Sentuhan dingin di jemarinya membuat tangannya merinding, namun Asuna menahannya.
Di tengah sangkar burung terdapat ranjang besar. Oberon berbaring di ranjang dengan toga longgar hijaunya, ia mengambil tangan kiri Asuna dan membelai kulitnya dengan Asuna duduk di sampingnya menghadap ke lain arah. Ia menikmati situasi dimana dia bisa menyerangnya kapanpun dia mau. Wajahnya yang tampan sempurna memiliki senyum palsu yang melekat padanya.
Beberapa saat yang lalu, Oberon memasuki sangkar dan berbaring di ranjang, dan memberitahu Asuna untuk datang ke sisinya. Asuna tak ingin apa apa dengan pria ini dan menolak, namun melihat tangannya memanipulasi sesuatu, Asuna merasakan bahaya mengarah padanya.
Ia masih mencoba melawan rasa jijiknya dan patuh; pria itu memiliki perubahan mood yang aneh, namun Asuna takut kalau kebebasannya akan semakin dirampas, namun, Oberon justru menantikan perlawanan Asuna. Dia ingin mencicipi penolakan Asuna padanya, sebelum memakai hak administrator untuk mengekang pergerakannya. Asuna setidaknya ingin mempertahankan kebebasannya di dalam sangkar. Sehingga untuk kabur dari sana adalah mustahil.
Namun ada batasnya. Kalau ia berani menyentuh tubuhnya, Asuna akan segera memukulkan tinju ke wajahnya. Namun Asuna tak bereaksi; tak peduli berapa kalipun Oberon membelainya, tubuhnya seperti batu. Melihat itu, Oberon kecewa karena tak bisa membuatnya marah, dan melepaskan tangannya.
“Oh oh, ternyata kau perempuan yang keras kepala.”
Oberon mengatakan itu dengan kecewa. Asuna merasa terpukul bahkan oleh suaranya, karena itu adalah replika sempurna dari Sugou, sehingga hal ini membuatnya semakin tidak suka.
“Yang jelas, tubuh ini palsu. Apapun yang kulakukan takkan menyisakan luka. Berada di tempat seperti ini sepanjang hari, tidakkah kau bosan? Hei, tidakkah kau ingin sedikit bersenang senang?”
“Kau sepertinya tak paham juga. tak masalah meski tubuh ini adalah daging dan darah, atau virtual; ini adalah kenyataan, setidaknya untukku.”
“Apa kau ingin berkata kalau pikiran akan menjadi kotor?”
Tawa Oberon yang seperti kakatua muncul dari tenggorokannya.
“Yang pasti, sampai aku mengamankan posisiku di RECTO, aku takkan membiarkanmu keluar. Jadi kupikir kau harus bijaksana untuk memahami maksudku. Sistem ini sebenarnya sangat kuat, apa kau paham?”
“Aku tak tertarik. Dan aku tak ingin disini selamanya......dia pasti akan datang menolongku.”
“Eh? Siapa? Dia? Pahlawan, Kirito?”
Mendengar namanya, tubuh Asuna sedikit bergetar. Oberon tertawa dan berdiri. Sepertinya dia berhasil menemukan tombol untuk menghancurkan hati Asuna.......dan dia mulai berkoar koar.
“Nama aslinya adalah Kirigaya Kazuto kan? Aku menemuinya, berhadap hadapan beberapa hari yang lalu.”
“!!”
Setelah mendengar itu, Asuna menatap Oberon.
“Oh, anak ingusan itu tak kusangka menjadi pahlawan SAO.......ah, jujur saja, aku tak bisa mempercayainya! Atau karena dia adalah orang semacam itu, yang disebut dengan Fanatik Game!?”
Oberon nampak kegirangan, dan duduk seraya melanjutkan;
“Aku menemuinya.....dan bisa kau tebak dimana? Dia berada di bangsalmu, dimana tubuh aslimu berada. Saat dia duduk di sebelahmu, aku memberitahunya kalau aku akan menikahimu minggu ini. Wajahnya saat aku mengatakan itu sangat menakjubkan! Seperti anjing tanpa tulang, ekspresi ketidakberdayaan yang sangat menyenangkan. Aku merasa ingin tertawa sekeras mungkin!”
Tubuh Oberon berguncang ketika suara tawanya menggetarkan udara.
“Jadi kau benar benar percaya orang itu akan datang dan menolongmu? Mari kita bertaruh, kupikir orang itu takkan lagi punya nyali untuk menyentuh Nerve Gear! Kesempatan dia untuk mengetahuimu berada dalam Game ini juga tipis! Oh iya, aku juga akan memberinya undangan pernikahan. Dia akan melihat bagaimana penampilanmu saat mengenakan gaun pengantin. Kupikir level konflik semacam ini akan membuatnya hancur, sang pahlawan itu!”
Asuna membungkukkan kepalanya sekali lagi, perlahan memalingkan punggungnya ke Oberon, dan melihat cermin besar di samping ranjang. Kemudian dia dengan sedih menjatuhkan bahunya, dengan tangan menggenggam erat kasur.
Melihat Asuna seperti ini, Oberon sangat puas. Asuna menatap cermin saat ia meninggalkan ranjang dan berdiri.
“Pada saat itu, kamera pengintaian sedang mati, jadi sayang sekali aku tak bisa mengambil foto ekspresinya. Aku akan membawanya kalau punya fotonya. Kalau ada kesempatan, akan kucoba lagi lain kali. Itu perpisahan yang diperlukan, Titania, dan meskipun sedikit kesepian, tahanlah sampai besok lusa.”
Setelah tawa terakhir, Oberon berbalik, dan dengan toga berayun, berjalan ke arah pintu.
Di cermin, Oberon perlahan pudar, namun Asuna menyeka air mata kebahagiaan dan mencoba menghibur dirinya.
Kirito-kun! Kirito-kun masih hidup dan baik baik saja!
Sejak terpenjara disini, itu adalah satu satunya kecemasan Asuna. Ketika dia ditransfer ke dunia ini, dia menyangka kalau Kirito telah lenyap dan kesadarannya telah hancur. Tak peduli seperti apapun dia menyangkalnya, pemikiran ini terus menerus meracuni ke dalam pikirannya.
Namun, sekarang, ucapan Oberon mementahkan semua pemikiran itu.
Bodoh, pria itu berpikir kalau dia pandai, namun faktaya, dia tolol. Sejak dulu sudah seperti itu. Ia tak pernah bisa berhenti mengecilkan orang lain dengan ucapannya. Meski dia sering bermain hipokrit di depan orang tua Asuna, di depan Asuna dan kakak laki lakinya, lidah beracun Sugou dalam melawan orang lain selalu digunakan.
Hal yang sama juga terjadi saat ini. Kalau dia memang ingin menghancurkan hati Asuna, dia tak seharusnya memberitahu tentang Kirito di dunia nyata. Dia seharusnya memberitahu kalau Kirito sudah mati.
Kirito masih hidup dan masih sehat di dunia nyata.
Asuna mengulangi satu kalimat itu dalam kepalanya. Tiap kali dia mengulangi itu, cahaya di dalam hatinya menjadi semakin kuat dan lebih stabil.
Kalau dia masih hidup, tak mungkin dia akan duduk diam saja. Dia akan menemukan dunia ini, dia pasti akan datang. Sehingga, Asuna tak mau terus menjadi tahanan. Dia harus mencari tahu apa yang bisa dia lakukan dan mengambil tindakan.
Asuna terus memasang wajah sedih. Melalui cermin, dia bisa melihat kalau Oberon telah mencapai pintu dan berbalik sejenak untuk meliriknya, untuk mengkonfirmasi situasi Asuna.
Pintu itu memiliki lempeng logam kecil dengan dua belas tombol diatur berdampingan. Pintu akan terbuka dengan memasukkan nomor dengan urutan yang tepat.
Itu membuat Asuna keheranan kenapa dia masih melakukan hal merepotkan semacam itu ketimbang memakai hak istimewanya sebagai administrator untuk membuka pintu secara langsung. Ternyata, Oberon memiliki rasa estetika sendiri, dia tak ingin membawa hal hal yang berkaitan dengan sistem kemari. Dia hanya ingin menjadi Raja Peri, dengan Ratu Peri terpenjara untuk dilecehkan.
Itu adalah pagelaran yang bodoh.
Oberon mengangkat tangannya, mengoperasikan di depan pelat logam. Dari tempatnya berdiri, Asuna tak bisa melihat rincian semua tindakannya karena efek jarak sistem, sehingga saat dia menekan tombol, Asuna tak bisa menebak nomor apa itu. Oberon pasti juga sudah memperhitungkan hal itu, bahwa sel dengan kunci semacam itu adalah aman.
Ini benar, bagi pandangan Oberon.
Oberon memakai Nerve Gear untuk tersambung ke dunia virtual, namun waktunya di dunia virtual terbatas. Sehingga, ada banyak hal yang dia tak pahami. Misalnya, di dunia virtual, cermin tak menuruti aturan optik.
Asuna berpura pura menangis, menekankan matanya ke cermin dari jarak dekat. Disana, terpantul dengan jelas, adalah Oberon, imej dengan kejelasan jauh terlalu tinggi. Di dunia nyata, tak peduli betapa dekatnya dirimu dengan cermin kau tak bisa melihat objek yang terlalu jauh. Disini cermin adalah layar resolusi ultra tinggi dan efek jarak tidak berlaku. Sehingga, bahkan aktivitas jemari Oberon bisa terlihat jelas.
Ini adalah ide yang Asuna pikirkan sejak dulu. Namun, saat Oberon meninggalkan penjara, ia tak memiliki kesempatan untuk mendekati cermin. Saat ini, Asuna mampu mengambil keuntungan dari kesempatan ini.
...8...11...3....2....9.....
Asuna melihat dengan seksama pada jari Oberon yang menekan kode, dan Asuna dengan cepat menyimpannya dalam hati. Pintu terbuka, Oberon keluar, dan pintu menutup kembali. Dengan sayap peri gioknya berguncang, dia berjalan sepanjang jalan di atas pohon, sampai akhirnya menghilang.
Asuna tetap berada di tempatnya, menatap pintu pemeriksa di sangkar.
Dia baru bisa mendapatkan informasi sejauh ini:
Ini berada di dalam tipe VRMMO, mirip dengan SAO, bernama «ALfheim Online» dan Game dioperasi secara resmi untuk menarik banyak pemain. Oberon/Sugou menggunakan server ALO untuk mengambil alih sejumlah pemain SAO, sekitar tiga ratus orang, disandera melalui «Pemenjaraan Otak» untuk dipakai sebagai subjek dalam eksperimen manusia. Itu saja.
Saat ditanya kenapa dia melakukan eksperimen berbahaya dan ilegal semacam itu di Game publik Sugou dengan santai berkata “Apa kau tahu berapa banyak uang untuk menjalankan sistem ini? Memerlukan sepuluh juta hanya untuk satu server ini! Dengan begini perusahaan akan tetap untung, dan eksperimenku tetap berjalan, dua burung dengan satu batu!”
Jadi itu semua soal uang, yang sangat bagus untuk Asuna. Kalau ia berada di lingkungan tertutup sempurna, maka tak ada yang dia bisa lakukan. Karena dunia ini memiliki hubungan dengan dunia nyata, maka masih ada harapan.
Sehari dalam Game berlalu lebih cepat dari di dunia nyata, seperti yang Asuna dengar dari Oberon. Perhitungan pastinya sulit, namun kata kata Oberon itu memberinya petunjuk.
Oberon sering berkunjung setiap hari. Saat bisnisnya selesai, dia akan memakai sistem terminal di dalam perusahaan untuk masuk kemari. Asuna tahu kalau dia punya kecenderungan tetap memakai siklus hidup yang ia anggap familiar, sehingga ia tak berpikir kalau jadwalnya pernah berubah. Sehingga, waktu terbaik untuk melakukan sesuatu adalah setelah dia pulang ke rumah untuk tidur.
Tentu saja, ada lebih banyak orang yang berkaitan dengan plot ini daripada dia saja. Namun, ini jelas jelas kriminal, sehingga sulit dibayangkan kalau seluruh perusahaan yang berkaitan dengan ALO juga ikut dilibatkan. Mereka mungkin hanya sejumlah kecil orang, dan semuanya dibawah perintah langsung Sugou. Meski begitu, takkan mungkin memonitor interior ALO sepanjang waktu karena tak seorangpun pegawai mau bekerja semalam suntuk.
Untuk lolos dari sangkar ini, akan sangat perlu untuk menyelinap dari pandangan mereka dan menemukan terminal yang terletak entah dimana dalam sistem. Sekali aku memiliki akses, aku pasti bisa log out, kalau tidak aku bisa mengirim pesan keluar. Asuna berbaring di ranjang, menempatkan wajahnya di bantal, dan menunggu waktu berlalu.
Sumber : http://www.baka-tsuki.org/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar