heroik seperti aku mencari tempat peristirahatanku. Aku menyebabkan Sachi dan keempat temanku yang lain untuk mati tanpa arti, dan aku tidak memiliki hal apapun untuk mencari sebuah kematian yang berarti.
Apa gunanya melakukan hal ini? Sachi sebelumnya bertanya kepadaku. Dan aku menjawabnya, tidak ada gunanya.
Sekarang ini, aku akhirnya dapat mengubah kata-kata itu menjadi sebuah kenyataan. Sachi meninggal tanpa arti di dalam permainan kematian SAO ini yang tanpa arti yang dibuat oleh orang jenius yang gila Kayaba Akihiko itu. Dengan itu, aku akan mati di sebuah tempat yang tidak akan diketahui orang lain, tidak diingat oleh siapapun, dan untuk meninggal tanpa arti seperti itu.
Bila, aku mengalahkan bosnya dan hidup, revival item itu akan berubah dari sebuah rumor menjadi sebuah kenyataan. Itu adalah apa yang aku pikirkan. Jiwa Sachi akan kembali dari jalan kematian atau Sungai Styx, dan kemudian aku akhirnya dapat mendengar kata-kata terakhirnya. Akhirnya—pada akhirnya, biarkan aku menunggu untuk saat ini...
Tepat ketika aku sudah siap untuk melangkah ke depan dan selesai menjalani beberapa meter terakhir, beberapa pemain muncul dari warp point di belakangku. Aku melompat mundur karena kaget sementara aku memegang pangkal pedang yang ada di belakangku.
Apa yang muncul adalah sebuah grup yang terdiri dari 10 orang, dan berdiri tepat di depan mereka adalah seorang samurai dengan pelindung ringan, sebuah katana di pinggangnya, dan sebuah ikat kepala—Klein.
Anggota utama dari guild Fuurinkazan masing-masing terlihat gelisah sementara mereka bergerak mendekat ke arahku dari warp point yang ada di belakang mereka. Aku terus melihat wajah Klein dan mengeluarkan sebuah suara yang serak.
“…Apakah kamu mengikutiku?"
Klein memegang rambutnya yang menjadi tegak karena bandanna itu dan mengangguk.
“Yah.Kami memiliki seseorang dengan keahlian melacak yang baik."
“Mengapa aku?"
“Karena aku membeli informasi bahwa kamu membeli semua koordinat pohon, dan untuk alasan keamanan, aku berangkat untuk melihat dari gerbang penjaga di lantai ke-49, tetapi mengetahui bahwa kamu sedang bergerak ke arah lantai dimana tidak ada informasi sama sekali. Aku merasa bahwa kemampuan bertarungmu dan insting pemainmu sangat kuat, lebih kuat dari grup penyelesai... bahkan lebih dari Heathcliff. Jadi, Kirito, kamu tidak boleh mati di tempat seperti ini."
Klein mengulurkan tangan kanannya, menunjukkan jarinya kepadaku dan berteriak,
“MENYERAHLAH MENGENAI SERANGAN SOLO YANG GEGABAH ITU DAN BERKELOMPOKLAH BERSAMA KAMI! BIARKAN ORANG YANG MENDAPAT REVIVAL ITEM DROP ITU YANG MENYIMPANNYA, OKE!?"
“…Bila begitu..."
Aku tidak dapat percaya bahwa Klein mengatakan hal itu kepadaku karena dia melihatku sebagai seorang teman, bahwa dia mengkhawatirkanku.
“Bila begitu, tidak ada gunanya... Aku harus menyerang seorang diri..."
Aku menggenggam erat pangkal pedangku, dan pikiranku terbakar oleh kegilaan dan entah bagaimana tanpa sadar berpikir.
—Mari bunuh saja semuanya.
Di masa lalu, ketika permainan kematian ini dimulai, aku meninggalkan Klein, pemula ini yang tidak tahu apa-apa, dan pergi ke kota berikutnya. Aku menyesali hal ini untuk waktu yang lama, dan lega karena Klein dapat terus hidup dengan cara seperti itu.
Pada saat itu, aku benar-benar bertanya-tanya, apakah aku harus mencapai tujuanku bahkan bila aku harus membunuh satu dari teman-temanku yang sedikit ini dan jatuh sebagai seorang pemain merah? Hatiku dengan lemah berteriak bahwa hal ini tidak ada gunanya, tetapi terpukul mundur secara mutlak oleh sebuah raungan yang sangat keras.
Aku benar-benar percaya bahwa bila aku sedikit saja menghunus pedangku kemudian, aku tidak akan dapat menghentikan diriku sendiri mulai dari saat itu. Dan Klein sedang melihatku dengan sedih sementara tangan kananku gemetar dan terus berusaha menolaknya.
Pada saat itu, sebuah grup ketiga pengganggu datang.
Juga, grup ini bukanlah sebuah grup yang hanya beranggotakan 10 orang, tetapi sekitar tiga kalu kelompoknya. Aku menatap dengan kosong kepada kelompok besar itu dan menggumam kepada Klein, yang berbalik dengan sikap terkejut yang serupa,
“Kelihatannya kalian juga diikuti, Klein."
“…Ahh, kelihatannya begitu..."
Di perbatasan yang kelihatannya sekitar 50 meter jauhnya, terdapat orang-orang yang baru saja aku lihat di bukit semut, dengan diam menatap kepada Fuurinkazan dan aku. Pendekar pedang Fuurinkazan yang berdiri disebelah Klein menyondongkan diri ke sebelah wajah pemimpinnya dan berbisik,
“Mereka adalah orang-orang dari «Divine Dragon Alliance», sekelompok orang yang dapat menjadi pemain oranye hanya untuk menyerang flag boss."
Aku sering juga mendengar nama itu. Nama mereka sama terkenalnya dengan Knights of the Blood, guild terbesar diantara grup penyelesai. Masing-masing dari mereka seharusnya berada di bawahku dalam level, tetapi aku tidak percaya dapat mengalahkan orang sebanyak itu.
Tetapi—mungkin hasil akhirnya akan sama.
Tiba-tiba aku merasa bahwa entah aku dibunuh oleh monster bos atau sebuah guild, itu semuanya adalah sias-sia. Tetapi, setidaknya itu adalah sebuah pilihan yang lebih baik daripada bertarung melawan Klein, bukan?
Aku memutuskan untuk menghunus pedang dari punggungku. Aku bahkan malas untuk berpikir. Aku hanya perlu menjadi seperti robot dan terfokus untuk mengayunkan pedangku, menghancurkan semua yang ada di depanku hingga aku hancur.
Akan tetapi, teriakkan Klein menyebabkan tanganku terhenti.
“TERKUTUK! PARA BAJINGAN ITU!"
Pengguna katana itu menghunus senjata di pinggangnya lebih cepat dari aku dan menggeram kepadaku dari belakang.
“Pergi kesana, Kirito! Serahkan hal ini kepadaku! Pergi kalahkan bos-nya! Tetapi aku tidak akan membolehkanmu untuk mati! Aku tidak akan memaafkanmu bila kamu berani untuk mati di depanku! Tidak akan pernah!"
“…”
Tidak ada banyak waktu yang tersisa. Aku membalikkan punggungku kepada Klein dan memasuki warp point terakhir tanpa berkata terima kasih.
Pohon-pohon fir yang besar itu, lokasi yang aku ingat, dan lekukan dari ingatan-ingatanku, mereka semua berada di situ membisu. Kelihatannya tidak ada area bersisi 4 dengan pepohonan lainnya karena datarannya bercahaya dengan salju yang putih murni, dan kelihatan seperti tanahtandus dimana semua kehidupan telah sirna.
Sementara timer yang berada di ujung mataku mencapai angka nol, sebuah alarm terdengar entah dari mana, dan aku menengadahkan kepalaku dan melihat di atas puncak pohon.
Langit yang hitam kelam, atau bisa dibilang, dari dasar dari lantai atas sebagai latar belakang, garis-garis cahaya itu terus menerus mendekat. Melihat lebih dekat ke arah hgaris-garis itu, aku menemukan bahwa itu adlah seekor monster berbentuk aneh yang menarik sebuah kereta luncur raksasa.
Ketika kereta itu mencapai puncak pepohonan, sebuah bayangan hitam terbang turun dari kereta luncurnya, dan aku mundur beberapa langkah.
Apa yang mendarat dengan keras dan menyebarkan salju adalah seekor monster yang 3 kali ukuranku. Monster itu masih memiliki penampilan seperti manusia, tetapi kedua lengannya sangat panjang, dan karena tubuhnya membungkuk ke depan, kedua lengannya hampir menyentuh tanah. Kedua mata merah kecilnya bercahaya di bawah tonjolan yang abnormal dari kening bayangan itu. Bagian bawah dari wajahnya penuh dengan janggut ikal berwarna abu-abu, dan panjangnya mencapai pinggang.
Anehnya, monster ini memakai sebuah kemeja berwarna merah dan putih, sebuah topi berbentuk kerucut yang berwarna sama, membawa sebuah kapak di tangan kanannya, dan sekantong besar penuh barang-barang di tangan kirinya. Orang yang mendesain monster ini mungkin ingin membuat sekelompok besar pemain untuk takut tetapi terhibur ketika mereka melihat versi yang sangat jelek dari seorang bos Sinterklas. Tetapi untukku yang melawan «Nicholas the Renegade» ini seorang diri, penampilan dari bosnya tidak penting.
Nicholas mungkin akan memulai kata-kata untuk misi ini sementara dia bersiap menggerakkan janggutnya yang bertautan.
“Diam!"
Sementara aku menggumamkan hal ini, aku menghunus pedangku, dan kaki kananku menjejak keras lapisan tebal salju.
Sumber : http://www.baka-tsuki.org/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar